Belum Bisa Disebut BRT

Trans Semarang Terus Berbenah

SM/Hendra Setiawan : FOTO BERSAMA: Peserta FGD Suara Merdeka berfoto bersama seusai acara di Menara Suara Merdeka, Jl Pandanaran No 30, Rabu (26/9).
SM/Hendra Setiawan : FOTO BERSAMA: Peserta FGD Suara Merdeka berfoto bersama seusai acara di Menara Suara Merdeka, Jl Pandanaran No 30, Rabu (26/9).

SEMARANG - Komitmen dan semangat Pemkot Semarang dalam meningkatkan sistem Bus Rapid Transit (BRT) patut diapresiasi. Meski demikian, masih banyak potensi yang bisa dikembangkan, agar Trans Semarang bisa benar-benar disebut BRT.

Perwakilan Institut for Transportation and Development Policy (ITDP), Failasufa mengatakan, Trans Semarang telah melakukan sejumlah peningkatan pelayanan. Seperti selter yang lebih baik, kemudahan pembayaran melalui online, dan penambahan koridor tiap tahunnya. ’’Namun, bisa dibilang belum bisa masuk kategori BRT seperti di negara-negara lain. Beberapa unsur masih belum masuk, seperti bus yang cepat, nyaman, tepat waktu, infrastruktur, kendaraan dan jadwal,’’ ujar Failasufa dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Suara Merdeka di Menara Suara Merdeka, Jl Pandanaran, Rabu (26/9).

Dia mencontohkan, sarana penunjang masih belum memadai. Salah satunya trotoar yang kurang nyaman bagi pejalan kaki. Padahal, penumpang BRT kebanyakan merupakan pejalan kaki. Meski beberapa selter sudah dibuat lebih baik, namun masih banyak yang kurang nyaman.

Anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang, Untoro Nugroho menambahkan, sejauh ini masyarakat belum bisa mengambil kelebihan saat menggunakan BRT. Karena itu, hingga saat ini, belum begitu besar masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi naik ke kendaraan umum. Waktu dan informasi mengambil peran 70 persen, untuk menarik minat masyarakat naik BRT. Di sisi lain, BRT Trans Semarang belum bisa memenuhinya. Karena belum memiliki jalur sendiri, BRT Trans Semarang masih ikut terjebak kemacetan. Sistem informasi pun masih kalah dibandingkan moda transportasi online.

Adapun kenyamanan dan harga juga mengambil peranan, namun hanya 30 persen. Saat ini, papar Dosen Unnes ini, Trans Semarang sudah berusaha membenahinya. Seperti perbaikan selter, harga terjangkau, dan pembayaran bisa dipermudah menggunakan nontunai. ’’Bila Trans Semarang lebih lancar dan cepat, maka akan semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan moda transportasi ini. Ini akan menjadi nilai tambah bagi masyarakat dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi,’’ ucap Untoro Nugroho.

Selter Jauh

Anggota Bus Mania Community, I Wayan Andama S meminta agar jam operasional BRTditambah. Tidak hanya untuk rute Bandara Internasional Jendral Ahmad Yani- Simpanglima saja, tetapi juga rute-rute lain.

Papan informasi rute, juga perlu ditambah. ’’Jarak antarselter juga terlalu jauh. Padahal, pola masyarakat Semarang, belum terlalu senang berjalan kaki. Pada umumnya masyarakat menginginkan selter yang dekat,’’tambahnya.

Sementara itu, Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Ade Bhakti Ariawan menjelaskan, bahwa saat ini pihaknya terus berbanah. Rencana untuk membuat jalur khusus juga terus dimatangkan. Paling memungkinkan, yakni di Koridor I, Terminal Mangkang-Terminal Penggaron. Pasalnya jalan yang dilewati lebar. Kemudahan dalam pembayaran juga terus dilakukan, terbaru dengan menggandeng aplikasi Gopay. Dalam sehari, peningkatan penumpang bisa mencapai 3.500-4.000 orang. Ini merupakan penumpang baru, di mana mereka sebelumnya belum pernah naik BRT. ’’Sejak bekerja sama dengan Gopay pada awal bulan ini, kini dalam sehari jumlah penumpang rata-rata 31 ribu orang. Sebelumnya pada tahun ini, rata-rata penumpang per hari di angka 26-27 ribu orang. Harapannya, target pendapatan total akhir tahun sebesar Rp 35 miliar bisa terpenuhi,’’ungkap Ade.

Kemudahan pembayaran ini menjadi modal berharga, seiring dengan realiasi jalur khusus BRT. Dia menjelaskan, pendapatan tersebut untuk mencukupi kebutuhan operasional BRT, selain subsidi dari pemerintah. Selain membayar gaji karyawan, juga untuk perawatan selter. (K18-48)


Berita Terkait
Loading...
Komentar