Hamil Sehat di Atas Usia 35 Tahun

Berita kehamilan Meghan Markle, istri dari pangeran Harry, telah resmi dikonfirmasi Kensington Palace atau keluarga Kerajaan Inggris. Berita ini disambut beragam opini, baik ikut bersuka cita maupun menanggapinya dengan beragam pertanyaan atau keraguan, mengingat usia Duchess of Sussex tersebut sudah berkepala tiga. Hamil di usia 38 tahun, membuat perempuan bertanya-tanya, amankah hamil di usia yang tak lagi muda?

Dr Rahmad Rizal Budi Wicaksono SpOG, ahli ginekologi RSUPdr Kariadi Semarang mengatakan, semakin tua usia kita, semakin tinggi risiko terhadap penyakit tidak menular atau penyakit sistemik. Seperti hipertensi atau diabetes mellitus. Karena itu, hamil usia di atas 35 tahun termasuk kehamilan risiko tinggi, karena dari segi usia memiliki risiko terhadap penyakit-penyakit tersebut.

Bila kehamilan berisiko rendah, misalnya dari segi usia masih di bawah 30 tahun, melakukan pemeriksaan bisa dilakukan di puskesmas. Sementara kehamilan berisiko tinggi, harus ke rumah sakit untuk melakukan rangkaian pemeriksaan dan persalinan, karena melalui perhitungan tinggi. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari terjadinya kelainan pada janin. ”Yang perlu diketahui, yang dianggap hamil berisiko (di atas 35 tahun) itu adalah kehamilan pertama. Kalau sudah pernah hamil sebelumnya atau pada kehamilan kedua dan seterusnya, maka yang dianggap berisiko bila berusia di atas 40 tahun,” papar Rahmad.

Bagaimana dengan kenaikan berat badan? Benarkah hamil di atas usia 35 tahun harus lebih mengontrol kenaikan berat badan?

Rahmad menjelaskan, hal itu bergantung pada berat badan (BB) awal sebelum hamil. Maksudnya, dari segi under weight, normal, overweight, dan obesitas. Perempuan berusia di atas 35 tahun biasanya mengalami overweight, sehingga dianggap harus lebih mengontrol kenaikannya. Singkatnya, bila BB normal, selama masa kehamilan BB bisa naik antara 9-15 kg, di mana rata-rata mengalami kenaikan 12 kg. Nah pada perempuan yang overweight, kenaikan BB harus di bawah sembilan kilogram.

Apakah kenaikan BB yang tidak signifikan bisa memengaruhi janin? ”Janin sebenarnya bisa mendapat makan dari cadangan makanan yang sudah ada di dalam tubuh ibunya, jadi tidak 100% bergantung pada seberapa banyak yang dikonsumsi sang ibu. Biasanya bagi yang harus mengontrol BB, disarankan untuk mengonsumsi makanan rendah karbohidrat atau gula,” jelas Rahmad.

Sama seperti kehamilan berisiko kecil, kehamilan berisiko besar pun harus melakukan pemeriksaan gigi, untuk memastikan kondisi gigi benarbenar sehat untuk mencegah terjadinya kelahiran prematur. Meskipun Anda merasa memiliki gigi yang sehat, tetap harus melakukan pemeriksaan untuk memastikannya. Rahmad menyatakan yang paling sering disepelekan adalah infeksi gigi, karena dianggap tidak berkaitan dengan kelahiran bayi prematur. Padahal racun atau kuman-kuman dari infeksi gigi, bisa menyebar lewat pembuluh darah dan memengaruhi rahim serta air ketuban.

Tes NIPT

Meskipun hamil di atas usia 35 tahun memiliki beragam risiko, bukan berarti Anda harus berkecil hati atau merasa tidak boleh hamil. Ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan supaya hamil terasa menyenangkan.

Pertama, lakukanlah pemeriksaan lebih awal atau sebelum hamil. Hal tersebut penting dilakukan untuk mengetahui apakah Anda memiliki penyakit sistemik atau infeksi-infeksi yang tidak diketahui seperti TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes simpleks, dan organisme lainnya termasuk sifilis, parvovirus, dan varicella zoster).

Kedua, mengonsumsi asam folat paling tidak tiga bulan sebelum merencanakan kehamilan, untuk mengurangi risiko cacat pada bayi.

Ketiga, masa kehamilan awal atau trimester pertama merupakan masa paling penting untuk melakukan banyak pemeriksaan, yang dimulai dari minggu kelima atau enam pada kehamilan. Hal tersebut penting untuk memastikan beberapa hal, antara lain mengetahui apakah janin berada di posisi tepat dalam rahim, memastikan kantong kehamilan tidak ada penyakit lainnya seperti kista atau miom, memonitor apakah ada perubahan ukuran janin, atau adanya kelainan kromosom. ”Kalau dari segi usia dan hasil USG dirasa ada hal yang mencurigakan, bisa dilakukan pemeriksaan invasif dari darah plasenta, untuk mengetahui apakah ada kelainan atau tidak,” jelas Rahmad.

Ia menambahkan, jenis pemeriksaan terbaru yang juga bisa dilakukan adalah tes NIPT (noninvasive prenatal testing) yang bisa mendeteksi kelainan pada janin berusia di bawah delapan minggu. Namun tes tersebut masih sangat mahal. Terakhir, mengonsumsi gizi seimbang dan bila perlu suplemen multivitamin serta susu. Pada kehamilan tua (trimester terakhir), konsumsi sayur dan buah sangat penting untuk menghindari sembelit, serta mengurangi asupan karbohidrat. (Irma Mutiara Manggia-49)


Baca Juga
Loading...
Komentar