Seniman Tantto Valeria Respons Pandemi Lewat Happening Art

- Kamis, 22 Juli 2021 | 16:21 WIB
HAPPENING ART: Seniman Tantto Valeria tengah mencipratkan air pada lukisannya di sebuah kolam ikan. (suaramerdeka.com/Asef Amani)
HAPPENING ART: Seniman Tantto Valeria tengah mencipratkan air pada lukisannya di sebuah kolam ikan. (suaramerdeka.com/Asef Amani)

 MAGELANG, suaramerdeka.com - Seniman Magelang Tantto Valeria (42) menghelat seni kejadian (happening art) berupa paduan seni lukis dan pertunjukan. Sebuah karya yang merespons situasi kiwari imbas pandemi Covid-19.

Tantto tidak sendiri, ia ditemani Sujono Keron, Seniman Magelang dan Pimpinan Sanggar Saujana. Tantto mengawali performanya dengan sapuan-sapuan kuas pada sebidang kanvas. Sementara Sujono meresponsnya lewat pertunjukan mengenakan sejumlah masker pada wajahnya, sambil menembang kidung Rumeksa Ing Wengi gubahan Sunan Kalijaga, kidung untuk menolak bala.

Lukisan tersebut berjudul "Kapan Berakhir" (2021). Tantto menampilkan figur-figur gaib khas Indonesia, seperti pocong, buta ijo, kuntilanak, genderuwo, dan tuyul. Lalu ada Gunung Merapi yang meletus di belakang mereka, sekumpulan makam, dan bentuk-bentuk virus SARS-Cov-2 alias Covid-19.

Baca Juga: Dukung PPKM, Operasi Yustisi Kejati Jaring 800 Kasus Melanggar Prokes

Lukisan dibawa Tantto dan Sujono ke suatu sudut kolam ikan. Mereka lantas menceburkan diri dan melempar-lempari lukisan dengan lumpur yang mereka keruk dari dasar kolam. Lukisan pun hitam legam, sebelum akhirnya diciprati air agar terlihat kembali.

Tantto menuturkan karyanya adalah bentuk empati dan simpati atas situasi imbas pagebluk corona. Ia mengibaratkan corona seperti makhluk gaib, tidak terlihat lewat mata, tetapi nyata dan ada.

"Saya ibaratkan covid itu tidak nampak dilihat secara kasat mata. Dan saya gambarkan beberapa makhluk gaib, ibaratnya kita sama-sama tidak bisa melihat. Maka dari itu kita harus waspada," bebernya selepas pentas di Valeria Art Studio, Rabu (21/7) pagi.

Baca Juga: Kawasan Malioboro Mulai Dibuka Terbatas, Wisawatan Tetap Tak Boleh Masuk

Sedangkan aksi melempar lumpur tadi, menurut seniman bernama asli Tri Hartanto ini ialah kiasan tentang pengusiran pagebluk dari dunia. Penyipratan air pada lukisan juga merupakan simbol tentang pandemi yang segera berakhir.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi Rock - Ketika Sudah Ya Usai

Kamis, 5 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Di Balik Lengkingan

Rabu, 4 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Keramaian Masih Jauh

Selasa, 3 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Selamanya Hidangan

Senin, 2 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Masih Sekeras Besi

Minggu, 1 Agustus 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Lapar Tak Berbatas

Sabtu, 31 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Berair Tak Berakhir

Jumat, 30 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Kecuali

Kamis, 29 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Perangai Besi

Rabu, 28 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Membangun Keabadian

Selasa, 27 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Gedongan Sekejap

Senin, 26 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Tumpukan Hasad

Minggu, 25 Juli 2021 | 07:48 WIB

Kerumunan Penyair di Tengah Pandemi

Minggu, 25 Juli 2021 | 06:12 WIB

Puisi Rock - Mendamba Keajaiban

Sabtu, 24 Juli 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Hanya Sebatas Percikan

Jumat, 23 Juli 2021 | 07:48 WIB
X