Menyaksikan Metropolis Semarang 1930-1950an

23 September 2022
Melalui lensa Tan Tat Hin, Semarang ternyata pernah menjadi kota metropolis. Jejak seni budaya yang tak lepas dari pengaruh negeri Tiongkok, juga berkembang dan kerap ditampilkan kepada publik. Antara lain tonil, sebuah istilah yang berasal dari bahasa Belanda, yakni toneel, yang merupakan gabungan seni drama dan tari.
Lewat pameran fotografi “Metropolis Semarang 1930-1950an dari Balik Lensa Fotografer Tan Tat Hin”, Yvonne Sibuea mencoba mengungkapkan fakta-fakta bahwa Kota Semarang dulu pernah menjadi metropolis, dengan perkembangan seni dan budayanya. Pameran yang juga bagian dari acara Srawung Semarangan dan terbuka untuk umum itu, dilaksanakan di Gedung Monod Diephuis & Co lantai 1, kawasan Kota Lama Semarang, 23-25 September 2022.
Lewat pengantarnya, Yvonne Sibuea mengungkapkan, sebagai warga Semarang yang melewatkan masa tumbuh kembang hingga dewasa di Kota Lunpia ini, cukup banyak individu dalam lingkaran perkawanan dia yang berasal dari kalangan pegiat seni budaya. Keluhan-keluhan dan ungkapan rasa putus asa atas stagnasi lanskap seni budaya kota, kerap mampir di ruang-ruang diskusi dia bersama kawan-kawannya.
Inferioritas terhadap kota-kota seperti Yogya dan Solo ternyata masih terdeteksi hingga 2022. Kekosongan identitas budaya dan ketidakpahaman atas narasi kesejarahan leluhur sebagai dampak langsung kebijakan politik kebudayaan Orde Baru, membawa dia memulai penelusuran mandiri.
Yvonne Sibuea mulai mengumpulkan berbagai buku, dokumen-dokumen tua berupa surat kabar, majalah, kuitansi, foto-foto, dan apa saja yang dapat memberikan informasi tentang Semarang, maupun tentang etnis Tionghoa yang merupakan leluhurnya. Hasrat ingin tahu tersebut akhirnya mempertemukan dia dengan kolektor barang dan dokumen tua, Abu Lawas, sekitar tahun 2014.
Wanita itu mendengar kisah kejayaan seorang fotografer Tionghoa bernama Tan Tat Hin, yang malang melintang sebagai fotografer terkemuka di Semarang. Berbagai piranti fotografi yang pernah dimiliki Tan Tat Hin sejak mengelola Tan Tat Hin Studio hingga beralih nama menjadi Studio Photax, dikoleksi oleh Abu Lawas.
Pada usia 18 tahun, karya-karya foto Tan Tat Hin telah dimuat berbagai media cetak seperti: Panorama,
Pewarta Soerabaja, Djawa Tengah Review, Warna Warta, Weekblad Sin Po, hingga kemudian dimuat di
Doenia Film, Star Magazine, dan media luar negeri The Young Companion terbitan Shanghai.
Pencapaian besar Tan Tat Hin muda yakni memotret Raja Siam yang sedang mengunjungi Mayor Tionghoa Salatiga Be Kwat Koen. Saat itu Tan Tat Hin masih berstatus siswa sekolah.
Tan Tat Hin juga tercatat sebagai fotografer terkemuka non-Belanda yang karya-karyanya diperhitungkan publik. Melalui lensanya, terdokumentasikan jejak seni budaya di Semarang. Sda pula dokumentasi peran inisiator dan donatur dari kalangan Tionghoa yang aktif menyelenggarakan berbagai pertunjukan seni dengan tujuan pengumpulan dana amal untuk membantu berbagai krisis di Tiongkok maupun di Hindia Belanda.
Karya foto Tan Tat Hin memperlihatkan dokumentasi berbagai kelas ruang publik yang digunakan dalam menggelar pertunjukan seni budaya. Dari Staadschouwburg yang merupakan ruang pertunjukan kelas atas, hingga rumah-rumah yang digunakan untuk kantor sekretariat berbagai organisasi Tionghoa yang lebih sederhana. Juga pertunjukan seni budaya yang merupakan bagian dari pasar malam Semarang yang digelar Asosiasi Pasar Malam Semarang sejak 1925.
“Inisiasi awal ini saya harapkan akan menjadi pemantik para akademisi atau peneliti di bidang antropologi,
etnografi, sejarah, arsitektur maupun berbagai disiplin ilmu lainnya agar dapat melakukan kajian lanjutan, menyumbangkan goresan-goresan kecil pada lukisan besar kesejarahan kota,” kata Yvonne Sibuea.

Lewat bidikan pewarta foto Nugroho DS, Suara Merdeka menyuguhkan foto-foto kegiatan pameran tersebut.

Images Lainnya

X