Sambut Hari Ayah, Film Karya Sineas Muda Semarang ''Tiga Babak Bapak'' Ditayangkan

- Kamis, 11 November 2021 | 21:13 WIB
FILM : Sutradara dan aktor Film ''Tiga Babak Bapak'' usai menyaksikan bersama penanyangan perdana film tersebut di XXI Paragon, Kamis 11 November 2021. (suaramerdeka.com/Arif Prayoga)
FILM : Sutradara dan aktor Film ''Tiga Babak Bapak'' usai menyaksikan bersama penanyangan perdana film tersebut di XXI Paragon, Kamis 11 November 2021. (suaramerdeka.com/Arif Prayoga)

 

SEMARANG, suaramerdeka.com - Sineas muda Kota Semarang menghasilkan karya Film ''Tiga Babak Bapak'' yang penayangannya secara perdana di bioskop difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang.

Film tersebut dibuat dalam rangka menyambut peringatan Hari Ayah pada 12 November 2021.

Sutradara Film ''Tiga Babak Bapak'', Ardian Parasto mengatakan, pembuatan film tersebut terinspirasi pada saat dirinya membayangkan menjadi seorang bapak.

Baca Juga: Sushi Jenis Ini Populer di Indonesia, Kamu Wajib Tahu!

Dia berpikiran apa yang akan dilakukannya jika nanti dirinya mempunyai anak, akan seperti apa anaknya saat sudah besar dan memiliki kehidupan sendiri.

Apalagi selama ini, sosok bapaknya yang juga menjadi sumber inspirasinya, merupakan pribadi yang jarang berdrama dalam kehidupannya.

''Bapak saya merupakan karakter yang tegar dalam menjalani kehidupannya. Saya pun mencoba mendalami, seperti apa rasanya menjadi bapak, yang kemudian dituangkan idenya sehingga menghasilkan film ini.

Baca Juga: Kursusan Online; Sebuah Revolusi Edupreneurship di Masa Pandemi Covid-19, Siapa yang Diuntungkan?

Persiapan pembuatan film terbilang mepet, karena harus diselesaikan dalam waktu kurang dari dua minggu. Beruntungnya, kami dapat melakukan kasting dan segera menemukan aktor-aktor film ini,'' ujar dia, usai penanyangan perdana film tersebut di XXI Paragon, Kamis 11 November 2021.

Film tersebut, kata dia, berkisah tentang tiga bapak yang berasal dari tiga latar belakang yang berbeda. Mereka digambarkan tengah melalui babak kehidupan yang berbeda satu sama lainnya.

Bapak pertama diperlihatkan dalam babak awal, menceritakan seorang calon bapak dari etnik Jawa yang harus bekerja dan menunggu isterinya saat sedang hamil 7 bulan.

Baca Juga: Jalan Tol Dipastikan Aman Saat Nataru, Ditlantas Polda Jateng Cek Lokasi Blackspot

Babak kedua, mengenai bapak yang ditinggalkan isterinya yang berasal dari etnik Tionghoa, sementara anak-anaknya telah beranjak dewasa.

Sedangkan babak akhir memperlihatkan bapak dari etnik Arab yang hendak melepas anaknya karena telah dewasa dan hendak menjalin kehidupan berumah tangga.

''Proses syuting berhasil dirampungkan selama sepekan, yang semua pengambilan gambarnya dilakukan di Kota Semarang. Kami mengambil tiga latar belakang dan etnik bapak yang berbeda, karena untuk menunjukkan kehidupan multikultural yang ada di Kota Semarang. Kami juga kemarin sempat mendapatkan tawaran untuk menayangkan film ini di Jakarta dan Bali,'' ucap dia.

Salah satu aktor film, Riki Ravaneli mengaku baru pertama kali terlibat dalam pembuatan film layar lebar bersama Disbudpar Kota Semarang.

Baca Juga: Permendikbud Jadi Kontroversi, Nadiem Bantah Halalkan Seks Bebas dan Perzinaan

Untuk itu, dirinya mendapatkan banyak bimbingan dari pemeran-pemeran lain yang lebih senior.

''Seru banget karena bisa bermain di film layar lebar. Apalagi di tengah pandemi seperti ini, ternyata film yang disutradarai mas Ardian Parasto berhasil tayang secara perdana secara offline di bioskop,'' ujar dia.

Film ini juga disaksikan Sekda Kota Semarang Iswar Aminuddin, Kepala Disbudpar Kota Semarang Indriyasari, dan sejumlah jajaran OPD terkait lainnya. Pada kesempatan itu, Iswar mengapresiasi hasil karya anak muda Kota Semarang.

Baca Juga: Semarang Sketchwalk Nyeket di Kota Lama Semarang

Apalagi semua proses pengerjaannya, mulai dari skenario cerita, penyutradaan, penataan suara hingga editing film, tidak kalah dengan karya anak muda di kota-kota besar lainnya.

''Dengan durasi 50 menit, alur cerita dapat dipahami dengan baik. Untuk menggambarkan bagaimana pengorbanan dan perjuangan seorang bapak.

Pada dasarnya, bapak-bapak itu lebih diam namun sesungguhnya mereka tetap berjuang keras bagi keluarganya,''

Mengingat saat ini masih dalam kondisi pandemi, dia berharap setiap anak muda yang masih tetap berkarya, untuk tidak melupakan dan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Walaupun sekarang telah berada dalam kondisi PPKM level 1.

"Kami akan terus mendorong anak-anak muda Kota Semarang untuk semakin gigih lagi dalam menghasilkan karya-karya lainnya. Harapannya mampu menghasilkan karya yang fenomenal, sehingga karyanya mampu mengangkat Kota Semarang di kancah nasional maupun internasional,'' tegas dia.

Halaman:
1
2
3

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X