• KANAL BERITA

Membangkitkan Memori Perdamaian di ''Beta Mau Jumpa''

Memelihara Perdamaian Ambon

KISAH PEREMPUAN: Kepala Prodi S1 Hubungan Internasional UGM, Dr Diah Kusumaningrum memaparkan kisah perempuan dalam upaya perdamain di Ambon.(suaramerdeka.com / dok)
KISAH PEREMPUAN: Kepala Prodi S1 Hubungan Internasional UGM, Dr Diah Kusumaningrum memaparkan kisah perempuan dalam upaya perdamain di Ambon.(suaramerdeka.com / dok)

KONFLIK  berdarah di sejumlah tempat di Indonesia, salah satunya di Ambon, menyisakan duka nestapa. Tak hanya bagi korban tapi juga seluruh masyarakat ikut terluka. Rasa itu perlahan hilang ketika ada upaya rekonsiliasi yang tulus dari semua pihak. Kini, 21 tahun setelah konflik tersebut, anak-anak muda dari berbagai keyakinan, mayoritas Kristen dan Islam, berusaha sekuat tenaga merajut hubungan dan memelihara semangat perdamaian.

Mereka bergerak dalam berbagai bidang, menanam, menumbuhkan kembali benih-benih persaudaraan, toleransi. Menyemai supaya benih-benih itu membesar dan merambat ke mana-mana, tak hanya di Ambon, tetapi ke seluruh penjuru negeri.

Salah satu upaya menumbuhkan persaudaraan sejati melalui sebuah film yang menggambarkan susahnya merajut perdamaian ketika luka sudah begitu dalam. Kisah dalam film yang diberi judul ''Beta Mau Jumpa'' ditayangkan di UGM baru-baru ini. Film itu dirancang bagi para pendidik, jurnalis, pengambil kebijakan, serta masyarakat, melalui kolaborasi antara Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM, The Pardee School of Global Studies Boston University, dan  WatchdoC Documentary dengan dukungan dari Henry Luce Foundation New York.

Menurut Kepala Prodi S1 Hubungan Internasional UGM, Dr Diah Kusumaningrum, Beta Mau Jumpa mengingatkan pada siapa saja, perdamaian tidak terjadi dalam waktu semalam. Perlu waktu lama menjalin kembali dan mempererat persaudaraan melalui kehidupan sehari-hari. Tak cukup kegiatan formal, perlu langkah nyata melibatkan masyarakat bawah yang paling terdampak konflik.

Relasi Perempuan

''Begitu konflik Ambon merebak, ada upaya perdamaian di antara warga. Film ini memunculkan cerita-cerita dari beberapa perempuan yang menggambarkan relasi mereka yang begitu dekat dengan tetangga mereka yang memiliki keyakinan yang berbeda tetapi tetap bersaudara di tengah situasi yang panas,'' papar Diah.

Ia mengingatkan, 19 Januari 1999 sebagai awal konflik Ambon. Tapi sebenarnya sejak hari itu juga warga Islam dan Kristen sudah saling merengkuh satu dengan lainnya. Mereka berusaha keras saling melindungi, ada warga yang beragama Islam menyembunyikan tetangga mereka yang Kristen untuk melindungi mereka agar tidak diserang, begitu juga sebaliknya.

Perjuangan para perempuan menjaga persaudaraan sungguh luar biasa dalam konflik tersebut. Beta Mau Jumpa menunjukkan adanya rasa saling percaya yang telah lama terbangun di antara warga, sehingga mereka bahkan terbiasa untuk menitipkan kunci rumah kepada tetangga mereka yang berbeda kepercayaan ketika mereka pulang ke kampung halaman. Bahkan para ibu akan menjaga anak-anak tetangga ketika orang tuanya harus bekerja.

''Memori perdamaian dikehidupan sehari-hari menjadi bekal upaya rekonsiliasi pasca konflik. Memori perdamaian inilah yang menjadikan Ambon berbeda dengan konflik yang terjadi misalnya di Sri Lanka atau Irlandia Utara. Memori perdamaian perlu diciptakan untuk memupuk perdamaian di tengah masyarakat dengan berbagai perbedaan yang dimiliki,'' tandas Diah.

Beta Mau Jumpa yang berdurasi 35 menit merupakan film kedua dari seri Indonesian Pluralities yang mengangkat beragam kisah tentang Indonesia. Film pertama berjudul Atas Nama Percaya yang mengangkat kisah dua komunitas penghayat kepercayaan dan pengalaman diskriminasi yang mereka alami telah dirilis pada tahun lalu. Film tersebut dapat ditonton di Youtube.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)