Mengatasi Perut Kembung

Bila mengalami kembung, perut akan terasa membesar. Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, aktivitas pun jadi terganggu. Kondisi perut kembung merupakan gangguan pencernaan, di mana selain terasa tidak nyaman, perut terasa penuh, kencang, dan bergas.

Beberapa gejala lain yang umumnya terjadi pada perut kembung antara lain perut terasa bergejolak, terkadang bisa muncul kram perut, frekuensi bersendawa jadi lebih sering, dan buang angin secara berlebihan. Kondisi perut kembung tersebut terdiri atas dua jenis, yaitu yang berbahaya dan tidak berbahaya.

Dr Agung Prasetyo SpPD KGEH, internis gastroenterologis RSUP dr Kariadi Semarang menjelaskan, penyebab perut kembung yang berbahaya bisa karena gangguan kontraksi, baik kontraksi yang sangat cepat maupun sangat lambat. Kontraksi yang sangat cepat itu bisa karena usus buntu.

”Bisa juga terjadi karena tidak ada kontraksi, misalnya karena infeksi di usus atau karena masalah hormon,” papar Agung. Ia mengatakan, produksi hormon yang jelek itu bisa karena penyakit berat atau karena dosis berlebihan dari konsumsi obat-obatan.

Sementara perut kembung yang tidak berbahaya, bisa karena konsumsi makanan yang banyak mengandung gas atau bagi orang yang menderita maag, penyakitnya tersebut kambuh. Jenis perut kembung yang tidak berbahaya itu bisa hilang atau sembuh dengan sendirinya melalui sendawa.

Bagaimana dengan masuk angin yang dikaitkan dengan perut kembung? Istilah masuk angin dialami karena terjadi gangguan pada orang yang maagnya kambuh. Maag yang kambuh tersebut selain karena faktor makanan, bisa muncul karena kecapaian dan stres. Mengapa? Karena kondisi stres biasanya memicu naiknya asam lambung, sehingga perut jadi kembung.

Penyebab

Beberapa jenis makanan memang bisa menjadi pemicu perut kembung. Supaya tidak terjadi, ada baiknya Anda menghindari makanan-makanan yang memengaruhi sistem pencernaan, yakni makanan berlemak. Lemak atau minyak sulit menyatu dengan air, sehingga lambung bekerja lebih keras untuk mencernanya.

Hal ini biasanya terjadi pada orang yang banyak mengonsumsi makanan bersantan. Begitu pula dengan cara makan yang terlalu cepat. Makan terlalu cepat cenderung mengakibatkan sistem pencernaan melalui enzim jadi terganggu atau tidak bisa bekerja maksimal, sehingga lambung harus mencernanya lebih keras.

Bagaimana dengan makanan pedas? Agung mengatakan, makanan pedas yang dipengaruhi adalah usus. Karena usus terganggu, biasanya menyebabkan diare. Jadi, ciri khas mengonsumsi makanan pedas secara berlebihan adalah gangguan perut kembung yang disertai diare.

Makanan yang mengandung laktosa ataupun gluten, juga dikatakan sebagai penyebab perut kembung. Hal tersebut tidak sepenuhnya tepat, karena hanya berpengaruh pada orang yang intolerance (tidak dapat mencerna) terhadap laktosa ataupun gluten.

Adapun bagi orang yang memiliki penyakit maag, kondisi perut yang kosong bisa menjadi atau berisi udara, sehingag terjadi kembung. Karena itu, orang dengan maag harus selalu makan secara teratur. Sering terpapar angin, terutama angin malam, juga disebut sebagai salah satu faktor pemicu perut kembung.

Agus mengatakan bahwa hal tersebut keliru. Sering terpapar angin malam ataupun sering begadang, misalnya karena pekerjaan, tidak berkaitan langsung dengan perut kembung. Sebab, pemicunya bukan dari angin malam ataupun tidur larut malamnya, melainkan faktor psikis.

Tekanan pekerjaan menyebabkan stres, dan stres memproduksi asam lambung yang tinggi, sehingga terjadi perut kembung. Selain itu, kecenderungan orang yang bekerja lembur adalah merokok, mengonsumsi bir atau minuman beralkohol lainnya.

Hal tersebut dapat menyebabkan produksi asam lambung yang tinggi, perut jadi bergas dan terasa penuh. Jadi, perut kembung terjadi bukan karena terpapar angin malam ataupun begadang. Bagaimana solusinya?

Bagi yang memiliki riwayat maag, tentu harus makan secara teratur. Bagi yang perutnya sensitif terhadap makanan berlemak, berminyak, bersantan, pedas, dan minuman bersoda, tentu harus menghindari atau mengurangi konsumsinya.

Dan bagi yang intolerance terhadap gluten dan laktosa, tentu harus menghindari dengan menggantinya jenis lain. Misalnya tidak bisa mengonsumsi produk susu sapi, bisa menggantinya dengan susu kedelai. (Irma Mutiara Manggia-49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar