• KANAL BERITA

Aktif Menjalin Komunikasi

Lurah Rejosari

Lurah Rejosari, Rahayuningsih (suaramerdeka.com / Eko Fataip)
Lurah Rejosari, Rahayuningsih (suaramerdeka.com / Eko Fataip)

Bukan waktu sebentar bagi Rahayuningsih dipecaya mengemban tugas sebagai lurah. Perempuan yang akrab disapa Yayuk ini sudah 16 tahun merasakan lurah di sejumlah tempat di Kecamatan Semarang Timur.

SEJAK  2013 lalu ia dipercaya memimpin Kelurahan Rejosari. Sebelumnya selama empat tahun (2009-2013), ia menjabat lurah Sarirejo. Selama setahun menjadi Lurah Mlatiharjo (2008-2009). Pada 2004, merupakan kali pertama ditugaskan sebagai lurah di Kebonagung, Semarang Timur.

Di sana, wanita yang tinggal di Pandean Lamper, Gayamsari ini menjabat selama empat tahun hingga 2008. ”Saya mungkin lurah yang terlama di antara lurah-lurah lainnya. Saya syukuri karena diberi kecercayaan untuk melayani masyarakat. Ada kepuasan tersendiri bisa membantu dan mempermudah kepentingan warga,” kata Yayuk di kantor Kelurahan Rejosari, Kecamatan Semarang Timur, kemarin.

Ia mempunyai prinsip bahwa ukuran sukses bukan dilihat dari jabatan maupun harta benda yang dimiliki, melainkan bisa memberi manfaat untuk orang lain. ”Sebelum lurah di Kebonagung, saya sempat menjadi sekretaris lurah di Karangtempel selama tiga tahun (2001-2004).

Sekian banyak pengalaman ini sering saya bagikan kepada ibu-ibu PKK, karena setiap pindah tugas pasti ada pengalaman yang baru,” ujarnya. Dari pengalaman tersebut, ia pun menyadari setiap wilayah memiliki karateristik berbeda, termasuk kebiasaan yang berlaku pada warga setempat.

Karena itu, model kepemimpinan yang diterapkan di suatu tempat dengan tempat lainnya bisa saja berbeda. ”Saya tidak pernah memosisikan sebagai lurah, namun lebih kepada pelayan masyarakat. Warga adalah majikan, jika saya bekerja tidak baik, maka masyarakat berhak dan bahkan wajib menegur saya,” tandas Yayuk.

Komitmen

Lurah kelahiran Temanggung, 5 November 1968 ini memanfaatkan setiap kegiatan untuk menyampaikan informasi maupun program yang dicanangkan oleh pemerintah kota. Sejak awal dia membiasakan diri mudah berkomunikasi dengan siapa saja dan selalu terbuka kepada warga. Dengan begitu, Yayuk merasa tidak memiliki beban dalam bekerja.

”Saya sudah berkomitmen siap turun kapan saja jika dibutuhkan masyarakat. Masalah yang ada di masyarakat juga masalah kami bersama, sehingga sering saya sampaikan kepada warga jangan pernah merasa takut menghadapi masalah,” jelasnya.

Menurut lulusan magister manajemen itu, aktif berkomunikasi merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh seorang lurah, sehingga bila ada persoalan yang muncul di masyarakat cukup diselesaikan dengan cara musyawarah. ”Saya termasuk yang mengawali soal penertiban PKL barito terkait normalisasi Sungai Banjirkanal Timur.

Awalnya banyak yang tidak mau pindah meski sudah difasilitasi pemkot. Berkat komunikasi yang kami bangun, mereka akhirnya sepakat untuk pindah,” paparnya. Kelurahan yang dihuni 16 ribu penduduk dengan 15 RW dan 131 RT ini giat menjalankan berbagai program yang berkaitan dengan literasi.

Sebagai contoh, beberapa tempat ibadah seperti masjid di wilayah ini sudah dilengkapi dengan perpustakaan. Gerakan literasi tersebut bekerja sama dengan sejumlah pihak. Tujuannya meminimalkan ketergantungan generasi muda dari perangkat gawai dan meningkatkan daya baca di kalangan anak muda.

”Di lingkungan kantor pun juga saya edukasi. Khusus menyangkut pelayanan, saya tanamkan semua harus kerja bersama. Sehingga warga tidak perlu menunggu lama setiap ingin mendapat pelayanan,” tuturnya.

Pihaknya juga mendorong warganya agar lebih sadar dalam hal penghijauan. Kini dia mulai menggiatkan penanaman bunga bugenvil secara serentak di sepanjang Kali Banger. ”Kami berharap mampu mengumpulkan 150 tanaman bugenvil. Tanaman-tanaman ini sebagian kami peroleh secara swadaya ditambah bantuan dari sejumlah donatur. Kegiatan penanaman ini sudah kami mulai pertengahan November,” ujar Yayuk.


(Eko Fataip/CN26/SM Network)

Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar