Dua Rumah Dirusak Massa

Pasca Kericuhan Rutan Surakarta

SM/Sri Hartanto  -  KHATAMAN ALQURAN : Warga binaan yang menjalani penahanan di Rutan Kelas 1 ASurakarta khataman alquran di Masjid An-Nur rutan, pada Jumat (11/1) pagi. (64)
SM/Sri Hartanto - KHATAMAN ALQURAN : Warga binaan yang menjalani penahanan di Rutan Kelas 1 ASurakarta khataman alquran di Masjid An-Nur rutan, pada Jumat (11/1) pagi. (64)

SOLO - Pasca kericuhan di Rutan Kelas IASurakarta, dua rumah warga di Kampung Kepunton dan di Kampung Gandekan, Jebres, Solo dirusak sekelompok massa yang berjumlah kisaran 20 orang. Rumah kontrakan di Kampung Gandekan, terkena lemparan batu hingga kaca jendela pecah.

Adapun yang di Kepunton tidak mengalami kerusakan yang berarti. Wakapolresta Surakarta, AKBP Andy Rifai mengatakan, hingga saat ini pelaku perusakan belum diketahui karena masih dalam penyelidikan.

Perwira menengah berpangkat melati dua di pundak itu meyakini pelaku yang melakukan perusakan adalah mereka yang sebelumnya mendatangi rutan.

Untuk keperluan penyelidikan, lanjutnya, selain mengamankan barang yang rusak, batu yang digunakan, pihaknya juga telah memintai keterangan sejumlah saksi.

Keterangan para saksi yang melakukan perusakan diantara massa yang berjumlah sekitar 20 orang. Pasca keributan di dalam rutan, lanjutnya, napi yang dipindahkan bertambah.

Sebelumnya 12 napi dan tahanan yang dipindah, kemudian bertambah dua napi yang dipindahkan sehingga menjadi 14 napi dan tahanan yang dipindahkan penahanannya di Semarang maupun di daerah lain.

Ditambahkan Andy, kondisi di dalam rutan saat ini relatif aman dan kondusif.

Keempat belas napi dan tahanan yang diyakini terlibat kericuhan telah dipindahkan penahanannya. Bahkan, untuk antisipasi pada Jumat (11/1) rutan tidak menerima pembesuk atau pengunjung.

”Mulai Jumat tidak ada pembesuk yang bisa masuk ke rutan. Rutan akan dibuka lagi menunggu situasinya normal,” ucap mantan Danki Brimob Grogol tersebut.

Larangan bagi pembesuk dibenarkan Kepala Rutan (Karutan) Kelas IASurakarta, Muhammad Ulin Nuha. langkah tersebut diambil agar situasi di dalam rutan tidak ada gejolak lagi.

Keributan yang terjadi berawal dari saling ejek antara warga binaan dengan pembesuk, Kamis (10/1) malam. Insiden tersebut diduga dipicu kesalahpahaman antara penghuni rutan dan pengunjung.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, kericuhan melibatkan sejumlah anggota ormas yang membesuk rekannya yang masih berstatus tahanan dengan narapidana kasus kriminal yang berada di Blok C1.

Petugas keamanan kemudian meminta pembesuk tersebut keluar dan memindahkan tahanan ke ruang Kepala Satuan Pengamanan Rutan.

Sekitar 100 personel kepolisian dari Polresta Surakarta dan aparat TNI tiba ke lokasi mencegah kericuhan agar tidak berlanjut.

Pertebal Penjagaan

Terkait kerusuhan tersebut, hingga Jumat (11/1) Polda Jateng belum menetapkan tersangka. ”Tidak ada tersangka, jadi keributannya itu antara yang di dalam dan di luar Rutan,” ungkap Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Condro Kirono, Jumat (11/1).

Kendati tak menyebut alasan secara detail terkait belum ditetapkannya tersangka, Kapolda menegaskan pihaknya akan mempertebal penjagaan di rutan.

”Kami pertebal penjagaan. Satu pleton Sabhara kami siagakan di sana bergabung dengan Brimob,” ujarnya.

Meski, lanjut dia, kondisi di Rutan tersebut sudah kondusif pasca kerusuhan tersebut. ”Sudah kondusif, yang melakukan keributan juga sudah dipindahkan,” jelasnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas I Semarang (Lapas Kedungpane), Dadi Mulyadi mengaku pihaknya belum menerima narapidana pindahan dari Rutan Kelas IA Surakarta.

”Sampai saat ini, Lapas kami belum menerima pindahan dari Solo,” kata Dadi kepada Suara Merdeka, Jumat (11/1). (G11,K44,ftp-64)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar