Tampil di Taman Budaya Jateng, Ini Pesan Seniman Yoyok Priambodo ke Anak Muda

- Kamis, 8 Desember 2022 | 21:14 WIB
(suaramerdeka.com/dok)
(suaramerdeka.com/dok)

suaramerdeka.com - Penari Yoyok Bambang Priambodo, tampil di Joglo Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Rabu 7 Desember 2022 kemarin. Pada acara bertajuk 'Tidak Sekedar Tari tersebut', ia membawakan tari "Pasuryan".

Menurut seniman kenamaan asal Semarang itu, ditengah kemajuan zaman saat ini, pendidikan karakter bagi anak muda perlu ditekankan. Indonesia menantikan momen generasi emas tahun 2045. Sehingga, pengenalan pendidikan karakter menjadi penting bagi anak muda sejak saat ini.

"Karakter itu sangat penting. Kita dengan adab ketimurannya, budayanya, sangat kaya, salah satunya pendidikan karakter yang telah diwariskan nenek moyang. Ayo kita kenali, kita ugemi, kita pelajari, kemudian bersama-sama kita bangun negeri ini," kata Yoyok.

Baca Juga: Festival Legendaris GrabFood, Apresiasi Tokoh Kuliner dan Seniman Semarang

Yoyok menambahkan, karya tari Pasuryan yang dia bawakan merupakan sebuah pesan kepada para penonton untuk lebih mengenal jatidiri. Dalam pentasnya, Yoyok menggunakan lima buah topeng beserta payung hitam dan beberapa simbol artistik lainnya.

Lima topeng yang dibawakan Yoyok, menyiratkan simbol falsafah jawa Sedulur papat kalimo pancer. Falsafah tersebut melambangkan manusia sebagai pusat kendali atas diri diikuti oleh empat nafsu yakni, Amarah, Aluamah, Supiyah, Mutmainah. 

"Jika seseorang mampu mengendalikan empat nafsu atau istilahnya dalam jawa sedulur papat, maka dia akan menjadi kalimo pancer, atau pusat kosmos dalam dirinya. Agar bisa, ya orang itu harus tirakat, berserah kepada Tuhan, selalu mawas diri. Orang tersebut akan memiliki kontrol diri yang baik, dan sudah bisa dipastikan memiliki karakter jiwa yang kuat," tuturnya.

Baca Juga: Lestarikan Kesenian Tradisional, DPRD Jateng dan Pemkab Purbalingga Siap Beri Ruang Seniman untuk Berkreasi

Pada sisi lain, Yoyok juga mengkritisi kebiasaan masyarakat menggunakan media sosial. Menurutnya, masyarakat di dunia maya atau netizen, sering menggunakan topeng saat  berselancar di media sosial. Hal itu, lanjutnya, adalah gambaran seribu wajah yang selalu berubah-ubah dan berpotensi mereduksi karakter bangsa Indonesia.

"Orang di media sosial bisa berganti topeng kapan saja. Di satu kesempatan dia memakai topeng emas, di lain kesempatan pakai topeng ungu. Bagi saya ini perlu diperhatikan, jangan sampai karakter bangsa kita luntur karena kebiasaan seperti ini," imbuhnya.

Halaman:

Editor: Eko Fataip

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi Rock - Pada Sebuah Meja

Kamis, 2 Februari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Tak Tahu Selanjutnya

Rabu, 1 Februari 2023 | 22:42 WIB

Puisi Rock - Sinyal Itu

Selasa, 31 Januari 2023 | 22:49 WIB

Puisi Rock - Bersinar di Antara Sinar

Senin, 30 Januari 2023 | 22:20 WIB

Puisi Rock - Meski Selalu Berbeda

Minggu, 29 Januari 2023 | 22:37 WIB

Puisi Rock - Nyanyian Serius di Balik Ruang

Sabtu, 28 Januari 2023 | 22:25 WIB

Puisi Rock - Kemelut 90

Jumat, 27 Januari 2023 | 22:01 WIB

Puisi Rock - Waktu yang Mengejar

Kamis, 26 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Berlalu Tanpa Esensi

Rabu, 25 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Kenikmatan di dalam

Selasa, 24 Januari 2023 | 21:25 WIB

Puisi Rock - Seakan Menjadi Misteri

Senin, 23 Januari 2023 | 22:26 WIB

Puisi Rock - Citra yang Diabaikan

Minggu, 22 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Akhir Puisi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Keangkuhan Puisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 21:40 WIB
X