BTS dan Budaya Glam dalam Dunia Musik Pop

- Sabtu, 12 Juni 2021 | 08:15 WIB
Grup BTS. (foto: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)
Grup BTS. (foto: pikiran rakyat) (Nugroho Wahyu Utomo)

INDONESIA saat ini lagi heboh BTS. Apalagi dengan adanya BTS Meal yang digelar produk makanan cepat saji.

Apa itu BTS? Bagi kalangan orang tua, nama BTS seakan asing di telinga.

Namun tidak bagi kalangan milenial, terutama wanita yang sangat gandrung dengan grup K-pop ini.

Baca Juga: Kolaborasi Internasional, Musisi Reggae Asal Kebumen Ras Inggi Rilis 'Dont Give Up'

Kalangan orang tua yang menyaksikan BTS melalui tayangan di medsos atau televisi selanjutnya merasa ngeri.

Kengerian itu sangat beralasan, lantaran para personel BTS dandan mirip wanita, padahal laki-laki.

Wajah-wajah mereka yang sudah sebegitu tampan, masih dirias sedemikian rupa agar lebih memikat penggemarnya, terutama wanita.

Baca Juga: Rilis Single 'Perjumpaan Kita' Candra Darusman Gaet Dian Sastrowardoyo

Karuan saja membuat histeris kalangan wanita milenial, tak kalah dengan histeria penggemar The Beatles (beatlemania), New Kid on The Block, atau Westlife, misalnya.

Sesungguhnya perihal laki-laki berparas dengan riasan mirip wanita sudah terjadi sejak akhir tahun 1960-an.

Konon budaya semacam itu disebut budaya glam atau glitter.

Kata glam berasal dari kata glamour, yang artinya serba gemerlap. Sebab umumnya wanita jauh lebih suka tampil gemerlap ketimbang laki-laki.

Lucunya, budaya glam itu sengaja diciptakan musisi di Inggris di akhir 1960-an dan semakin menggila di awal 1970-an.

Pelopornya grup T-Rex dgn vokalisnya Marc Bollan. Sedangkan untuk penyanyi adalah David Bowie.

Selanjutnya di tahun 70an budaya glam meluas ke wilayah musik rock.

Kita mengenal grup Queen, Kiss yang merupakan dua dari sekian banyak grup rock penganut glam rock.

Bahkan karakter glam sendiri kemudian merasuk ke dalam diri sang vokalis Queen, Freddy Mercury.

Sementara Kiss lebih menonjolkan pada riasan wajah berwujud mirip topeng.

Pada era 80an, glam juga memapar musisi new wave, macam Duran Duran, Alphaville, atau Stray Cats.

Mereka umumnya tampil genit di atas panggung memainkan musik pop elektro atau punk dengan wajah yang dirias tidak kalah cantik dari kaum wanita.

Sementara di belantara musik rock dan heavy metal, budaya glam mencapai puncaknya pada tahun 1990-an.

Pertengahan tahun 1980-an, masih dijumpai band-band rock/heavy metal yang tampil dengan wajah dipoles atau berpenampilan mirip wanita, walau sebenarnya mereka terlihat macho.

Sebut saja grup Twisted Sister, Motley Crue, Bon Jovi, Guns N Roses, Brinty Fox, dan lain-lain.

Sedangkan band-band thrash metal, grunge lebih memilih tampil apa adanya dan terkesan menolak keras gaya glam.

Lihat saja penampilan Metalica, Kreator, Megadeth, Testament, Nirvana, Pearl Jam, toh mereka tampil apa adanya layaknya musisi rock.

Banyak kalangan terutama kalangan relijius yang menilai bahwa maraknya budaya glam adalah akhir dari dunia.

Bahkan kemarakan budaya glam pada masa itu sempat disindir Erros Djarot lewat lagu karyanya yang dibawakan Chrisye di album Sendiri (1985): ...dunia mode semakin menjadi/wanita dandan bagai lelaki/ begitu pula sebaliknya pria/ ohh celaka.

Bagi komposer macam Erros Djarot, budaya glam seolah bagaikan tren atau mode yang terus menggila.

Sebuah lirik satire dari guratan Erros Djarot yang dikenal cukup kritis membaca situasi sosial budaya saat itu.

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenal TREASURE, Grup Muda YG Entertainment

Senin, 29 November 2021 | 10:01 WIB

Tagar Kai Comeback Tengah Trending, Ini Penyebabnya

Senin, 29 November 2021 | 06:48 WIB

Dua Lagu Ini Jadi Penyemangat bagi Penderita AIDS

Sabtu, 27 November 2021 | 21:52 WIB
X