Menjaga Tradisi dan Merawat Rasa Permen Kopi

23 September 2022
Semarang tak hanya dikenal karena lunpia, ada satu makanan yang eksis sejak tahun 1940, yakni Hopjes. Permen kopi asal belanda itu pernah eksis di abad 18. Pada zaman Jepang, permen itu juga pernah menjadi primadona di Kota Semarang dengan nama Hopjes Mia Nada.
Mia Nada berawal dari usaha kopi keluarga milik Oen Djioe Nio, yang tak lain adalah ibu Widjajanti Dharmowijono, pemilik permen Hobjes Mia Nada saat ini. Sekitar tahun 1940, Oen Djioe Nio menjual permen hopjes dan banyak penggemar. Akan tetapi, lantaran pemilik sakit, produksi Mia Nada berhenti pada tahun 1970.
Tahun 2008, Widjajanti menemukan resep hopjes milik ibunya. Resep tersebut kemudian dimodifikasi dengan resep baru, hingga menghasilkan aneka varian, seperti creamy coffee, ginger coffee, dan black tea.
Sesuai dengan tradisi sebelumnya, Widjajanti memproduksi hopjes dengan cara yang sederhana dan untuk menjaga rasa, bahan tanpa dicampur pengawet. Bahan baku antara lain susu, gula, butter, kopi, esen kopi asli, dan garam. Bahan-bahan itu dicampur dalam satu wajan, diaduk-aduk hingga kental. Selanjutnya, dimasukan kopi dan esen kopi. Adonan ini terus diaduk hingga lengket. Jika temperatur suhu sudah mencapai angka yang ditentukan, adonan sudah siap untuk didinginkan dalam cetakan, kemudian segera dipotong-potong menjadi kubus berukuran kecil.
Alat pemotong hopjes yang digunakan wijayanti pun adalah alat milik ibunya dulu. Setelah semua adonan hopjes terpotong, barulah hopjes dibungkus dengan kertas khusus dan dikemas ke dalam toples kaca. Harga untuk satu toples kaca sendiri dijual dengan harga berkisar Rp 50.000 per 100 gram.
Berikut proses pembuatan Hopjes Mia Nada, bidikan pewarta foto Nugroho DS.

Images Lainnya

X