Pertunjukan Rasa Raden Kokoh Noegroho di Jakarta

- Kamis, 29 September 2022 | 20:35 WIB
Perupa, Raden Kokoh Noegroho, bersama karyanya di pameran pameran tunggal bertajuk ''Solilokui'' di Galeri Nasional, Jl. Medan Merdeka Timur No.14, pada 25 September-9 Oktober. (SM/Aristya Kusuma Verdana)
Perupa, Raden Kokoh Noegroho, bersama karyanya di pameran pameran tunggal bertajuk ''Solilokui'' di Galeri Nasional, Jl. Medan Merdeka Timur No.14, pada 25 September-9 Oktober. (SM/Aristya Kusuma Verdana)

Dalam pamerannya, judul karya yang digunakan tidak seragam. Melainkan ada yang menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris.

''Saya menggunakan pilihan kata yang menurut saya paling pas untuk digunakan. Bahasa Indonesia bisa tidak mewakili kata di bahasa Jawa. Begitu juga sebaliknya.''

Apresian dari luar Indonesia sempat menanyakan kenapa tidak menggunakan bahasa Inggris saja? Kokoh tetap menjelaskannya dengan makna yang tidak bisa disamakan.

''Contohnya, kata 'Ingsun'. Dalam kajian spiritual Jawa, ingsun itu memaknai bahwa kita milik Gusti Allah. Jika ditransfer melalui bahasa Inggris yaitu 'Me', beda artinya,'' terangnya.

Judul-judul tersebut muncul ketika proses membuat karya. Kokoh memilih konsep bekarya dengan melawan tren.

''Bagiku, tren itu jebakan visual. Bukan jati diri seorang perupa atau pelukis,'' kata dia.

Kajian yang ditelusurinya saat berkarya adalah yang dilihat di televisi, media sosial, di lingkungan sosial yang paling dekat hingga jauh. Termasuk tentang sejarah.

''Tentang figur. Itu adalah tema sentral kehidupan dunia. Manusia sebagai pelaku utama di bumi. tanah itu, hanya menampung yang manusia lakukan. Baik positif maupun negatif, alam meresponnya saja,'' ungkapnya.

Kokoh juga menggunakan figur wayang dalam karyanya. Dia meminjam bahasa pendahulu yang mengartikulasikan tubuh dan kehidupan di dalamnya.

''Wayang itu simbolisme mansia yang pernah dibikin pendauhlu, para wali maupun Nusantara. Wayang bercerita tentang sifat manusia zaman dulu. Ternyata korelasinya sama dengan dunia hari ini,'' ujarnya.

Halaman:

Editor: Hendra Setiawan

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi Rock - Tak Tahu Selanjutnya

Rabu, 1 Februari 2023 | 22:42 WIB

Puisi Rock - Sinyal Itu

Selasa, 31 Januari 2023 | 22:49 WIB

Puisi Rock - Bersinar di Antara Sinar

Senin, 30 Januari 2023 | 22:20 WIB

Puisi Rock - Meski Selalu Berbeda

Minggu, 29 Januari 2023 | 22:37 WIB

Puisi Rock - Nyanyian Serius di Balik Ruang

Sabtu, 28 Januari 2023 | 22:25 WIB

Puisi Rock - Kemelut 90

Jumat, 27 Januari 2023 | 22:01 WIB

Puisi Rock - Waktu yang Mengejar

Kamis, 26 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Berlalu Tanpa Esensi

Rabu, 25 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Kenikmatan di dalam

Selasa, 24 Januari 2023 | 21:25 WIB

Puisi Rock - Seakan Menjadi Misteri

Senin, 23 Januari 2023 | 22:26 WIB

Puisi Rock - Citra yang Diabaikan

Minggu, 22 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Akhir Puisi

Sabtu, 21 Januari 2023 | 21:40 WIB

Puisi Rock - Keangkuhan Puisi

Jumat, 20 Januari 2023 | 21:40 WIB
X