• KANAL BERITA

Gelar Implementasi Gerakan Hemat Air, Balitbangtan Gandeng Himpunan Profesi

Masuki Musim Penghujan

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

MAROS, suaramerdeka.com - Memasuki awal musim penghujan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) menggelar Diskusi Kelompok Terfokus “Implementasi Aksi Iklim Melalui Gerakan Panen Dan Hemat Air Mendukung Korporasi Pertanian Tanaman Pangan” pada Jumat (13/12) di Grand Town Hotel Mandai, Maros, Sulawesi Selatan.   

Menghadirkan narasumber dari himpunan profesi dalam bidang pertanian, kegiatan ini bertujuan untuk melakukan diseminasi inovasi teknologi strategis kegiatan adaptasi dan co-benefits adaptasi (mitigasi) yang telah dihasilkan Balitbangtan secara langsung, mengomunikasi kegiatan adaptasi sektor pertanian dalam implementasi aksi iklim kepada petani milenial melalui Gerakan Panen dan Hemat Air berbasis korporasi mendukung sistem usaha pertanian berkelanjutan, serta menjalin dan memperkuat  jejaring kerjasama (network) antar pengguna dengan pemangku kepentingan terkait dan himpunan profesi lainnya.

Diskusi Kelompok Terfokus ini dibuka oleh Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si., diikuti oleh sekitar 55 orang peserta terdiri dari peneliti dan penyuluh lingkungan Balitbangtan, dosen Universitas Hasanuddin serta Dinas Pertanian Kabupaten Maros.

Dalam sambutannya, Kepala Balitbangtan menyampaikan program Kementerian Pertanian untuk membangun Pertanian Maju, Modern dan Mandiri dengan kawasan seluas 50.000 hektare di 10 Provinsi.  Output utama program ini yaitu menghasilkan komoditas ekspor dari semua kawasan tersebut. Kawasan Pertanian Maju, Modern dan Mandiri ini harus didukung dengan implementasi Gerakan Panen dan Hemat Air serta penguatan teknologi dari hulu ke hilir.     

“Program dan Gerakan ini membutuhkan sinergi Himpunan Profesi seperti Perhimpi(Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia), Peragi (Perhimpunan Agronomi Indonesia), Perhepi (Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia) , dan HITI (Himpunan Ilmu Tanah Indonesia)” ungkap Fadjy Djufry.  

Selanjutnya disampaikan bahwa melalui Gerakan ini, diperlukan perubahan pola kerja petani menjadi lebih modern melalui konsep “korporasi petani”. Dengan manajemen, aplikasi, serta cara produksi dan pengolahan yang modern, petani diharapkan akan mendapatkan keuntungan lebih besar. Kolaborasi pengelolaan air dan korporasi petani membutuhkan implementasi gerakan panen dan hemat air pada lahan kering di lapangan sehingga dapat terdiseminasi dan diadopsi dengan masif oleh para pengguna.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan temu lapang Gerakan Panen dan Hemat Air di Desa Leang-leang Kecamatan Bantimurung Kabupaten Maros yang memanfaatkan air permukaan melalui teknik distribusi dari sumber menuju lahan dengan pipeline system dan teknik irigasi emitter (curah).

Saat ini, seluas 12 hektare lahan kering akan terkena manfaat aplikasi teknologi ini dan tahun 2020 indeks pertanamannya akan meningkat menjadi IP 300. Kabupaten Maros sendiri banyak memiliki sumber air dari gua karst di wilayahnya dengan penerapan sumur dangkal. Temu lapang ini diharapkan dapat mereplikasi penerapan teknologi ini ke kawasan yang lebih luas.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)