• KANAL BERITA

Nyala Asa ADHA

EL (3), salah seorang anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang tinggal Yayasan Lentera Solo, dibantu kakak pendamping memakai pakaian usai mandi, Kamis (23/1). (suaramerdeka.com/Isnawati)
EL (3), salah seorang anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang tinggal Yayasan Lentera Solo, dibantu kakak pendamping memakai pakaian usai mandi, Kamis (23/1). (suaramerdeka.com/Isnawati)

TERIK matahari memayungi langkah saat memasuki halaman Yayasan Lentera yang berada di kompleks Taman Makam Pahlawan Kusuma Bhakti Solo, baru-baru ini. Cuaca cerah hari itu tidak secerah masa depan Anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang masih dibayang-bayangi penolakan dan stigma. Namun, di Yayasan Lentera, mereka menyalakan asa dan menyemai impian akan masa depan.

Sore itu, sejumlah anak tengah bermain ayunan di halaman. SA (11) tampak asyik bermain di dalam mobil yang diparkir di halaman. Sementara IR (12) memilih  belajar membaca di beranda didampingi kakak pendamping.

Dari dalam ruangan, muncul si kecil EL (3) yang baru saja mandi sembari menenteng diapers. “Kak, ini pakainya bagaimana? Yang ada bintangnya di depan?” tanya EL kepada salah seorang kakak pendamping di Yayasan Lentera. Si kakak pun dengan sigap membantu EL memakai diapers.

Aktivitas anak-anak itu jeda sejenak begitu ada dua orang tamu mengantarkan undangan kepada pengelola Yayasan Lentera untuk menghadiri acara di salah satu hotel di Solo. Anak-anak itu pun berlarian dan saling berebut untuk berjabat tangan dengan kedua tamu. EL yang sudah selesai memakai diapers pun tak mau ketinggalan.

“Pak’e, saya ikut ya,” kata EL, sembari menggelayut manja pada sosok yang dipanggil Pak’e itu.

Dia adalah Puger Mulyono, salah satu pendiri Yayasan Lentera yang menjadi bapak dari anak-anak yang tinggal di Yayasan Lentera. Belum sempat menjawab, SA keluar dari dalam mobil. “Pak’e, saya mau renang. Boleh ya,” kata SA merajuk.

Begitulah keseharian anak-anak dengan HIV/AIDS yang tinggal di Yayasan Lentara. Mereka bermain, belajar dan bersekolah. Yayasan Lentera merupakan shelter untuk penanganan ADHA. Sejak diresmikan pada 6 Desember 2017, Yayasan Lentera menjadi tempat menyemai asa bagi ADHA dari berbagai kota di Indonesia.

EL berasal dari Jakarta. Kedua orang tua EL meninggal dunia karena HIV/AIDS. Ia diserahkan RS Dr Moewardi Solo ke Yayasan Lentera sejak usia EL dua bulan karena tidak ada keluarga yang mau merawatnya.

Sementara SA berasal dari Timika, Papua. Orang tua SA juga sudah tiada. SA diserahkan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur ke Yayasan Lentera pada tahun 2015. Saat itu, SA berusia 7 tahun. SA seharusnya sudah duduk di bangku kelas IV SD. Namun, karena terlambat masuk sekolah, SA kini baru duduk di bangku kelas 3 SD.

SA mengaku senang tinggal di Yayasan Lentera. “Saya senang di sini. Ada pak’e, ada saudara-saudara. Saya bisa bermain bersama, bisa sekolah,” kata SA.

Saat ditanya cita-citanya saat dewasa kelak, dengan lantang SA menjawab ingin menjadi presiden. “Saya ingin jadi presiden. Ya Pak’e,” kata SA, sembari melirik ke arah Puger.

Puger menjawabnya dengan senyum dan anggukan.

Adapun IR diserahkan keluarganya dan salah satu rumah sakit di Boyolali saat IR berusia 10 tahun. Orang tua IR juga sudah tiada. Tinggal IR dan neneknya. Namun karena neneknya tidak bisa merawat, IR diserahkan ke Yayasan Lentera.

Senada dengan SA, IR juga menguntai cita-cita mulia. Di sela-sela aktivitasnya belajar membaca, IR mengatakan kelak ingin menjadi guru. “Saya mau sekolah yang pintar agar kelak bisa jadi guru,” kata IR.

Selama tinggal di Yayasan Lentera, anak-anak itu dirawat seperti keluarga dan dicukupi kebutuhannya. Mereka juga mendapat pengobatan secara rutin. Puger mengatakan, di Yayasan Lentera, anak-anak dipantau kesehatannya agar mereka tetap sehat. Mereka dipastikan minum obat setiap pagi pukul 06.00 dan pukul 18.00.

“Mereka disiplin minum obat. Jika ada anak yang tidak mau minum obat karena jenuh, ya harus dipaksa agar ia mau minum obat. Karena anak-anak ini harus minum obat. Tidak boleh tidak,” tegasnya.

Menurut Puger, selain obat-obatan medis, anak-anak itu juga diberi obat herbal dan jamu tradisional setiap dua hari sekali. Mereka juga diberi vitamin, suplemen dan makanan bergizi. “Semuanya untuk menambah imunitas tubuh dan memperbaiki sel-sel yang rusak,” terang Puger.

Mereka juga dibawa ke rumah sakit sebulan sekali untuk pemeriksaan kesehatan.

Ada 12 orang yang mengurus kebutuhan anak-anak di Yayasan Lentera setiap harinya. Mulai menyiapkan obat, menyiapkan makanan dan memandikan anak-anak. Pendampingan dan pengobatan yang dilakukan di Yayasan Lentera telah menyelamatkan anak-anak dengan HIV/AIDS.

Anak-anak yang semula diserahkan ke Yayasan Lentera dalam kondisi sangat kurus, kini berangsur-angsur telah bertambah berat badannya. “Kebanyakan yang diserahkan ke sini kondisinya sudah parah, tinggal lunglit (balung atau tulang dan kulit),” terangnya.

IR, salah satunya. Menurut Puger, saat diserahkan keluarganya dan pihak rumah sakit ke Yayasan Lentera, kondisi IR sangat kurus, tinggal tulang berbalut kulit. Bahkan karena sangat kurus, IR lumpuh, tidak bisa berjalan. Namun kini, di usianya yang ke-12 tahun, berat badan IR sudah naik 50 persen. IR juga sudah bisa berjalan dan bermain bersama teman-teman ADHA lainnya.

Puger mengatakan, hingga saat ini tercatat ada 35 ADHA yang tinggal di Yayasan Lentera. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka diserahkan ke Yayasan Lentera sejak tahun 2001, saat mereka baru lahir hingga usia 15 tahun.

Selain 35 anak tersebut, ada delapan ADHA yang telah kembali ke keluarganya. “Kami melakukan pendekatan ke keluarga. Dari yang awalnya menolak, beberapa keluarga akhirnya mau menerima mereka. Keluarga yang sudah mau menerima mereka kembali, magang dulu di sini untuk mengetahui bagaimana merawat ADHA. Ketika sudah benar-benar mampu, anak baru kami serahkan ke keluarga,” kata Puger.

Puger berharap, anak-anak tersebut mendapat hak-haknya sebagai anak. Bisa mendapatkan akses kesehatan dan bisa menempuh pendidikan di sekolah tanpa ada penolakan dan terbebas dari stigma.

Hak Anak

Pasal 6 Konvensi Hak Anak menyebutkan, semua anak berhak atas kehidupan. Pemerintah perlu memastikan bahwa anak bisa bertahan hidup dan tumbuh dengan sehat. Sementara itu, pada pasal 24 dijelaskan, tiap anak berhak mendapatkan standar kesehatan dan perawatan medis yang terbaik, air bersih, makanan bergizi dan lingkungan tinggal yang bersih dan aman. Semua orang dewasa dan anak-anak perlu punya akses pada informasi kesehatan.

Namun, sebagian ADHA belum bisa mendapatkan hak-haknya. Menurut Puger, sebagian anak di Yayasan Lentera tidak sekolah karena beberapa kali ditolak oleh sekolah dan wali murid. “Anak-anak yang masuk TK dan SD sudah beberapa kali dikeluarkan pihak sekolah. Hampir 24 kali anak-anak di sini dikeluarkan dari sekolah. Ada pula yang didemo guru dan wali murid,” terangnya.

Sementara itu, di Kabupaten Batang ada 15 ADHA yang mendapat pendampingan pengobatan dari Forum Komunikasi Peduli Batang (FKPB). Mereka bersekolah di TK dan SD. Menurut Koordinator FKPB sekaligus koordinator program pencegahan dan pengurangan HIV/AIDS, Ahmad Nafis, pihaknya menjangkau orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sejak tahun 2007.

“Sejak saat itu sudah ditemukan anak dengan HIV/AIDS. Namun dalam perjalanannya, ada beberapa anak yang meninggal karena tidak mendapat perawatan dan pengobatan yang tepat. Sampai saat ini, ada 15 anak yang kami dampingi untuk treatment obat,” terangnya, baru-baru ini.

Menurut dia, ADHA yang meninggal tersebut karena orang tuanya tidak patuh memberikan obat. Padahal, kepatuhan minum obat menjadi kunci agar anak-anak dengan HIV tetap sehat. Karena obat-obatan anti-HIV atau ART berfungsi menekan jumlah virus agar tetap stabil.

“Yang minum obat secara teratur, anak tidak ada yang sakit. Sementara yang meninggal karena orang tua tidak patuh. Jadi orang tua harus taat dan patuh memberikan obat kepada anaknya rutin dua kali sehari. Misalnya pukul 07.00 dan pukul 19.00. Itu harus dipatuhi,” terangnya.

Terkait hal ini, sebulan sekali FKPB mengadakan pertemuan dengan para ODHA, sekaligus untuk monitoring kepatuhan minum obat kepada dirinya dan anaknya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kasus HIV/AIDS pada anak mulai ditemukan pada tahun 2004. Saat itu tercatat satu kasus usia 0-4 tahun. Pada tahun 2005 juga ditemukan satu kasus HIV/AIDS pada anak, yakni usia 15-19 tahun. Setelah itu, kasus HIV/AIDS pada anak terus meningkat.

Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, kasus HIV/AIDS pada anak di Jawa Tengah sebagai berikut. Pada tahun 2015, dari 1.296 kasus HIV/AIDS, ditemukan 71 kasus ADHA usia 0-19 tahun positif AIDS. Kemudian pada tahun 2016, dari 1.402 kasus HIV/AIDS, 60 di antaranya ADHA usia 0-19 tahun. Pada tahun 2017, dari 1.779 kasus HIV/AIDS, 51 di antaranya ADHA usia 0-19 tahun. Dan, pada tahun 2018, dari 1.858 kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah, terdapat 83 kasus ADHA usia 0-19 tahun. Sedangkan pada Januari hingga September 2019, dari 1.328 kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah, terdapat 33 kasus ADHA usia 0-19 tahun.

Pelayanan Pencegahan

Kementerian Kesehatan mencatat, perinatal merupakan faktor risiko yang cukup banyak menyumbang peningkatan penyakit AIDS. Penularan HIV dari ibu hamil positif HIV kepada bayinya dapat terjadi pada masa kehamilan, saat persalinan, dan selama menyusui.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Tatik Muharyati menjelaskan, untuk mengurangi risiko penularan HIV/ AIDS dari ibu hamil ke anak, dilakukan melalui program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA).

“Kami memiliki program Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak(PPIA) atau triple eliminasi. Jadi, setiap ibu hamil dilakukan pemeriksaan HIV, siphilis dan hepatitis pada saat periksa kehamilan trimester pertama,” terangnya, Senin (27/1).

Menurut dia, semua fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan antenatalcare di Jawa Tengah mampu memberikan pelayanan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak. “Apabila diketahui ibu hamil positif HIV, maka diberi obat antiretroviral (ARV) agar tidak menularkan ke anaknya,” sambungnya. Obat untuk dikonsumsi setiap hari dapat diperoleh di fasilitas kesehatan tersebut.

Rutin meminum obat menjadi cara menekan risiko penularan HIV sekaligus menjaga daya tahan tubuh. Dikutip dari Buku “HIV, Kehamilan dan Kesehatan Perempuan” yang diterbitkan Yayasan Spiritia (2016), penelitian yang dilaporkan pada 1994 menunjukkan bahwa ARV dapat mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi.

Pada penelitian ini, perempuan hamil memakai satu jenis ARV, sebelum dan saat persalinan, dan bayinya diberikan azidotimidin (AZT) setelah lahir. Intervensi
ini mengurangi risiko bayi menjadi terinfeksi HIV dari 25 persen menjadi delapan persen.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Hidayah Basbeth menjelaskan, sejak 2018, setiap ibu hamil di Kabupaten Batang harus melakukan tes HIV atau screening. Ada 14 fasilitas kesehatan yang memberikan layanan untuk pemeriksaan HIV. Meliputi tiga rumah sakit dan sembilan puskesmas. Yakni RS QIM, RSUD Batang, RSUD Limpung, Puskesmas Batang 2, Puskesmas Kandeman, Puskesmas Subah, Puskesmas Tulis, Puskesmas Banyuputih, Puskesmas Gringsing 2, Puskesmas Wonotunggal, dan Puskesmas Bandar 1, serta Puskesmas Tersono.

“Kami mencari penderita HIV/ AIDS mulai populasi kunci sampai ibu hamil. Kalau sejak dini sudah diketahui HIV positif, kami dapat melakukan intervensi untuk mencegah penularan pada bayi,” terangnya.

Menurutnya, pada tahun 2019, dari 13.000 ibu hamil, ditemukan 17 positif HIV. “Mereka harus dipersiapkan untuk melahirkan secara cesar, harus melahirkan di rumah sakit, tidak boleh menyusui dan harus pakai susu formula. Kalau tidak mampu membeli susu formula, ada bantuan dari Pemkab Batang selama dua tahun,” jelasnya.

Kemudian, saat bayi lahir, dilakukan pemeriksaan early infant diagnosis (EID) pada usia 0-6 minggu. Setelah itu dilakukan pemeriksaan lagi saat bayi berumur 18 bulan. Selain itu juga diberikan profilaksis segera setelah bayi lahir. Obat yang diberikan kotrimoksazol. Menurut dia, dengan perlakuan dan penanganan yang tepat, anak yang dilahirkan kemungkinan bisa terbebas dari virus HIV/AIDS.

Di Kabupaten Batang, sepanjang tahun 2019, jumlah kasus HIV/AIDS sebanyak 118 kasus. Terdiri dari 58 laki-laki dan 60 perempuan. Dari jumlah tersebut, delapan di antaranya HIV/AIDS pada anak. Sementara 23 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) meninggal pada tahun 2019.

Sementara itu, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Solo, Tenny Setyoharini menjelaskan, penanganan ADHA di Kota solo mengacu pada Peraturan Daerah Nomor 12 tahun 2014 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS.

Dalam perda tersebut disebutkan, setiap perempuan yang mengetahui dirinya terinveksi HIV atau AIDS, bila ingin hamil, wajib mengikuti program untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak agar bayinya terhindar dari HIV.

“Pemeriksaan HIV bisa dilakukan di semua puskesmas di Solo. Ada 17 puskesmas. Sementara untuk pengobatannya bisa dilakukan di Puskesmas Gajahan, Puskesmas Banjarsari, Puskesmas Manahan, Puskesmas Pucang Sawit dan Puskesmas Pajang. Selain itu RS dr Moewardi, RS Panti Waluyo dan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta,” paparnya.

Menurut dia, sepanjang tahun 2019, kasus HIV/AIDS di Kota Solo tercatat 107 kasus. Selain itu, terdapat 53 kasus warga luar Kota Solo yang berobat di rumah sakit di Solo. Dari jumlah tersebut, dua di antaranya merupakan kasus HIV/AIDS pada anak.


(Isnawati/CN40/SM Network)