• KANAL BERITA

Mampetnya Irigasi Kalibening Mengubah Hidup Warga Bulurejo

Oleh: Wahyu Atmaji

foto: suaramerdeka.com/Wahyu Atmaji
foto: suaramerdeka.com/Wahyu Atmaji

MENYUSURI jalanan Desa Bulurejo dan sekitarnya segera menyeret ingatan ke puluhan tahun lalu. Saat SD kami biasa ke sekolah berjalan kaki melalui pematang persawahan Cikalan, Ngrandu, menembus Pakelan. Lalu menelusuri jalan raya menuju SD Letjen Suprapto (kini SD Kartika), di Panca Arga, Magelang.   

Daerah itu dikenal dengan tanah sawahnya yang lendoh, subur, dengan kedalaman dan tingkat keliatan ideal untuk padi. Semua itu karena pasokan air Kalibening melalui irigasi peninggalan Belanda lancar. Air dari Payaman itu bahkan menyuburkan persawahan di Banyurojo, Deyangan, Jogonegoro, hingga Kalinegoro.

Namun masa keemasan itu seperti mendadak berhenti. Sekitar tahun 1970-an. Tak ada lagi aliran Kalibening. Sebagian malah dibuangbke Kali Proho. Maka jangankan menyawah, untuk keperluan MCK saja warga Dukuh Nepak Bulurejo, nyaris tak sanggup menyediakan. Di desa itu tak satupun sumur meneteskan air meski menembus kedalaman lebih 30 meter.

Maka kepada kali Progo seluruh hajat MCK warga itu dilampiaskan. Padahal bukan perjalanan mudah karena Progo letaknya di barat desa dengan jalan yang terjal dan curam. Para lelaki ke sungai itu setidaknya sekali sehari sembari membawa air untuk keperluan anak istri.

Jangan bertanya sehari mandi berapa kali. Atau buang hajat rutin di mana. Karena bisa jadi banyak yang sekedar cuci muka. WC di Nepak kala itu suatu kemewahan. Mungkin karena alasan tiadanya pasokan air membuat warga enggan punya WC. Mereka lebih suka jongkok di rerimbunan pohon halaman rumahnya.

Mengenai berhentinya pasokan irigasi Kalibening, karena bocor dan hilang di jalan, termasuk belakangan digunakan untuk mengairi Taman Kiai Langgeng, langsung memukul ekonomi warga. Hampir semua penduduk adalah petani. Mereka bertani sebagai cara hidup karena tak ada pilihan lain. Bagaimana bisa menanam padi tanpa air?

Sejak sawah mengering profesi mereka seperti dipaksa berubah. Ada yang menjadi pembecak, tukang kayu, tukang pelitur, tukang batu, berdagang, atau merantau. Dalam sekejap lahan basah jadi lahan kering. Lalu berlahan berubah pula kepemilikannya. Sawah mereka jual murah. Dibeli orang kota untuk didirikan rumah. Tentu dengan status tanah kering nilainya jauh lebih tinggi.

Jika tahun 1970 di mana mata memandang adalah sawah subur dan tanaman menghijau, kini semua sirna, dan berganti dengan perumahan mewah. Ada jenderal purnawirawan, ada pengusaha, pejabat. Pemilik lamanya sudah tak di Nepak lagi. Kalau pun masih di situ cukup mendiami rumah sempit di tengah pemukiman.

Ada yang ironi. Wakil Bupati Magelang, Edi Cahyana, mengakui meski daerahnya "memiliki" Borobudur dan banyak sentra industri namun  warga daerahnya banyak yang masuk kategori miskin. Angka kemiskinan di Kabupaten Magelang mencapai 10,6 persen, dengan menduduki ranking ke-20 dari 35 Kota/Kabupaten di Jawa Tengah.

Waktu tak bisa dikembalikan lagi. Apakah keadaan menjadi lebih baik andai misalnya irigasi Kalibening lancar dan sawah tetap subur? Tak ada yang tahu. Sebab nyatanya banyak pula petani yang tetap miskin.

Itu pula ketika Anggota DPR RI, Achmad Arief (alm), yang asli Nepak Bulurejo, bertukar pikiran soal keinginannya menghidupkan kembali irigasi Kalibening,  saya dukung sepenuhnya. "Monggo Pakde. Saya siap mendukung lewat media. Tapi tak ada jaminan mereka mau turun ke sawah lagi. Mereka telah memiliki profesi baru," ucap saya, ketika itu.

Benar. Waktu telah mengubah semua. Musim berganti. Tak ada lagi orang Nepak Bulurejo menjadi petani. Kesempatan adalah momentum.  Sudah lama orang Nepak terpinggirkan dalam pasokan air sawah. Alamlah telah mengubah mata pencaharian warga Nepak.

Wahyu Atmaji, wartawan Suara Merdeka di Jakarta

 


(Red/CN40/SM Network)