Tanggap Serangan Fajar

Salah satu pertanyaan yang sering muncul mengenai penyakit tertentu adalah serangan yang datang saat pagi menjelang atau dikenal dengan istilah ”serangan fajar”.

Penyakit stroke misalnya, yang kerap datang menyerang pagi-pagi buta. Apa kaitan antara datangnya fajar dengan serangan penyakit tersebut?

Dr Elta Diah Pasmanasari SpS Msi Med menjelaskan, banyak teori yang mengatakan bahwa stroke jenis tertentu lebih banyak menyerang pada pagi hari.

Namun beberapa teori tidak signifikan alias belum terbukti. “Secara angka, pasien stroke lebih sering mendapat serangan di pagi hari, meskipun stroke bisa menyerang kapan saja, tidak hanya pagi.

Serangan pagi hari itu juga harus dilihat berdasarkan jenis strokenya,” jelas Elta.Lebih lanjut ia menjelaskan, jenis stroke serangan fajar karena stroke sumbatan, yang biasanya terjadi ketika bangun tidur (pagi hari).

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Teorinya adalah sebelum atau menjelang tidur, kecenderungan nafas lebih lambat dan tekanan dalam kepala cenderung lebih tinggi, sehingga kemungkinan terjadinya stroke tinggi.

Hal tersebut juga berkaitan dengan irama tubuh, dan berkaitan pula dengan bekuan darah. Faktor pembeku darah banyak dikeluarkan di pagi hari. Dengan kata lain, darah cenderung mengental di pagi hari, sehingga bisa terjadi stroke karena sumbatan, ataupun terjadi kelainan jantung karena sumbatan.

Elta menegaskan dengan teoriteori tersebut, bukan berarti Anda harus takut, bangun tidur bisa tiba-tiba mendapat serangan stroke. “Harus ada faktor-faktor risikonya, baru seseorang memiliki kemungkinan terkena serangan,” papar neurologis RSUP dr Kariadi Semarang tersebut.

Misalnya diabetes mellitus atau hipertensi, di mana pembuluh darahnya tidak normal karena penyakit tersebut. Zat pengental darahnya tinggi, sehingga bisa terjadi serangan. Hal ini tentu saja pada orang yang sehat tidak berlaku.

Solusi

Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah apakah serangan fajar tersebut bisa dihindari? Apabila Anda memiliki faktor risiko seperti diabetes ataupun hipertensi, maka yang wajib dilakukan adalah mengontrolnya. Mematuhi gaya hidup dan mengatur pola makan yang disarankan untuk menjaga agar dua penyakit itu tetap terkontrol, akan sangat membantu.

Selain itu, melakukan pengecekan kesehatan secara berkala (general check up) pun perlu dilakukan. Paling tidak enam bulan sekali, meskipun merasa kondisi kesehatan sudah normal.

Elta mengatakan, yang paling sering dialami masyarakat, mereka berpatokan pada hasil pemeriksaan terakhir yang menunjukkan angka normal. Kemudian tidak mengatur pola makan, alias makan kembali sembarangan, dengan patokan, “kan, sudah sehat.”

Padahal untuk mempertahankan angka yang normal tersebut dibutuhkan konsistensi menjaga pola makan dan gaya hidup. Atau kebiasaan lainnya, mendapati hasil yang normal pada pemeriksaan terakhir, lalu merasa tidak perlu melakukan general check up selanjutnya.

Mendapati serangan fajar tidak berpengaruh terhadap usia. Karena secara umum, semakin tua usia manusia, risiko terhadap stroke semakin tinggi. Ini karena kondisi pembuluh darah yang semakin tidak elastis. Dan bagi perempuan, dipengaruhi kadar hormon pelindung yang semakin berkurang jumlahnya.

Mengubah gaya hidup sedari usia muda, sangat penting untuk mencegah terserang stroke maupun penyakit lainnya. “Sekarang banyak pasien stroke yang berusia muda, sekitar 30-an, padahal mereka tidak memiliki faktor keturunan. Penyebab utamanya, karena gaya hidup yang tidak sehat,” tutur Elta.

Jadi, ia menegaskan, meskipun Anda tidak memiliki riwayat genetik terhadap stroke, ataupun tidak memiliki faktor-faktor risikonya, penting untuk melakukan tiga hal yang telah disebutkan. Memeriksakan kesehatan secara berkala, memperbaiki gaya hidup, dan rutin berolahraga (Irma Mutiara Manggia-49)


Berita Terkait
Baca Juga
Loading...
Komentar