Nguri-uri Budaya Jawa lewat Wayang Kardus

23 November 2022
Tak semua pecinta wayang mampu membeli wayang kulit asli yang harganya cukup mahal. Atas dasar itulah, Suwarso warga Jl Dr Wahidin 59B RT 1 RW 4 Kelurahan Kaliwiru, Kecamatan Candisari, Semarang berinisiatif membuat wayang berbahan kertas atau kardus.
Selain untuk mendekatkan wayang ke masyarakat terutama generasi muda, Suwarso melakukan itu juga dalam upaya nguri-uri budaya Jawa.
Dia mengatakan, awalnya dirinya lihat tetangga membuat wayang tapi hasilnya dianggap kurang bagus. Awal tahun 2000an dia kemudian membuat wayang dari kertas atau kardus. Pemilihan bahan itu karena relatif murah dan tebal. ‘Awalnya saya membuat untuk koleksi pribadi, tapi lama-lama ada yang pesan, saya kemudian melayani pesanan. Kebanyakan pemesan anak muda. Tokoh-tokoh yang dibeli rata-rata ksatria,’ kata dia.
Proses pembuatan satu wayang sekitar lima hari. Pengerjaan itu mulai dari menggambar, kemudian mencetak di kertas berukuran besar, dan setelah itu proses pewarnaan. Meski berbahan kardus, proses pembuatan detail wayang tetap menggunakan tatah.
Selain melayani pesanan, dia juga menjual hasil karya itu lewat online, dengan harga Rp 150.000/wayang sampai Rp 200.000/wayang. Kebanyakan pembeli dari Semarang dan sekitarnya.
‘Selain lewat online, ada juga lewat gethok tular dan datang ke rumah. Harga 150.000-200.000/wayang, karena wayang dibuat halus,’ kata dia.
Menurut Suwarso, wayang kardus bisa awet asal tidak terkena air. Lewat wayang yang dibuat, dia bermaksud nguri-uri budaya Jawa. Karena itu, dia juga berharap kepada generasi muda agar ikut melestarikan seni dan budaya warisan leluhur.
Wayang kardus menjadi salah satu alternatif bagi generasi muda dalam memahami budaya Jawa. Apalagi wayang kardus jauh lebih murah dan mudah diperoleh daripada wayang kulit.

Images Lainnya

X