Diusulkan, Jumat Pagi Tanpa Kendaraan Pribadi

SM/Hendra Setiawan : BERHENTI DI SELTER : BRT Trans Semarang berhenti di Selter Simpanglima, kemarin. (48)
SM/Hendra Setiawan : BERHENTI DI SELTER : BRT Trans Semarang berhenti di Selter Simpanglima, kemarin. (48)

SEMARANG - BRT Trans Semarang yang diluncurkan sejak 2009 lalu, masih belum bisa mengatasi problem kemacetan di Kota Semarang. Usulan Jumat pagi tanpa kendaraan pribadi pun muncul dalam Focus Group Discussion (FGD) Suara Merdeka di Menara Suara Merdeka, Jl Pandanaran 30, Rabu (26/9).

Pengamat Perkembangan Kota Semarang, Hartono mengatakan, hal ini pernah diterapkan kepada pegawai Pemprov Jateng, meski sudah tidak berjalan lagi. Kini, hal tersebut bisa diterapkan bagi pegawai di lingkup Pemkot Semarang.

Selain mengurangi volume kendaraan di jalan, juga bisa memancing pegawai naik BRT. ’’Untuk mendorong masyarakat naik BRT, salah satunya bisa dengan meminta pegawai di lingkup Pemkot Semarang untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi ke kantor. Tapi harus diterapkan dengan serius,’’ ujar pria yang juga Redaktur Pelaksana Suara Merdeka ini, kemarin.

Untuk mendukung kebijakan itu, imbuh dia, jangkauan BRT juga perlu ditambah. Saat ini daerah yang berkembang pesat permukiman ada di bagian tenggara dan barat daya Kota Semarang, BRT perlu menjangkau ke sana. Kemudian operasional BRT juga perlu ditambah. Adapun Pakar Transportasi Unika, Djoko Setijowarno mengatakan, untuk menerapkan hal tersebut, perlu adanya sarana penunjang. Seperti selter yang dekat dengan perkantoran. Kemudian, rute BRT Trans Semarang yang menjangkau permukiman. ’’Dengan dana yang cukup besar, sarana dan prasarana perlu ditambah. Terutama selter yang dibuat tak jauh dari lokasi kantor. Selter dibuat bagus dan nyaman, ketepatan waktu BRT juga perlu dijaga,’’tambah Djoko.

Kepadatan kendaraan

Sementara itu, Ketua Organda Kota Semarang, Bambang Pranoto Purnomo menyatakan, untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalan perlu adanya moda transportasi massal. Namun, jumlah BRTsaat ini masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat.

Di Semarang, dalam sehari ada sekitar 1 juta warga yang menggunakan kendaraan pribadi. Adapun BRT Trans Semarang baru bisa mengangkut 31 ribu penumpang. Selain belum menjangkau seluruh wilayah, juga jumlah BRTmasih terbatas. ’’Saya mencontohkan, sebelum ada koridor I, jumlah BRT yang beroperasi dari Terminal Mangkang ke Penggaron ada 140 bus. Setelah ada Koridor I pada 2009 lalu, kini 140 bus tersebut sudah tidak ada lagi. 140 bus hanya digantikan dengan 25 BRT,’’papar Bambang.

Dia menerangkan, saat ini juga masih ada sekitar 1.000 unit angkot beroperasi. Mereka ada di 10 cabang di 12 jurusan. Sebanyak 75 persen merupakan milik sopir. Harapannya, mereka dapat dilibatkan dalam pengembangan koridor BRTyang terus dilakukan. (K18-48)


Berita Terkait
Tirto.ID
Loading...
Komentar