Lika-liku Citraan Tubuh Karya Kanoko Takaya

4 Desember 2022
Semarang Gallery menggelar pameran seni kontemporer dengan menyajikan karya-karya Kanoko Takaya, seniman asal Kyoto, Jepang. Pameran yang mengambil tajuk ‘KUNE KUNE’ (Lika-Liku) itu, dibuka Sabtu (3/12/2022) dan akan berlangsung hingga 5 Februari 2023.
Direktur Semarang gallery Denis Levy Dharmawan menjelaskan, pameran ini menjadi penting mengingat karya-karya Kanoko Takaya mewakili tatapan seniman luar dalam melihat kebudayaan lokal. Selain itu Kanoko juga mewakili seniman muda yang dalam perjalanan karir selama delapan tahun di Indonesia, telah menjelajahi ranah seni kontemporer secara serius.
Kanoko Takaya membawa karya-karya lama dan baru. Itu sebagai kelanjutan dari karya-karya sebelumnya yang merupakan satu rentetan perjalanan kekaryaannya selama di Indonesia.
Kurator pameran Ignatia Nilu menjelaskan, penyajian karya-karya pada pameran ini mencakup dua periode kekaryaan Kanoko Takaya, yakni karya awal yang disebut sebagai Indonesian Series dan karya terkininya sebagai Inner Series dan Movement Series.
Indonesian Series merupakan karya awal Kanoko sebagai gaikokujin (orang negara asing) dalam menatap hubungan personal dengan situasi di Indonesia. ‘Untuk karya-karya terbarunya, Kanoko menggabungkan tekstil, kanvas, dacron, resin, benang dan berbagai material menjadi bentuk dan tekstur yang mencitrakan anatomi tubuh. Anatomi tubuh yang selalu bergelombang, meliuk, dinamis,’ kata Nilu.
Secara kekaryaan Inner Series dan Movement Series menampilkan nuansa yang berbeda. Karya terbaru Kanoko lebih menampilkan lekukan dalam dimensi dan sensasi yang berbeda. ‘Bentuk garis tersaji dalam kontur karya yang mengingatkan kita dengan relief atau lekukan tubuh. Warna tumpang tindih, namun mengingatkan kita dengan ingatan kanak-kanak, warna kulit dan kesederhanaan kita dengan tubuh kita. Postur-postur disajikan dalam komposisi yang lebih minimalis namun tetap ekspresif.’
Inner Series dan Movement Series menyajikan pose atas tubuh dan transformasinya dalam lekukan garis yang dinamis dan terus bergerak. Garis hadir menjadi bentuk, tekstur, warna dan sensasi. Seperti halnya tajuk-tajuk karya yang dipilihnya, hadir menjadi de?nisi atas sensasi inderawi yang berkembang dalam lika-liku ‘Kune Kune’ tubuh yang bergerak, postur yang tidak terduga, gestur yang menyajikan ekspresi emosi yang sederhana, dan hangat namun dinamis.
Itu seperti metafora atas penggambaran tubuh di antara berbagai situasi, serta perubahan sosial dan bahkan tantangan ekologi yang terus menerus di hari-hari ini. Karya-karya yang tersaji dalam ‘KUNE KUNE’ merupakan ekspresi yang menghadirkan nuansa jenaka, lugu, dan bahkan naif.
Kanoko Takaya menjelaskan bahwa pada awal proses kekaryaannya tidak bertendensi untuk menggambarkan tubuh. Garis yang dia torehkan secara natural menyatakan bentuk dan citraan tubuh. ‘Saya baru sadar bahwa saya memiliki ketertarikan dengan beberapa detail tertentu dalam anatomi tubuh, wajah, ekspesi, dan ini tanpa sadar hadir dalam karya saya. Sebelumnya saya tertarik dengan ekspresi topeng, batik. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di Jepang,’ kata Kanoko.

Images Lainnya

X