• KANAL BERITA

Nilai Ekspor Kota Pekalongan Tembus Rp 313 Miliar

UNGGULAN EKSPOR: Produk kerajinan batik salah satu komoditas unggulan ekspor Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com/Trias Purwadi)
UNGGULAN EKSPOR: Produk kerajinan batik salah satu komoditas unggulan ekspor Kota Pekalongan. (suaramerdeka.com/Trias Purwadi)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Nilai ekspor Kota Pekalongan sepanjang 2019 tembus angka 22,926 juta dolar AS atau sekitar Rp 313 miliar. Angka ini meningkat dibanding tahun 2018, hanya 19,6 juta dolar AS.

Kabid Perdagangan Dindagkop-UKM Kota Pekalongan, Sri Haryati, mengatakan kenaikan nilai ekspor diikuti kenaikan volume ekspor menjadi 8,92 juta kilogram dari 21 pelaku usaha ekspor (eksportir) Kota Pekalongan di bawah naungan Dindagkop-UKM.

‘’Dari tahun ke tahun realisasi nilai ekspor Kota Pekalongan terus mengalami peningkatan sebab ada penambahan dari pelaku ekspor dan jumlah volume ekspor. Nilai ekspor Kota Pekalongan tahun 2019 mencapai 22,926 juta dolar AS itu dilakukan oleh 21 eksportir Kota Pekalongan,’’ terang Haryati.

Haryati menjelaskan, komoditas unggulan ekspor  Kota Pekalongan 2019 antara lain sarang burung walet, sarung batik, kain batik, olahan hasil perikanan, ikan asin, surimi, berbagai kerajinan craft dan teh yang menjadi komoditas baru.

‘’Sarang burung walet, batik, benang, dan komoditas teh juga merupakan komoditas baru yang mulai tembus ekspor pada 2019. Produk unggulan tersebut menjadi langganan ekspor ke berbagai negara di dunia,’’katanya.

Adapun negara tujuan eskpor antara lain Malaysia, Korea, Amerika, Jepang, Spanyol, Thailand, Singapura, Sri Lanka, Arab Saudi, Australia, Taiwan, China, Dubai, Hong Kong dan berbagai negara lainnya. Produk-produk tersebut diproduksi oleh perusahaan besar, dan Industri Kecil Menengah (IKM)

Menurut dia, faktor pemicu kenaikan ekspor itu, salah satunya, pelatihan ekspor secara rutin kepada IKM baru bekerja sama dengan Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (BBPPEI) Kementerian Perdagangan RI.

Dalam pelatihan itu, pengusaha di Kota Batik mendapat materi proses ekspor, menghitung hasil ekspor, mencari calon pembeli luar negari sehingga ada keberanian pengusaha untuk melakukan ekspor secara mandiri.

‘’Kita upayakan untuk meningkatkan nilai ekspor Kota Pekalongan setiap tahun dengan memberlakukan hasil pelaporan ekspor sejak awal tahun. Namun ada di antara eksportir tidak ekspor sendiri tetapi melalui pihak ketiga sehingga tidak tercatat di Kota Pekalongan. Tetapi, kami berusaha minta data ke Provinsi, sehingga data ekspor dari Pekalongan bisa  diketahui,’’ katanya.


(Trias Purwadi/CN39/SM Network)