Merawat Ingatan Lelagon Banyumasan

- Jumat, 16 Juli 2021 | 07:58 WIB
webinar (Setiawan Hendra Kelana)
webinar (Setiawan Hendra Kelana)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kidung dalam sastra lisan diartikan sebagai nyanyian.

Kidung ini dalam kebudayaan Banyumas disebut dengan lelagon Banyumasan yang ditampilkan sebagai performing art dengan iringan gamelan.

Hal itu disampaikan Prof Dr Sugeng Priyadi saat menjadi narasumber dalam acara webinar Kidungan dalam Keyakinan dan Tradisi Masyarakat Banyumas yang digelar Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional (KKLP) Pelindungan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah (BBPJT) secara daring melalui Zoom Meeting.

Baca Juga: Puisi Rock - Kain Terangkat Menari

“Kidung merupakan sastra puisi yang dilisankan. Kidung ini dikenal sejak zaman Majapahit akhir. Namun, oleh orang-orang Bali kidung dianggap tidak seindah kakawin,” katanya.

Dalam acara yang dipandu Naratungga Indit Prahasita itu, Sugeng mengatakan, lelagon Banyumasan menggunakan bahasa dialek Banyumas dan bersifat legendaris.

“Yang legendaris itu, antara lain, Kembang Glepang, Ilogondang Banyumasan, Uthuluwuk. Dawet Ayu itu masih baru, lalu yang terkenal lagi Gudril, Eling-eling, Ricik-ricik, Waru Dhoyong, Uler Kembang, Glaha Glehe, Randha Nunut,” tutur Sugeng.

Baca Juga: Puisi Rock - Seharian Itu

Guru besar bidang Ilmu Pendidikan Sejarah, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, itu menjelaskan, orang Banyumasan selalu nembang dengan cara memelesetkan, misalnya tembang Randha Nunut.

Tembang yang dinyanyikan oleh para sinden dipelesetkan oleh para niyaga atau para pengendang.

“Anak-anak Banyumas juga banyak punya nyanyian tembang. Saya sering mendengarkan kreativitas tembang Banyumasan itu saat pertunjukan. Sayangnya para pelaku seni itu sudah sangat jarang,” tambahnya.

Sugeng mengajak masyarakat untuk merawat ingatan akan budaya yang dimiliki bangsa.

Pada masa Kerajaan Majapahit lahir karya-karya berbentuk kidung.

Namun, karena saat itu Kerajaan Majapahit runtuh, sastra kidung dengan kakawin dibawa ke Bali.

“Sastra Jawa tidak boleh mati. Ronggo Wasito bukanlah sastrawan penutup bagi sastra Jawa. Oleh karena itu, harus dihadirkan sastrawan-sastrwan Jawa dikemudian hari,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dr Ganjar Harimansyah menyatakan, dalam sebuah sastra lisan ada beberapa yang sudah terlupakan.

Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah memiliki konsentrasi pekerjaan konservasi sastra lisan.

“Terdapat lima program perlindungan bahasa dan sastra daerah yang dilakukan oleh Balai Bahasa. Dalam lima program tersebut Balai Bahasa juga akan mengukur daya hidup bahasa serta bagaimana konservasi sastra lisannya,” katanya.

Halaman:
1
2

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Terkini

Puisi Rock - Dua Lagu yang Berbeda

Sabtu, 24 September 2022 | 23:46 WIB

Puisi Rock - Pintu Sesukanya

Jumat, 23 September 2022 | 21:51 WIB

Puisi Rock - Mengeja Diri

Kamis, 22 September 2022 | 23:54 WIB

Puisi Rock - Asyiknya Cuma cuma

Rabu, 21 September 2022 | 23:49 WIB

Puisi Rock - Meski Ada yang Terkikis

Selasa, 20 September 2022 | 23:53 WIB

Puisi Rock - Teriakan Rerumputan

Senin, 19 September 2022 | 23:47 WIB

Porsimaptar XXII Kembali Digelar, Diikuti 17 Negara

Senin, 19 September 2022 | 17:15 WIB

Puisi Rock - Lagu Usang Membosankan

Minggu, 18 September 2022 | 23:44 WIB

Puisi Rock - Tepuk Tangan Sunyi 3

Sabtu, 17 September 2022 | 23:55 WIB
X