Didik Karakter Anak sejak Dalam Kandungan

Pada era serbateknologi, kita dituntut untuk mampu mengembangkan kemampuan karakter, agar memiliki banyak nilai positif dalam segala aspek kehidupan. Termasuk untuk menghindari masalah psikis yang tidak matang atau mudah stres yang bisa berujung pada depresi. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan karakter dianggap memiliki peran penting.

Apa itu pendidikan karakter?

Sejak kapan harusnya mulai diajarkan? Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan anak untuk membangun karakter pribadi yang baik.

Menurut Prof Dr Dra Hardani Widhiastuti MM, pendidikan karakter penting untuk diajarkan sedini mungkin, bahkan sejak janin masih berada dalam perut. Hal-hal yang dilakukan misalnya jam tidur teratur, pola makan teratur, serta tidak emosional. Dengan demikian, ketika sang bayi lahir, ia sudah terbiasa dengan kedisiplinan yang dijalani oleh sang ibu sejak ia dalam kandungan. ”Pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini tidak hanya mengajari anak supaya ia berperilaku baik, tapi juga mengajari komunikasi yang baik, memiliki tanggung jawab, sehingga ketika dewasa ia menjadi orang yang memiliki integritas,” papar Hardani.

Ia mengatakan, sebagai orang tua harus mencontohkan hal-hal yang baik pada sang anak, termasuk dengan memberikan gizi yang baik kepada mereka. Seiring bertambahnya usia, waktu berada dalam rumah semakin sedikit. Dan begitu frekuensi berada di rumah semakin berkurang, potensi terjadinya konflik dengan lingkungan semakin besar. ”Orang tua harus konsisten dalam hal apa yang diharapkan sang anak dengan yang dilakukan orang tua, karena ini memberi pengaruh terhadap pendidikan karakter anak. Karena bagi anak-anak, orang tua adalah role model. Peran agama juga penting untuk menjaga konsistensi,” jelas Wakil Rektor I Bidang Akademis Universitas Semarang (USM) tersebut.

Efek Psikis

Apa pengaruhnya bila pendidikan karakter tidak diberikan orang tua pada anak? Beberapa efek psikis mungkin terjadi. Dengan tidak adanya konsistensi dalam rumah, ditambah pengaruh lingkungan dan gambaran-gambaran informasi yang viral dan tidak terfilter, serta sangat mudah didapat dari internet, bisa menimbulkan berbagai efek terhadap perkembangan psikis anak ketika ia remaja hingga dewasa.

Pertama, tidak memiliki rasa percaya, baik terhadap orang tua maupun lingkungan.

Kedua, tidak peduli atau masa bodoh terhadap berbagai hal.

Ketiga, tidak memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan pendidikan karakter, karena tidak adanya referensi.

Keempat, menjadi antisosial. Banyak pengaruh dalam perjalanan anak menjadi dewasa. Peran lingkungan memberi pengaruh yang semakin besar seiring bertambahnya usia, kirakira 60% kontribusi yang diberikan. Bila itu negatif, anak bisa menjadi antisosial.

Kelima, kurang atau tidak memiliki integritas; kurangnya tanggung jawab, kejujuran, disiplin, dan komunikasi. ”Hal-hal tersebut seperti penyakit (perilaku) yang dampaknya akan terlihat 20 tahun kemudian. Kalau masa kecilnya tidak diberi pendidikan karakter, baik di rumah, sekolah maupun dalam lingkungannya, efeknya akan terlihat setelah ia dewasa,” tutur Hardani.

Keenam, kurang atau tidak memiliki rasa percaya diri atau merasa insecure. Dosen Fakultas Psikologi USM tersebut mencontohkan, apabila anak terbiasa tidak diperbolehkan mengkritik orang tuanya, terlebih dengan selalu menjawab dengan suara keras atau selalu memarahi anak setiap kali menyampaikan kritiknya, bila setelah dewasa ia dihadapkan dengan lingkungan yang tidak baik, ia akan mudah stres, frustasi, yang bisa membuatnya depresi. ”Sepertinya sepele, tapi efeknya bisa tidak bagus untuk psikis anak. Karena itu, pendidikan karakter harus konsisten diajarkan orang tuanya,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk meminimalisasi kurangnya pendidikan karakter, dukungan orang tua, guru-guru termasuk guru mata pelajaran agama, sangat penting bagi anak. Orang tua pun harus bisa memfilter informasi yang dilihat anak dari media massa dan internet, serta mengatur aktivitas anak dengan memperbanyak kegiatan yang bisa mengembangkan hobinya. Seperti memberinya les menggambar, menari, musik, olahraga, bermain lego, dan sebagainya, sesuai dengan minat sang anak.(Irma Mutiara Manggia-49)