Mengenal Erythema Multiforme

Sensitivitas kulit kita akan bereaksi bila tubuh mengalami infeksi atau alergi jenis obat-obatan tertentu. Salah satu reaksi kulit yang bisa dipicu dari berbagai hal seperti alergi, infeksi atau vaksinasi tertentu, dikenal dengan nama erythema multiforme (eritema multiform). Seperti apa ciri-cirinya?

Dr Radityastuti SpKK dari RSUP dr Kariadi Semarang menjelaskan, eritema multiform (EM) merupakan kelainan pada kulit yang ditandai dengan ciri khas lesi pada kulit, yang juga disertai kelainan kulit pada area mukosa bibir. Lesi pada EM memiliki bentuk yang khas, terdiri atas tiga zona dengan warna yang kontras, menyebar pada bagian-bagian tubuh tertentu, dan bisa timbul-tenggelam. Zona tengah berbentuk bintik atau lenting yang memiliki mata menyerupai lingkaran target berwarna merah keunguan. Zona luarnya berwarna pucat dan zona paling luar memiliki warna lebih tua.

Pada kulit yang gelap, permukaan lesi tersebut berwarna lebih gelap lagi. Lenting pada zona yang paling dalam tersebut bisa berisi cairan, namun tidak semuanya demikian. “Lesi EM biasanya terletak pada bagian ujung atau area tubuh yang bergerak. Area siku sampai tangan, dan lutut sampai kaki,” jelas Radityastuti.

Adapun kelainan pada area mukosa berupa luka atau sariawan yang muncul pada area sekitar mulut yang mengarah ke pipi. “Munculnya EM juga bisa disertai gejala umum seperti batuk, pilek atau flu dan juga pusing (demam). Tapi kemunculan lesi pada kulit biasanya tidak bergejala,” ungkapnya.

Penyebab dari EM bisa beragam. Mulai dari alergi (termasuk alergi obat), vaksinasi dan infeksi virus. EM yang terjadi secara berulang harus dicurigai adanya virus herpes simplex.

Radityastuti menjelaskan, secara epidemologi EM banyak menyerang pada usia dewasa muda dan remaja, meskipun belum ada penelitian yang memastikan penyebab timbulnya pada usia tersebut. Yang tak kalah penting untuk diketahui, EM bukan penyakit menular.

Sindroma Stevens-Johnson

EM yang terjadi berat atau EM mayor sering dicurigai sebagai sindroma Stevens- Johnson (SSJ). SSJ merupakan kelainan serius dan langka pada kulit, membran mukosa, sekitar kelamin dan mata. Radistyatuti mengatakan, ada dua pendapat mengenai hal tersebut. Beberapa ahli mengatakan memang ada kaitannya antara EM mayor dengan SJJ, karena memiliki gejala yang mirip. Dan beberapa ahli menyatakan bahwa dua penyakit itu memiliki entitasnya masing-masing alias dua penyakit yang berbeda. “Bila ada lesi pada kelamin, biasanya lebih ke arah SSJ. Apalagi bila ada keluhan mata berair, ini lebih cenderung pada gejala dari SSJ,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, EM memiliki perjalanan penyakit yang lebih ringan, sedangkan SSJ lebih berat. Pada EM jarang terjadi kasus yang berat, sedangkan bila pasien didiagnosa SSJ, biasanya memerlukan rawat inap. Bagaimana dengan pengobatan atau terapi EM? Perawatan atau terapi yang dilakukan adalah untuk memperbaiki kondisi umumnya.

Yakni mengobati demam atau batuk pilek yang dialami, serta mengobati infeksi yang terjadi. Obat-obatan yang digunakan adalah obat topical kortikosteroid untuk kulit, dan obat kumur analgetik untuk mengurangi rasa nyeri pada area mulut. Sementara untuk pencegahan, pasien bisa mengonsumsi obat-obatan antivirus untuk mencegah EM datang kembali. Hal tersebut apabila penyebab kemunculan EM karena terpapar virus. Apabila EM terjadi karena reaksi alergi terhadap obat, harus diidentifikasi jenis obat apa yang bisa memunculkan reaksi alergi, lalu pasien disarankan untuk selalu membawa kartu yang disimpan dalam dompet, di mana kartu tersebut menjelaskan bahwa ia memiliki alergi jenis tertentu. (Irma Mutiara Manggia-49)