Jurnalis Ditunggu Buat Karya Menarik

Focus Group Discussion (FGD) Kemenpar-SMSI

SM/Dini Failasufa : MEMAPARKAN MATERI : Ketua PWI Jateng, Amir Mahmud memaparkan materi saaf FGD ”Jurnalisme Ramah Pariwisata di Aston Semarang HOtel and Convention, Jalan MT Haryono, kemarin. (48)
SM/Dini Failasufa : MEMAPARKAN MATERI : Ketua PWI Jateng, Amir Mahmud memaparkan materi saaf FGD ”Jurnalisme Ramah Pariwisata di Aston Semarang HOtel and Convention, Jalan MT Haryono, kemarin. (48)

SEMARANG TENGAH - Indonesia merupakan negara rawan bencana karena berada di pasific ring of fire (cincin api). Pemberitaan-pemberitaan negatif terkait bencana alam di Indonesia seringkali merugikan pasar pariwisata di negara itu.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) ”Jurnalisme Ramah Pariwisata” di Aston Hotel & Convention Center Jalan MT Haryono No 1, Sabtu (24/11).

Kegiatan ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi X DPR Dr Abdul Fikri Faqih, Kepala Disporapar Jateng Urip Sihabudin, Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS, dan Ketua DPD Asita Jateng Joko Suranto. FGD dimoderatori Staf Khusus Kementerian Pariwisata Bidang Media dan Komunikasi, Don Kardono. ”Gerakan jurnalisme ramah pariwisata telah dicanangkan pada 24 Oktober lalu oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya di Jakarta. Namun kegiatan hari ini adalah FGD gerakan jurnalisme ramah pariwisata pertama di daerah. Nantinya, kami akan menggelar FGD tahap dua di Lombok. Setelah itu diharapkan lahir buku pedoman jurnalisme ramah pariwisata,” kata Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata, Guntur Sakti.

SMSI bersama Kemenpar, imbuh dia, akan bergandeng tangan karena pariwisata membutuhkan ruang hidup yang aman dan nyaman. Ini berkaitan dengan pemberitaan yang acapkali berlebihan saat ada bencana, sampai-sampai negara lain merasa perlu mengeluarkan travel advice. Salah satu contoh pemberitaan yang dapat merugikan sektor pariwisata yakni terkait erupsi Gunung Agung di Bali, beberapa waktu lalu. Pemberitaan miring berimbas terhadap penurunan drastis kunjungan di sektor pariwisata Tanah Air, karena banyak wisatawan asing yang membatalkan kunjungannya ke Pulau Dewata.

551 Destinasi Wisata

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, Dr Abdul Fikri Faqih mengatakan, untuk mewujudkan jurnalisme ramah pariwisata, dibutuhkan kesamaan paradigma tentang pariwisata. Antara lain yang bermuatan budaya dan ekonomi kreatif. ”Perlu adanya paradigma baru untuk kemajuan kebudayaan. Budaya menjadi modal dan investasi. Selain itu, Ekonomi kreatif kita luar biasa,” ucap dia.

Kepala Disporapar Jateng, Urip Sihabudin mengajak pelaku wisata untuk memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan wisatawan. Disebutkan ada 551 destinasi wisata di Jawa Tengah, terdiri atas 182 wisata alam, 110 wisata budaya, 146 wisata buatan, 31 minat khusus, 82†lainlain, serta 229 desa wisata. ”Terkait potensi bencana, kami akan mencoba mengimplementasikan penanganan bencana di Tokyo ke sejumlah daerah rawan bencana di Jateng. Karena itu, jurnalisme positif yang objektif, bermakna, dan berimbang sangat diperlukan,” tandas Urip.

Hal itu sejalan dengan yang dikatakan Ketua SMSI, Auri Jaya. Menurut dia, untuk tetap menciptakan pemberitaan yang positif dengan kondisi geografis Indonesia saat ini, menuntut jurnalisme yang ramah pariwisata. ”Ini akan membantu citra baik Indonesia karena berita yang keliru itu cepat menyebar. Dengan adanya crisis centre diharapkan pemberitaan negatif tentang bencana di Indonesia bisa dicegah. Citra pariwisata tidak terpuruk, di sini SMSI berperan sebagai pelopor dibentuknya pecanangan jurnalisme pariwisata. Saat ini, SMSI menaungi 300 media daring yang bulan ini sedang dilakukan verifikasi media-media untuk dewan pers,” jelas dia.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Tengah Dadang Somantri yang mewakili Gubernur Jateng, menyatakan, Jateng saat ini tengah menggenjot industri pariwisata. Hal ini antara lain diwujudkan dalam perbaikan infrastruktur akses pariwisata dan penambahan hotel. ”Saya meminta agar para jurnalis membuat berita yang keren dan isinya enak dibaca, agar masyarakat tertarik untuk lebih tahu seluk beluk wisata alam dan budaya. Saya menunggu kontribusi teman-teman pers untuk kemajuan wisata Jateng dalam berbagai produk,” tandas Dadang. (res-48)


Berita Terkait
Loading...
Komentar