• KANAL BERITA

Sistem Penilaian Baru Perbesar Peluang Siswa Lolos SBMPTN 2018

Foto Istimewa
Foto Istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Sistem penilaian yang diterapkan pada pelaksanaan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 memperbesar peluang para siswa untuk lolos. Pada pelaksanaannya tahun ini, SBMPTN tidak lagi menerapkan poin minus pada jawaban yang salah.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pandu Baghaskoro mengatakan, penggunaan sistem baru memberikan kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kompetensinya. Tidak hanya hilangnya pemberian minus pada jawaban yang salah, SBMPTN juga memberikan soal dengan tingkat kesulitan berbeda. Panitia SBMPTN juga memberikan poin pada semua jawaban yang benar. Sementara itu, jawaban yang salah atau pertanyaan yang tidak dijawab tidak mendapatkan poin.

“Sistem ini memang menyeleksi siswa yang benar-benar berminat pada jurusan tertentu. Dengan begitu, diharapkan para siswa yang diterima bisa mengikuti kegiatan perkuliahan karena mereka mendaftar pada program studi yang benar-benar diminati sejak awal,” jelas Pandu.

Penilaian terhadap SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan nilai 4 untuk jawaban benar, nilai 0  untuk soal yang tidak dijawab dan nilai minus 1 untuk jawaban yang salah.  Sistem penilaian baru tidak hanya memperhitungkan jumlah soal yang dijawab dengan benar dan salah oleh siswa, tetapi juga memperhitungkan tingkat kesulitan masing-masing soal.

Pandu juga mengatakan, sistem penilaian yang baru juga mempu meminimalkan tingkat stress siswa dalam mengerjakan soal SBMPTN. Stress / beban kognitif pada sistem minus lebih tinggi karena disamping mengerjakan soal ujian, mereka juga harus mempertimbangkan risiko dari keputusan dalam memberikan jawaban terhadap sebuah soal. Dalam sistem penilaian minus, ada tiga skenario yang bisa didapatkan berdasarkan hasil keputusan peserta. Sementara di dalam sistem penilaian ‘adil’ ada dua skenario yang bisa diapatkan.

“Sistem penilaian ‘adil’ lebih menguntungkan bagi calon mahasiswa maupun penyelenggara. Bagi calon mahasiswa, sistem ‘adil’ memampukan mereka untuk mengerjakan ujian dengan optimal, karena tingkat stress / beban yang dibebankan dalam sistem ‘adil’ lebih rendah dibandingkan sistem minus,” jelas Pandu.

Hukum Yerkes-Dodson (1908, seperti dikutip di Benson & Allen, 1980) mengatakan, tingkat stress / beban yang terlalu besar merusak performa dan efisiensi aktifitas individu. Untuk dapat menguji kemampuan calon mahasiswa secara optimal, stress / beban yang dialami peserta pada saat mengerjakan ujian harus berimbang. Jika peserta ujian dapat mengerjakan ujian secara optimal, penyelenggara ujian dapat betul betul menyeleksi peserta terbaik untuk diluluskan.


(ER Maya/CN19/SM Network)