Hati-hati Bila Sering Menghirup Debu

Oleh Irma Mutiara Manggia

SM/dok
SM/dok

Kehidupan sehari-hari kita seolah tidak terpisahkan dari debu. Mulai dari lingkungan rumah, pekerjaan, dan juga di jalan raya. Debu yang terlihat mata ataupun tidak, terdapat pada beberapa tempat yang terkadang kita tidak memperhatikannya.

Debu di rumah biasanya menempel pada perabotan, termasuk sofa dan karpet. Orang yang bekerja pada pertambangan, misalnya batu bara, konstruksi bangunan ataupun jalanan, hingga pekerja pabrik, juga rentan terhadap paparan debu. Kondisi jalanan di Indonesia yang tinggi polusi asap kendaraan bermotor pun membuat kita sangat mudah terpapar debu.

Ada banyak jenis partikel debu yang berbahaya bagi kesehatan yang harus kita ketahui. Berdasarkan erat dan besarnya, dibedakan menjadi partikel besar dan kecil. ”Yang berbahaya adalah (partikel) yang paling kecil, karena bisa merusak saluran nafas paru terkecil, mengendap dan merusak jaringan paru. Sementara yang besar akan berhenti di saluran nafas atas dan akan hilang bila dibatukkan,” jelas dr Fathur Nur Kholis SpPD, staf divisi Pulmonologi RSUPdr Kariadi Semarang.

Adapun berdasarkan bahan asalnya, partikel debu dibedakan menjadi organik, mineral, dan metal. Selain itu juga bisa dibedakan terkait dengan sifat fisika debu tersebut. Misalnya debu tambang atau debu silika yang banyak ditemukan dalam bahan atau material konstruksi seperti beton, batu bata, batuan, pasir, dan tanah liat.

Penyakit yang Muncul

Debu silika terdiri atas dua bentuk, kristal dan non kristal. Bahan yang mengandung silika kristal menjadi berbahaya jika terjadi proses pemotongan, pengeboran, peledakan atau proses lainnya yang menghasilkan partikel berukuran kecil (debu silika). Debu dari serangkaian proses itu membahayakan kesehatan para pekerja di tempat tersebut. Baik debu silika maupun debu tambang, sangat berbahaya bagi kesehatan para pekerja. ”Partikelnya sangat kecil dan dapat menyebabkan proses peradangan pada jaringan paru yang luas dan berakhir dengan terjadinya fibrosis (munculnya jaringan parut) di paru, sehingga paru menjadi kecil, tidak lentur, dan fungsinya sebagai filter oksigen dan karbondioksida menurun,” tutur Nur Kholis.

Akibat paparan berbagai debu itu, tubuh jadi berisiko terhadap berbagai penyakit. Nur Kholis menjelaskan beberapa penyakit yang bisa muncul, yakni pneumokoniosis yang disebabkan debu mineral dari pembentukan jaringan parut. Lalu silikosis, antrakosilikosis, dan asbestosis. Gejalanya berupa sakit paru-paru, namun berbeda dari TBC paru. Untuk memastikannya, Anda harus menjalani serangkaian pemeriksaan dengan dokter yang ahli di bidangnya. Silikosis merupakan penyakit paling penting dari golongan pneumokoniosis. Penyebabnya adalah silika bebas (SiO2), yang terdapat dalam debu yang dihirup ketika bernafas dan ditimbun dalam paruparu dengan masa inkubasi dua hingga empat tahun. Pekerja yang sering terpapar penyakit ini umumnya yang bekerja di perusahaan yang menghasilkan batuan untuk bangunan seperti granit, keramik, tambang timah putih, besi, batu bara, dan lainnya.

Gejala dari silikosis dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Pada tingkat ringan ditandai dengan batuk kering dan terjadi pengembangan paru-paru. Pada lansia didapati hiper resonansi karena emphysema, yakni kondisi paru-paru kronik yang menyebabkan penderitanya bernafas secara pendek. Kemudian tingkat sedang akan terjadi sesak nafas tidak jarang bronchial, ronchi terdapat basis paru-paru. Dan pada tingkat berat akan terjadi sesak nafas yang mengakibatkan cacat total, hipertofi jantung kanan, dan kegagalan jantung kanan. Kedua, anthrakosilikosis, yang merupakan pneumokoniosis yang disebabkan silika bebas bersama debu orang yang batuk. Dan ketiga, asbestosis, jenis yang disebabkan debu asbes dengan masa laten 10 hingga 20 tahun. Asbes merupakan campuran berbagai silikat dan yang paling utama adalah campuran magnesium silikat.

Pekerja yang umumnya terpapar penyakit ini adalah pengolah, penenun, dan pemintal asbes, serta reparasi tekstil yang terbuat dari asbes. ”Gejala yang timbul berupa sesak nafas, batuk berdahak atau riak dengan rhonchi pada basis paru, dan cyanosis yang ditandai bibir berwarna biru. Bila para pekerja berisiko terhadap penyakit-penyakit tersebut, bagaimana solusinya? Nur Kholis menjelaskan semua pekerja wajib mengenakan masker standar yang sesuai dengan jenis pekerjaannya masing-masing, serta selalu mengenakan alat perlindungan diri (APD) yang sesuai.

Adapun bagi Anda yang bekerja kantoran, bukan berarti bebas dari debu. Lakukan pembersihan ruang kerja supaya bebas debu dan juga nyaman. Untuk lingkungan rumah, lakukan pembersihan perabotan secara berkala. (49)