• KANAL BERITA

Fondasi Kompetisi Usia Dini Mutlak Diperkuat

Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi
Foto suaramerdeka.com/Setiady Dwi

BANDUNG, suaramerdeka.com - Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Raden Isnanta menegaskan bahwa tak ada pilihan lain guna menghadirkan prestasi mengkilap di cabang olahraga sepakbola kecuali memperkokoh fondasi kompetisi usia dini.

"Kalau hanya duduk manis memperhatikan liga pro, prestasi yang diharapkan itu kemungkinan sulit terwujud, karena kuncinya kompetisi usia muda dikuatkan," tandasnya saat menutup event  Kemenpora Internasional Football Championship 2019 (KIFC 2019) KU-16 di Bandung, Kamis (5/12).

Untuk itu, Kemenpora lebih mengintensifkan program penyemaian kompetisi usia muda yang merupakan wahana unjuk gigi bibit-bibit pesepakbola di masa mendatang. Mereka bakal menggelar turnamen-turnamen puncak sebagai muara dari helatan yang sudah bergulir.

"Tahun depan tak hanya KU-16, tapi kita juga akan menggulirkan turnamen internasional untuk KU-15 dan KU-14. Anggarannya sudah disiapkan. Per turnamen kita butuh sekitar Rp 1 miliar untuk memastikan semuanya bergulir dengan lancar," jelasnya.

Mimpi Kemenpora, kata Raden Isnanta, langkah tersebut bisa menjadikan helatan-helatan kompetisi usia dini tersebut bisa berlangsung secara terstruktur sekaligus tertata. "Memang itu tak mudah, tapi sepanjang punyai niatan positif dan tak banyak debat, rasanya keinginan ini bisa direalisasikan," katanya.

Pihaknya memutuskan untuk melakukan perkuatan kompetisi usia dini semata-mata untuk menguatkan fondasi pembinaan terutama pada proses penempaan calon pesepakbola yang membutuhkan modal kuat sebelum melangkah ke jenjang-jenjang berikutnya termasuk untuk memasok pemain ke liga senior.

"Mereka butuh jam terbang, selama ini mereka mengalami kekurangan dalam mengasahnya, dengan kalender ini kita sediakan fasilitasnya. Kita asah mental dan kemampuan bertanding apalagi ini kelasnya internasional ada peserta dari luar negeri yang ikut berpartisipasi," jelasnya.

Untuk stok pemain, Raden Isnanta menyebut Indonesia tak kekurangan. Sejauh ini, ada 5.000 SSB yang bergerak membina benih-benih pesepakbola secara nasional. Meski demikian, jumlah tersebut memang harus diimbangi perkuatan lainnya seperti kehadiran pelatih yang berkualitas.

"Kita memang rindu jadi juara, tapi tahapan kompetisi usia muda yang berjenjang tak bisa diabaikan. Mereka perlu diberikan perhatian yang lebih, kesempatan yang baik. Talenta mereka perlu dihidangkan, dipromosikan dalam kompetisi yang sehat, sebelum kemudian manggung dan memberi prestasi," jelasnya.


(Setiady Dwi/CN19/SM Network)

Berita Terkait
Komentar