• KANAL BERITA

Saat Para Lurah Berebut Tapai

SAMPAIKAN PAPARAN : Lurah Sekaran, Eko Riyanto memaparkan potensi di wilayahnya, saat presentasi Lurah Hebat di Kantor Kecamatan Gunungpati, Jalan Wuryanto KM 5, Sumurrejo. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)
SAMPAIKAN PAPARAN : Lurah Sekaran, Eko Riyanto memaparkan potensi di wilayahnya, saat presentasi Lurah Hebat di Kantor Kecamatan Gunungpati, Jalan Wuryanto KM 5, Sumurrejo. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)

BAYANGAN suasana bakal monoton dan kaku sontak hilang, manakala seorang lurah memaparkan keunggulan wilayahnya. Apa yang disampaikan ternyata menyulut sautan dari sejawatnya. Walhasil, tawa dan keriangan pun tercipta di Kantor Kecamatan Gunungpati, Jalan Wuryanto KM 5, Sumurrejo.

Pagi itu, Senin (11/11), lurah se Kecamatan Gunungpati berkumpul di kantor kecamatan untuk mempresentasikan keunggulan wilayahnya dalam Lomba Lurah Hebat yang digagas Suara Merdeka bekerja sama dengan Pemkot Semarang.

Suasana gayeng kiyi tersebut ternyata merembet hingga akhir acara. Setiap lurah yang maju gasak-gasakan. Tentu saja dengan guyon dan penuh keakraban. Tak jarang lontaran yang keluar mengundang tawa berkepanjangan. Bermula saat Lurah Mangunsari menyampaikan kalau wilayahnya mampu menjadikan makanan tapai menjadi bahan olahan andalan.

”Lo kuwi duweke kelurahanku. Hoo ngana tha, melu-melu, tapi tetep enak punya Nongkosawit Pak Juri. (Lo... itu punya kelurahan saya. Begitu ya, ikut-ikutan tapi tetap enak milik Kelurahan Nongkosawit Pak Juri),” tiba-tiba Lurah Nongkosawit, Al Choiri berseloroh.

Karuan saja, seisi ruangan langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak mau kalah, Lurah Mangunsari, Nining Haryanti pun menimpali. ”Ora melu-melu yo (Tidak ikut-ikutan ya), tapi memang tapai di tempat kami itu berbeda dengan yang di Nongkosawit. Kemasannya juga beda,” ujar Nining.

Masih belum puas, Lurah Nangkasawit pun kembali bersuara. ”Iku tape apa tempe? La gambare besek tok, isine jojo tempe? (Itu tapai atau tempe? La... gambarnya cuma besek saja, isinya janganjangan tempe),” kata Lurah Nongkosawit Al Choiri.

“Masak tempe, ya tapai tho ya. Ini tapai kemasan khusus. Rasanya juga khusus. Kalau tak percaya Tim Juri kapan waktu bisa kita ajak menikmatinya,” jawab Nining Haryanti. “Kuwi duwekku ding, Pak (Itu punya saya Pak),” ujar Lurah Nongkosawit, Al Choiri seperti tak mau kalah. Demi melihat itu, lagi-lagi semua yang hadir pun dibuat tertawa. Gelak ria tercipta pagi itu, tak terkecuali para juri dari Suara Merdeka.

“Iki jan-jane rebutan tape napa ta? Tapene seng paling enak berarti juara Lurah Hebat (Ini ada apa ya kok rebutan tapai? Tapainya yang paling enak berarti juara Lurah Hebat),” kata Lurah lain yang terpingkal melihat gasak-gasakan antarkeduanya. Meski berkompetisi, namun suasana penuh dengan keguyuban.

Para lurah memperlihatkan keakraban satu sama lain. Lihat saja saat ada lurah yang cukup fasih dengan kemampuan wilayahnya saat paparan, lurah lainnya sontak nyelemong( nyeletuk), “Wes langsung menang iki.”

Ger-geran juga nampak saat Lurah Jatirejo, Bambang Haryanto maju hendak presentasi. Namun tulisannya terlihat kecil di layar proyektor. Melihat hal itu, beberapa lurah seperti mendapat bahan gasakan. “Mateng rak kowe, tulisan cilik mbenthik. Rak kewaca iku,” ujar lurah di barisan belakang.

Bambang menanggapi santai. Sejurus kemudian dia bilang ke pegawai yang mengoperasikan komputer. “Tulisane gedeke isa rak?(tulisannya dibesarkan bisa tidak?)” tukasnya. ”Tidak bisa Pak." "Yowes lewati wae (Ya sudah lewati saja),” kata dia.

Mendengar itu, gelak tawa kembali terjadi. Kendati berlangsung santai, presentasi para Lurah tak menanggalkan keseriusan dalam mempromosikan keunggulan masing-masing wilayahnya. Misalnya, Lurah Nongkosawit, ia memamerkan aneka olahan yang terbuat singkong menjadi bolu kroket, pie susu singkong, hingga moci singkong. Tak hanya itu, Kelurahan Nongkosawit juga memiliki Tari Kuntulan untuk menyambut para wisatawan

. Kemudian aneka budaya seperti Sadran Kubur, dan Kirab Kiai Bendhe. Belum habis, masih ada tempat wisata menarik seperti umah pang di RW 1 dan Curug Mah Tukung. “Para wisatawan bisa belajar gamelan, praktik membuat kalung jenetri, tandur pari, egrang dan lainnya,” papar dia.

Pagi itu, diawali presentasi dari Lurah Pakintelan, kemudian berturut- turut, Lurah Mangunsari, Lurah Plalangan, dan ditutup paparan dari Lurah Kandri. Adapun, Camat Gunungpati, Cahyo Nugroho meminta kepada para lurah agar berpikir positif dan bersemangat dalam mempersiapkan diri. “Tunjukan upaya terbaik dalam melaksanakan kegiatan lomba untuk meraih kebanggaan sebagai lurah hebat,” katanya.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN26/SM Network)

Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar