• KANAL BERITA

Merasakan Pulang dalam Secangkir Kopi

Konsep Rumah pada Coffe Shop

MENYEDUH : Dua perintis kedai kopi “Pulang Coffee And...” Rifqi Abdi Farhan (kiri) dan Dewanda Maulana (tengah) mengedukasi salah satu teknik menyeduh kopi (brewing). (SM /Diaz A Abidin)
MENYEDUH : Dua perintis kedai kopi “Pulang Coffee And...” Rifqi Abdi Farhan (kiri) dan Dewanda Maulana (tengah) mengedukasi salah satu teknik menyeduh kopi (brewing). (SM /Diaz A Abidin)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Merasakan pulang dalam secangkir kopi, dihadirkan sebagai makna saat berada di kedai kopi bernama “Pulang Coffee And...”. Kedai kopi ini berada di Jalan Menteri Supeno Nomor 22A, Kelurahan Mugassari, Kota Semarang.

Desain rumah pada umumnya sengaja dijadikan konsep interior dan eksterior kafe. Desain interior memang tidak bisa dipisahkan dalam strategi pemasaran kedai kopi. Apalagi semakin tren, dengan banyak berdirinya kedai-kedai kopi di Kota Lumpia ini.

“Produk hidangan dan konsep interior memang dua hal yang tak terpisahkan (di kedai kopi). Maka strateginya selain dari  produk itu, tawaran kenyamanan. Seperti sedang dalam keadaan pulang (ke rumah),” terang  Rifqi Abdi Farhan (24), salah satu dari dua perintis kedai kopi yang baru berdiri Oktober 2019 lalu.

Maka, lanjutnya, kedai tersebut mengusung #segerapulang dengan tema “Memaknai Pulang Dalam Secangkir Kopi”. Dalam strategi pemasaranya, paling utama tetap menggunakan media sosial.

Dewanda Maulana, menerangkan, mereka berdua menemukan lokasi rumah kosong sebagai tempat bisnis kedai kopi. Lantas keduanya mulai sedikit-sedikit merenovasi rumah tersebut dengan pula menambahkan properti-properti lain.

“Karena yang ada hanya sebuah rumah, maka (berfikir) nama apa yang sesuai dengan konsep bangunan tua ini.  Lalu tercetuslah ide ‘pulang ke rumah’. Kata ‘pulang’ kayaknya bagus jadi nama kafe ini,” timpal suami dari  Gofita Dharana ini.

Pada teknis pelayananya, para barista berusaha menjalankan interaksi kepada konsumen seperti saat pelanggan berada di rumah.

“80 persen kami tidak melihat peluang bisnis kedai kopi dahulu. Awalnya kami punya minat dan kesenangan pada industri kopi. Barulah kita lihat, marketnya ada tidak sih. Seperti apa, kita jalankan,” tambahnya.

Tantangan

Bagi keduanya yang pernah mengenyam pendidikan bidang manajemen di Universitas Diponegoro ini, mengakui banyak tantangan. Terlebih usia usaha mereka baru tiga bulan.

Mulai dari paling dasar, kebutuhan pokok industri. Soal kebutuhan air dan listrik paling utama seperti kebutuhan rumah tangga dan industri pada umumnya.

“Kalau listrik mati, instalasi eror itu kendala sekali. Belum lagi air yang sering tidak lancar,” timpal Rifqi.

Sementara untuk produk bisa dipelajari. Sesuai tren pasar, kreativitas pengembangan produk. Lalu edukasi kepada pelanggan tentang bagaimana menikmati secangkir kopi mulai dari teknik-teknik menyeduhnya (brewing), hingga cara menikmati aneka ragam jenis dan asal kopi.


(Diaz Abidin/CN34/SM Network)