Mengenal Parkinson

MANTAN presiden AS George HW Bush atau lebih dikenal dengan julukan Bush Senior, meninggal dunia pada usia 94 tahun pada 30/11 lalu. Presiden AS ke-41 itu disebutkan menderita parkinson dan infeksi yang menyebar ke darah.

Penyakit yang dideritanya itu menyebabkan Bush Senior tak mampu berjalan, sehingga menggunakan kursi roda selama beberapa tahun belakangan. Sedikit menengok ke belakang, pada 2017 Bush sempat dirawat dua pekan karena pneumonia (radang paru-paru).

Bush Senior merupakan salah satu tokoh terkenal yang menderita parkinson, selain sederet namanama terkenal lainnya seperti Michael J Fox dan Muhammad Ali. Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif, dengan ciri-ciri susah menggerakkan anggota tubuh atau memiliki gerakan robot, mengalami kelambatan dalam bergerak, tidak seimbang atau sulit menjaga keseimbangan, tremor, mimik muka menghilang (ekspresi datar atau dikenal dengan istilah face mask), dan bahkan suara yang mengecil. Syaraf yang mengalami degenerasi tersebut dibagi menjadi dua jenis, yakni berdasarkan gen dan lingkungan. Faktor gen, membuat penderita rentan terhadap parkinson. Namun faktor gen hanya memiliki 10% risiko, sedangkan faktor lingkungan 90%.

Adapun faktor pencetus atau risiko seseorang bisa terkena parkinson adalah adanya penumpukan zat beracun dalam tubuh, seperti pestisida atau logam. Bisa juga karena trauma pada kepala, misalnya pasien pernah mengalami kecelakaan sebelumnya. ”Tapi itu semua merupakan faktor pencetus, bukan penyebab seseorang bisa terkena parkinson. Penyebabnya sampai saat ini masih belum pasti dan belum ada obatnya,” tutur dr Elta Diah SpS. Bila belum ditemukan obatnya, bagaimana menangani pasien parkinson?

Elta menjelaskan, pada pasien parkinson, bagian otak yang diserang adalah yang menghasilkan dopamin, yakni hormon yang mengatur gerakan. Dengan demikian, terapi yang dilakukan untuk menggantikan dopamin tersebut.

Banyak Aktivitas

Meskipun begitu, penyakit ini terus berjalan atau semakin memburuk seiring berjalannya waktu. Obat-obatan yang dikonsumsi pun bukan bersifat menyembuhkan. ”Jadi sarannya untuk pasien parkinson, harus selalu beraktivitas. Aktivitas yang rutin bisa memperlambat proses degeneratifnya,” ungkap dosen Fakultas Kedokteran UNDIP Semarang tersebut.

Obat yang dikonsumsi pasien parkinson pun tidak bisa seenaknya dinaikkan dosisnya, meskipun dengan alasan tubuh makin sulit digerakkan. Dengan menaikkan dosis maka progesif penyakitnya jadi lebih cepat. ”Jadi kalau tanpa obat masih bisa menggerakkan anggota tubuh, pasien tidak perlu meminumnya,” jelas Elta.

Kebiasaan yang sering terjadi, bila ada anggota keluarga di rumah yang menderita parkinson, segala kebutuhannya akan dilayani. Bila selalu dilayani, kesulitan menggerakkan anggota badan akan semakin bertambah parah dan makin lama akan mengalami lumpuh total karena tidak pernah digunakan. Jadi, singkirkan iba, karena pasien parkinson harus dibiasakan melakukan gerakan atau aktivitas. Penyakit parkinson, meskipun bersifat degeneratif, tidak bisa secara langsung membuat penderita meninggal dunia. Pasien parkinson biasanya meninggal karena infeksi, infeksi muncul karena tubuh sudah tidak bisa bergerak atau lumpuh. Tubuh yang tidur terus karena tidak bisa melakukan apa pun, rentan terhadap infeksi. ”Jadi, yang menyebabkan penderita meninggal dunia bukan karena parkinsonnya, melainkan komplikasinya,” papar Elta.

Atau bisa juga karena hal lain. Yakni kesulitan menelan pada pasien parkinson stage 4, membuat pasien tidak makan dan minum, sehingga mereka menjadi dehidrasi. Atau tenggorokannya terututup makanan yang tidak bisa ditelan. Karena itu, penting diketahui para anggota keluarganya untuk tidak menjejali pasien parkinson dengan makanan. Karena belum diketahui apa penyebabnya, parkinson hingga kini belum ditemukan obatnya. Terapi yang dilakukan pun bukan yang bersifat mencegah penyakit bertambah parah, melainkan bertujuan supaya pasien parkinson bisa tetap beraktivitas dengan baik. (Irma Mutiara Manggia-49)


Baca Juga
Loading...
Komentar