• KANAL BERITA

Dari Bank Sampah hingga Jembatan Merah

Lurah Tinjomoyo, Dewi Meirijana

Lurah Tinjomoyo, Banyumanik bersama pejabat kecamatan, dan Direktur Utama PT Pegadaian Kuswiyoto, meresmikan Bank Sampah Ngudi Lestari. (suaramerdeka.com/dok)
Lurah Tinjomoyo, Banyumanik bersama pejabat kecamatan, dan Direktur Utama PT Pegadaian Kuswiyoto, meresmikan Bank Sampah Ngudi Lestari. (suaramerdeka.com/dok)

SETELAH sekitar 15 menit berkendara motor dari kantor Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, menyusuri jalanan kampung yang hampir semuanya mulus, tibalah di ‘’Jembatan Merah’’ yang ikonik. Warna merah merata menutupi pegangan besi yang ada di sisi kanan dan kiri jembatan. Tiang pengait yang dipakai untuk menggantung jembatan ini juga dicat warna merah. Warna merah menyala, berpadu dengan sling baja yang melengkung dari ujung timur ke ujung barat, membuat jembatan yang sempat ambrol dan direnovasi sekitar tahun 2002-an menghadirkan eksotisme yang memikat mata. Kata anak-anak muda jembatan merah yang menghubungkan Kelurahan Tinjomoyo dan Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati itu, sangat instagramable.

Ketua RW 02/Ketua BKM, Ir Supardi mengatakan, bahwa wilayahnya mengalami banyak perubahan. Lurahnya gesit, langsung turun tangan. Infrastruktur makin baik, Tinjomoyo pun bebas dari status kumuh. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)
Ketua RW 02/Ketua BKM, Ir Supardi mengatakan, bahwa wilayahnya mengalami banyak perubahan. Lurahnya gesit, langsung turun tangan. Infrastruktur makin baik, Tinjomoyo pun bebas dari status kumuh. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)

‘’Ini sudah sangat terkenal di media sosial, anak-anak muda itu suka selfi di sini,’’ ujar Lurah Tinjomoyo, Dewi Meirijana yang bersama stafnya, menemani suaramerdeka.com menikmati ‘’Jembatan Merah’’ yang ikonik itu.  ‘’Nanti di sisi jembatan ini akan dibangun jembatan kaca oleh Pak Wali,’’ kata perempuan yang lahir di Ujung Pandang 1 Mei 1966 itu dengan mata berbinar.

Kasi Pembanganunan dan Pemerintahan, Suratmin mengatakan, bahwa lurahnya bisa ngemong staf dan warga. Tetapi juga disiplin, dan berkemauan keras agar Tinjomoyo tak ketinggalan dari yang lain. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)
Kasi Pembanganunan dan Pemerintahan, Suratmin mengatakan, bahwa lurahnya bisa ngemong staf dan warga. Tetapi juga disiplin, dan berkemauan keras agar Tinjomoyo tak ketinggalan dari yang lain. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)

Alumni STIE Anindyaguna Semarang itu memang sudah bisa sedikit lega. Dua tahun lalu, saat ditugaskan di Tinjomoyo 3 Januari 2017, isteri Mohammad Iswahyu Hendri Widiarto itu sempat masgul. Betapa tidak, tempat tugasnya yang seluas 202 ha itu, termasuk dalam 62 kawasan kumuh di Kota Semarang. ‘’Banyak rumah belum layak huni, drainase seadanya, jalan-jalan banyak yang rusak, dan sampah menumpuk di mana-mana,’’ kenang ibunda Ardana Wahyu dan Rani Hapsari itu.

Tetapi bertugas di wilayah yang dianggap kumuh itu, kemudian ia sadari menjadi berkah. Sejak itu, kelurahannya mulai memeroleh gelontoran anggaran, terutama dari Proyek Kotaku Tanpa Kumuh. Tentu itu disyukuri 10.799 jiwa warga Tinjomoyo yang mendiami 8 RW dan 46 RT. Dukungan warga dan lembaga menyemangatinya. ‘’Dua kali kami mendapat bantuan Rp 500 juta. Dengan anggaran itu, Tinjomoyo berubah jauh menjadi lebih baik,’’ ujar perempuan yang sebelumnya bertugas sebagai Kasubbag Perencanaan Kecamatan Banyumanik.

Caption

Bank Sampah

Penanganan sampah pun menjadi prioritas utama lurah yang sempat dari 2006-2008 menjadi staf Kelurahan Srondol Wetan. ‘’Kebetulan 2018 saya ikut diklat bank sampah. Setelah itu, saya mengajak warga di tiap RW untuk membuat bank sampah. Alhamdulillah sekarang tiap RW sudah memiliki bank sampah,’’ ujar perempuan yang kali pertama bekerja tahun 1990 di bagian Ketertiban Umum (Tibum, sekarang Satpol PP) itu.

Lurah Tinjomoyo, Dewi Meirijana. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)
Lurah Tinjomoyo, Dewi Meirijana. (suaramerdeka.com/Eko Adi N)

Menurut perempuan yang tahun 1991 pindah di Bagian Umum Pemkot Semarang itu, dalam sembilan bulan ini, hasil pilah sampah menghasilkan tabungan Rp 33.377.7000,-. ‘’Itu baru dari tiga bank sampah yang sudah berjalan baik. Uang tersebut kami simpan di Pegadaian. Setiap Rp 7.000,- langsung dikonversi menjadi 0,001 gram emas. Jika sudah terkumpul 7 gram, anggota bisa dapat porsi haji,’’ ujar Dewi.

Rintisan bank sampah Tinjomoyo mendapat perhatian PT Pegadaian dengan CSR hampir Rp 400 juta. Kucuran dana tersebut diwujudkan dalam bank sampah Ngudi Lestari di RW VII. Bank sampah ini memiliki alat yang lengkap mulai mesin cacah, mesin pres, hingga sarana transportasi. ‘’Ini satu-satunya di Semarang, dan ke-14 di Indonesia. Kami punya moto, The Gade : Clean and Gold. Lingkungan bersih dan kami dapat emas,’’ kata dia.

Tahun ini, Tinjomoyo juga merintis pembentukan ‘’Kampung Tematik Pilah Sampah’’, melengkapi ‘’Kampung Jahe’’ di RW 8 yang lebih dulu ada. Di Kampung Jahe, warga sudah memproduksi egg roll jahe dan sirup jahe. ‘’Alhamdulillah dalam dua tahun ini, kampung kami sudah bebas kumuh, nol persen. Ternyata bersentuhan langsung dengan warga itu lebih asyik,’’ ungkap Dewi, yang mengaku masih punya pekerjaan rumah merehab 41 hunian dalam katagori rumah tak layak huni.


(Eko Edi Nuryanto/CN40/SM Network)