Anak 15 Tahun Perankan Istri Ketiga, Sinetron Suara Hati Istri Zahra Diminta Dihentikan

- Jumat, 4 Juni 2021 | 21:06 WIB
Anggota Komisi D DPRd Jateng, Tazkiyyatul Muthmainnah
Anggota Komisi D DPRd Jateng, Tazkiyyatul Muthmainnah

SEMARANG, suaramerdeka.com - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) diminta menghentikan tayangan sinetron Suara Hati Istri episode Zahra yang ditayangkan salah satu televisi swasta nasional berjaringan. Sebab, sinetron tersebut menggunakan artis berusia 15 tahun yang memerankan istri ketiga. Selain itu, konten dalam sinetron itu justru terkesan mengampanyekan pernikahan usia anak.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Tazkiyyatul Muthmainnah prihatin dengan adanya sinetron tersebut. "Saya berharap KPI tegas untuk menghentikan tayangan sinetron tersebut," kata dia, Jumat (4/6).

Iin, panggilan akrab anggota Dewan dari PKB ini menilai meskipun KPI telah memanggil pengelola stasiun televisi dan memberikan saran agar mengganti pemeran, itu belum cukup. Sebab yang terpenting jangan sampai televisi menayangkan lagi pernikahan usia anak, apalagi dalam cerita poligami.

Baca Juga: Bulan Bung Karno, Mega akan Pidato Buka Pameran Lukisan di Yogyakarta

Diketahui, KPI menindaklanjuti tayangan sinetron Suara Hati Istri episode Zahra yang sempat dikecam netizen. KPI telah meminta penjelasan dari stasiun televisi tersebut.

Pihak stasiun televisi menerima masukan dari KPI dan segera mengganti pemeran dalam tiga episode mendatang. Selanjutnya akan menjadi acuan stasiun televisi untuk selalu mengingatkan production house (PH) agar memakai pemeran-pemeran usia di atas 18 tahun untuk peran yang sudah menikah.

Lebih lanjut Iin mengatakan, berkaca dari sinetron Zahra ini mestinya tak hanya pada masalah usia pemeran. Namun juga pada konten di televisi.

Menurut Ketua PW Fatayat NU Jateng itu tidak sepatutnya televisi menayangkan sinetron yang menceritakan pernikahan anak.

Baca Juga: Liverpool Pertajam Lini Depan, Striker Leeds Jadi Incaran

"Apalagi dikemas dalam cerita poligami, di sana juga diceritakan pemain mengalami kekerasan berupa paksaan menikah maupun kekerasan secara psikis," imbuhnya.

Dia mengatakan, Indonesia saat ini sedang berupaya menekan angka usia nikah anak yang masih tinggi. Di Jateng hampir 12.000 kasus pernikahan anak. "Kenapa justru ada stasiun televisi yang menayangkan pernikahan usia anak?" tanya dia.

Di dalam UU Penyiaran, kata dia, anak merupakan khalayak khusus yang harus dilindungi. Televisi harus menjadi media yang ramah anak dengan cara melindungi dan memberikan hak anak.

Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UNDP Serukan Kaum Muda Ambil Peran Lebih Besar dalam Transisi Energi Bersih

'Di dalam UU Pernikahan batas usia menikah adalah 19 tahun. Jadi sekali lagi, bukan semata persoalan usia pemeran, tapi jangan sampai ada tayangan pernikahan usia anak," tegas dia.

Ketua Pansus Raperda Perlindungan Anak DPRD Jateng itu menyebut, tayangan sinetron Zahra tersebut layak dihentikan karena tidak memberikan edukasi yang baik.

Menurutnya, KPI harus tegas, dan menunjukkan kapabilitasnya agar konten televisi lebih berkualitas. "Salah satu fungsi penyiaran adalah hiburan tapi hiburan yang sehat. Semua lembaga penyiaran harus memegang prinsip itu," pungkasnya.

Halaman:

Editor: Ahmad Rifki

Tags

Terkini

Film 'Luca' , Sosok Monster Laut yang Ramah

Rabu, 15 September 2021 | 10:16 WIB

Festival Film Internasional Venice 2021 Kembali Digelar

Minggu, 12 September 2021 | 12:22 WIB
X