• KANAL BERITA

Tekan Prevalensi, Pencegahan Stunting Disosialisasikan

HUT TK Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang

Pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Sri Endah Wahyuningsih menyampaian paparan tentang stunting pada kegiatan HUT ke-43 TK Hj Isriati Baiturrahman I Semarang di aula sekolah tersebut, Sabtu (14/12). (suaramerdeka.com/Eko Fataip)
Pemateri dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Sri Endah Wahyuningsih menyampaian paparan tentang stunting pada kegiatan HUT ke-43 TK Hj Isriati Baiturrahman I Semarang di aula sekolah tersebut, Sabtu (14/12). (suaramerdeka.com/Eko Fataip)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Stunting masih dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat sorotan. Angka kejadian atau prevalensi stunting di Indonesia 23,6 persen.

Menurut standar organisasi kesehatan dunia (WHO), angka itu dinilai masih tinggi. Ada pun batasan WHO sebesar 20 persen.

Petugas dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Sri Endah Wahyuningsih memaparkan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak lebih pendek untuk seusianya.

"Ini bisa terjadi karena kekurangan gizi pada bayi ketika dalam kandungan dan pada masa awal kehidupan setelah lahir," kata Sri, saat memberikan paparan pada kegiatan peringatan HUT ke-43 TK Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang di sekolah tersebut, Sabtu (14/12).

Dia juga menjelaskan, ada beragam faktor penyebab munculnya stunting. Karena itu penanganannya perlu melibatkan seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga peran orangtua.

"Faktornya bisa beragam, bisa dari praktik pengasuhan anak yang tidak baik. Kemudian kurangnya akses ke makanan bergizi dan sebagainya," ujarnya.

Dikatakan pula, dampak kekurangan gizi pada anak tidak hanya mengakibatkan stunting. Lebih dari itu bisa memicu penyakit, menghambat kecerdasan anak hingga menurunkan produktivitas.

"Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan ketika bayi baru lahir sampai usia dua tahun," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah TK Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang, Fitri Rokhmah mengemukakan, melalui sosialisasi tersebut, pihaknya ingin memberi kontribusi dalam menekan angka stunting.

Selain itu, pemahaman akan pentingnya asupan gizi terhadap anak perlu dikampanyekan kepada orangtua murid.

"Sosialisasi tentang gizi diperlukan bagi para orangtua. Asupan gizi yang baik akan memengaruhi perkembangan fisik dan kecerdasan anak. Kegiatan ini sekaligus memperingati HUT ke-45 Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah," kata Fitri.

Acara dibuka Ketua Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) KH Ahmad Daroji. Untuk makin menyemarakkan acara, juga diadakan beberapa kegiatan lain seperti aneka macam lomba dan senam bersama.


(Eko Fataip/CN40/SM Network)