Pameran dan Penghargaan

MESKI kegiatan Labora Hujan hanya fokus meneliti dan memproses air hujan menjadi air minum, tidak terduga hasilnya memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat Desa Bunder.

Romo Kirjito bercerita, suatu ketika ada wartawan senior dari Jakarta mengunjungi Labora Hujan di Muntilan dan di Bunder. Melihat bahwa kegiatan itu sangat baik dan berguna bagi masyarakat, maka warga Bunder dan Muntilan diajak ke Jakarta, untuk pameran budaya air hujan. Disebutkan, pameran itu diberi tajuk mentereng, ”Titik Balik Budaya Air Hujan.” Judul itu, kata Romo Kir, sebenarnya berasal dari pengalaman Gunawan dari Desa Bunder. Seorang sarjana itu pada awalnya skeptis. Namun setelah mengalami sendiri manfaat kesehatan air hujan, dia berbalik sikap. ”Dulu air hujan untuk ngombor (minum) sapi. Air tangki yang dibeli dari umbul Kebonarum untuk manusianya. Sekarang, terbalik. Air tangki untuk sapi saya, air hujan untuk saya, manusianya,” kata Romo Kir menirukan ungkapan Gunawan.

Pameran tersebut berlangsung pada 31 Maret sampai 2 April 2015 lalu dan dibuka oleh Sinta Nuriah, istri Presiden ke 4 mendiang Abdurrachman Wahid atau Gus Dur. Dampak dari pameran di Jakarta itu banyak orang berdatangan dari mana-mana ke Bunder, Klaten dan Muntilan untuk belajar Pada sisi lain, kegiatan riset eksperimental air hujan itu dicermati banyak orang.

Tim juri Panitia Penghargaan Kebudayaan Kementerian Pendidikan RI tahun 2016 memutuskan untuk memberi penghargaan kepada Romo Kir. ”Saya pertimbangkan dulu apa alasannya, karena selama ini tidak ada yang menghubungi, survei, dan lainnya, kok tibatiba mendapat pengharg a a n . Ketika dijel a s k a n bahwa salah satu p e r t i m - bangannya adalah penelitian air hujan, maka saya mau menerima,” katanya.

Hal serupa dilakukan oleh Unit Kerja Kantor Presiden Pendidikan Pancasila (UKPPIP) yang dipimpin oleh Yudi Latif. Tim UKPPIPmencari 72 orang dari seluruh Indonesia, di dalam maupun yang di luar negeri, yang memenuhi syarat mendapat penghargaan menjadi ikon berprestasi. Angka 72 itu bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan ke-72, 17 Agustus 2017. ”Lagi-lagi saya menanyakan alasannya. Kalau soal budaya seperti kesenian misalnya, itu tidak tepat untuk saya.

Ternyata alasannya sama, yaitu riset air hujan secara eksperimental untuk menjadi air minum sehat. Saya menganggap itu sebuah dukungan yang positif sekali bagi gerakan Titik Balik Evolusi Budaya Air Hujan,” tuturnya.(Eko Priyono-56)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar