Ellen Kristi

Anak Home Schooling Bisa Bersaing

TIAP orangtua menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya. Beragam cara pun ditempuh demi mendapatkan yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan anak.

Salah satunya melalui home schooling. Ellen Kristi merupakan tokoh penggerak home schooling (HS) sekaligus pemrakarsa metode belajar Charlotte Masondi Indonesia.

Ia tertarik pada pendidikan HS ketika ia menjadi relawan untuk keluarga pemulung di Yogyakarta. Ketika itu, wanita yang dulunya berprofesi sebagai dosen tersebut mengikuti acara yang mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia.

Dan berdasarkan pengalaman pribadinya yang kesulitan mencari sekolah Taman Kanak-kanan yang sesuai untuk anaknya pada 2007, Ellen dan suaminya memutuskan untuk memberikan HS. Ia beranggapan, bahwa keluarga memiliki peran yang paling besar terhadap kemajuan dan karakter anak.

”Saya mulai mengumpulkan informasi dari praktisi-praktisi pendidikan, belajar metodek-metode HS, membaca buku-buku tentang metode HS, sampai akhirnya saya memutuskan memilih metode Charlotte Mason,” ujarnya.

Wanita penyuka lagu-lagu klasik tersebut kemudian membentuk milis atau komunitas Charlotte Mason dan menjadi praktisinya di Indonesia.

Metode Charlotte Mason sendiri tidak hanya berfokus pada kemampuan akademis anak, namun lebih kepada pendidikan karakternya. Sistem belajar yang Ellen berikan pada anaknya pun hanya satu jam setiap harinya, atau istilahnya ”short lessons”.

Meskipun hanya satu jam, tapi anak mendapat dan menyerap banyak pelajaran. ”Ini akan memperhatikan ‘habbit of attention’dan ‘perfection’dari sang anak.

Lebih baik anak hanya belajar lima menit tapi ia konsentrasi penuh dan bisa menyelesaikan dengan benar, daripada belajar selama satu jam penuh tapi tidak bisa berkonsentrasi,” tutur pemilik EIN Institute Semarang tersebut.

Ellen menuturkan, kelebihan dari HS adalah perhatian secara individu lebih besar karena orangtua 100% mendampingi anaknya dalam belajar.

Sehingga orangtua bisa memantau perkembangannya, prosesnya, dan bagaimana anak menyelesaikan tugas-tugasnya. Bagaimana dengan kehidupan sosial sang anak? Tidakkah ia kuatir? Dengan mantap Ellen mengatakan tidak kuatir.

Karena anak didikan HS biasanya memiliki interaksi terhadap berbagai umur, mulai dari orang yang lebih tua, seumuran dan yang lebih muda.

”Penelitian juga membuktikan kalau anak-anak HS memiliki hubungan sosial yang bagus, tidak kalah dengan anakanak yang bersekolah formal,” tuturnya.

Bagaimana dengan ijazah? Ellen mengatakan kalau kekhawatiran atau ‘under estimate’orang pada umumnya terhadap HS adalah anak HS tidak memiliki ijazah.

Padahal, anak HS bisa mendapatkan ijazah layaknya anak yang bersekolah di sekolah formal. ”Pemerintah memang menyediakan tiga jalur pendidikan.

Formal, non formal, dan informal (home schooling). Tiga pilihan tersebut memiliki kualitas yang sama, dan bisa mendapatkan ijazah yang sama karena itu memang hak dari anak,” ujarnya.

Makanya, Ellen tak pernah bosan untuk memperkenalkan metode HS, supaya sekolah informal tersebut tidak lagi dipandang sebelah mata. (Irma Mutiara Manggia-64)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar