• KANAL BERITA

Kreativitas Seni Budaya Mencegah Plagiasi

Oleh Niansari Susapto Putri, M.Pd

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

PLAGIAT berasal dari bahasa Inggris “plagiarism” atau “plagiary”, dalam bahasa Latin ”plagiarius” yang artinya penculik atau penjiplak. Jadi, plagiarisme atau plagiat merupakan tindakan mencuri gagasan / karya intelektual orang lain dan mengklaim sebagai miliknya ( Putra, 2011).  

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 17 tahun 2010 (dalam Tarwiyani: 2016) menyatakan plagiat adalah perbuatan secara sengaja maupun tidak sengaja dalam memperoleh  kredit atau nilai untuk sebuah karya ilmiah dengan cara mengutip mengutip sebagian atau seluruh karya ilmiah tanpamenyatakan sumber secara tepat dan memadai. Seseorang yang melakukan tindakan plagiasi disebut dengan plagiator.

Plagiarisme terjadi karena beberapa faktor.  Menurut Soetanto (dalam Aziz, dkk 2015: 4) ada sembilan faktor seseorang melakukan plagiarisme, di antaranya faktor budaya, kurangnya pengetahuan tentang penulisan karya ilmiah dan masalah seputar plagiarisme, keinginan mencari jalan pintas dalam mencapai sebuah prestasi, tekanan waktu yang sempit dalam menyelesaikan tugas, otak malas untuk berpikir lebih dalam, kemudahan mendapatkan data dari internet, belum ada sanksi yang memadai bagi plagiator, panjangnya proses hukum tentang plagiasi sehingga menyebabkan apatisme, plagiasi dianggap lumrah bagi sebagian kalangan.

Dalam pembelajaran Seni Budaya,  guru mengajarkan kepada peserta didik tentang pentingnya menghargai hasil karya orang lain. Dalam berkarya seni, guru menanamkan mindset kepada peserta didik bahwa lebih menyenangkan dan bangga seseorang yang berkarya seni dengan menciptakan karya hasil pemikiran sendiri daripada mengcover ulang karya seni orang lain.  

Beberapa langkah yang dilakukan di dalam kelas mata pelajaran Seni Budaya. Pertama, guru memberikan penjelasan tentang pentingnya berkarya dengan pemikiran sendiri. Tanpa meniru hasil karya orang lain, maka jiwa kita terdidik untuk kreatif, terus berinovasi, berjiwa mandiri, pantang menyerah dalam berproses dan bertanggung jawab. Kedua, peserta didik dibebaskan mengeluarkan ide gagasan dalam berkarya. Guru membimbing setiap peserta didik dalam merangkai susunan ide gagasan yang sesuai dengan nilai etika dan estetika.

Ketiga, peserta didik dibimbing untuk membuat kreasi seni kriya. Seni kriya merupakan seni mengkreasikan barang-barang  kerajinan tangan. Dalam membuat karya seni karya, peserta didik diarahkan untuk memanfaatkan barang ramah lingkungan menjadi benda pakai yang berfungsi sebagai benda estetis atau benda praktis.  Keempat, peserta didik dibimbing untuk membuat seni rupa. Ragam seni rupa yang digambar adalah ragam seni rupa batik Nusantara yang selanjutnya akan diaplikasikan dalam karya seni lukis.

Kelima, peserta didik diarahkan untuk membuat karya seni musik. Guru mengarahkan peserta didik untuk mengikuti tahapan-tahapan dalam proses berkarya seni musik.  Peserta didik dibebaskan untuk menulis syair lagu ciptaan sendiri. Setelah itu, guru mengarahkan peserta didik untuk membuat tangga nada dari syair lagu tersebut. Keenam, peserta didik diarahkan untuk membuat karya seni tari. Peserta didik yang berbakat dalam bidang seni tari dapat mengajarkan kepada teman di kelasnya. 

*Penulis adalah guru SMN 1 Karangkobar, Banjarnegara


(Red/CN26/SM Network)