• KANAL BERITA

Direktur Zeni TNI AD Bantu Koleksi Taman Wisata Sejarah Salatiga

Gelar Gowes Semarang-Rawapening

 KEPALKAN TANGAN : Direktur Zeni Angkatan Darat, Brigjen TNI Mohammad Munib (keempat dari kanan), Sekda Salatiga, Fakruroji (keempat dari kiri), Danrem 073/Salatiga, Kolonel Moch Erwansjah (ketiga dari kanan) dan para pejabat TNI lain berfoto mengepalkan tangan usai gowes  di rumah makan Sitinggil Muncul Banyubiru Kabupaten Semarang Sabtu, (25/1). (suaramerdeka.com/Moch Kundori)
KEPALKAN TANGAN : Direktur Zeni Angkatan Darat, Brigjen TNI Mohammad Munib (keempat dari kanan), Sekda Salatiga, Fakruroji (keempat dari kiri), Danrem 073/Salatiga, Kolonel Moch Erwansjah (ketiga dari kanan) dan para pejabat TNI lain berfoto mengepalkan tangan usai gowes di rumah makan Sitinggil Muncul Banyubiru Kabupaten Semarang Sabtu, (25/1). (suaramerdeka.com/Moch Kundori)

SALATIGA, suaramerdeka.com - Direktur Zeni Angkatan Darat, Brigjen TNI Mohammad Munib SIP, membantu tambahan koleksi untuk mengisi Taman Wisata Sejarah Salatiga (Taman Wisesa). Bantuan yang diserahkan itu berupa alat perang senjata penyembur api sebanyak dua unit.

Penyerahan dilakukan Mohammad Munib yang diterima Sekda Salatiga Fakruroji di rumah makan Sitinggil Muncul Banyubiru Kabupaten Semarang Sabtu, (25/1). Penyerahan bersamaan acara olah raga dan rekreasi berupa bersepeda (gowes) 75 km.

Munib beserta jajaran TNI bersepeda dengan start dari Semarang menuju Rawapening dan finish di kawasan RM Sitinggil yang bernuansa pedesaan.  Kegiatan gowes itu diikuti tak kurang 250 orang gabungan dari Direktorat Zeni TNI AD,  Batalyon Zipur, Kodam IV/Diponegoro, Korem 073/Salatiga, dan Kodim 0174/Salatiga. Di kawasan  RM Sitinggil itu, yang juga tempat kelahiran Munib, kemudian mereka berkemah dan menginap.

"Acara ini santai-santai dan bisa menghemat. Sebab tidak usah menyewa hotel untuk menginap. Cukup mendirikan tenda untuk berkemah," tuturnya.  

Mengenai senjata alat penyembur api yang disumbangkan ke museum Salatiga itu, Munib menyebut, senjata tersebut tidak digunakan lagi. Sehingga perlu dipajang di lokasi museum Salatiga itu. Diharapkan senjata ini melengkapi peralatan persenjataan lain yang sudah dipajang di taman wisata Salatiga itu.

"Alat persenjataan itu dulu digunakan untuk menyemburkan api saat menyerang musuh yang bersembunyi di gua-gua. Setelah diberi zat-zat tertentu, semburan api itu bisa mematikan semua orang yang ada di gua itu," katanya.

Dalam perkembangannya,  lanjut Munib, peralatan itu tidak direkomendasi dalam peraturan internasional. Sebab peralatan itu dianggap tidak manusiawi dan melanggar hak asasi manusia dan tidak sportif. Akhirnya oleh TNI pun  peralatan itu tidak digunakan lagi.

"Dari pada alat tersebut nganggur, kami serahkan ke museum Salatiga. Ada dua alat yang kami serahkan, ada yang besar dan kecil. Sementara museum wisata di Salatiga ini belum selesai pembangunannya, barang kami titipkan di Yonzipur Banyubiru," katanya.

Sekda Salatiga Fakruroji mengapresiasi bantuan peralatan dari Direktur Zeni Angkatan Darat itu. Bantuan itu telah melengkapi bantuan-batauan yang sudah ada dan  disumbangkan TNI dari tiga matra masing-masing AD, AU, dan AL yang mengisi museum aman Wisata Sejarah Salatiga.

Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertahanan RI antara lain Pesawat Cureng, Panser Saladin, Meriam tipe laut KAL dan replika KRI Macan Tutul serta pembangunan patung tiga pahlawan, yang telah dilaksanakan pada tahun 2019.

"Pencanangan pembangunan Taman Wisata Salatiga ini dilakukan  Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertahanan RI, Laksamana Madya TNI  Agus Setiadji, pada 15 Januari 2020. Taman yang berlokasi di Nogosari, Kelurahan Bugel Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, ditargetkan rampung pembangunannya pada 2023," katanya.

Ditambahkan dia,  bahwa pembangunan Taman Wisesa merupakan salah satu bentuk penghargaan dan rasa hormat terhadap tiga pahlawan yang berasal dari Kota Salatiga.  Mereka adalah  Komodor Yos Sudarso (AL), Laksamana Madya Udara Adi Sucipto (AU), dan Brigadir Jenderal Sudiarto (AD).


(Moch Kundori/CN40/SM Network)