Berlatar Pemberontakan Gwangju 1980, Drama Korea Youth of May Hadirkan Kisah Manis yang Tragis

- Senin, 20 September 2021 | 07:18 WIB
Drama Korea Youth of May. (foto: pikiran rakyat)
Drama Korea Youth of May. (foto: pikiran rakyat)

suaramerdeka.com – Bagi yang suka genre melodrama, pasti nggak asing kan dengan Youth of May.

Apalagi pemeran utamanya papa muda kebanggaan kita.

Untuk yang belum tahu, Youth of May merupakan melodrama yang ditayangkan melalui saluran KBS.

Baca Juga: Viral, Komedian Tanah Air Parodikan Video Klip 'Lalisa' nya Lisa Blackpink

Drama ini dibintangi oleh Lee Do Hyun dan Go Min Si.

Keduanya pernah membintangi projek yang sama, Sweet Home.

Meskipun sebelumnya mereka dipasangkan sebagai saudara, tapi chemistri yang ditampilkan dalam Youth of May nggak bikin canggung.

Baca Juga: Serial Netflix 'You' Rilis Bulan Oktober, Trailer Tampilkan Adegan yang Mencekam

Youth of May menceritakan tentang kisah cinta Hwang Hee Tae (Lee Do Hyun) dan Kim Myung Hee (Go Min Si) dengan latar belakang tahun 1980 di mana pemberontakan Gwangju terjadi pada saat itu.

Hee Tae merupakan seorang mahasiswa kedokteran yang datang ke Gwangju untuk mengurus pemindahan pasien yang kritis akibat demo di Seoul.

Di sana, ia bertemu dengan Myung Hee, seorang suster yang bercita-cita untuk kuliah di Jerman.

Keduanya dipertemukan ketika Myung Hee menggantikan sahabatnya, Lee Suryeon (Geum Sae Rok) untuk melalukan kencan dengan Hee Tae karena perjodohan kedua keluarga.

Seiring berjalannya waktu, perasaan Myung Hee dan Hee Tae semakin kuat.

Tetapi, kisah cinta keduanya tidaklah mudah.

Mereka harus melewati banyak rintangan untuk bersama, meskipun akhirnya Hee Tae menua sendiri.

Dalam drama ini diperlihatkan bagaimana suasana pemberontakan Gwanju pada saat itu.

Pemberontakan Gwanju sendiri merupakan peristiwa pergerakan demokrasi yang terjadi di Gwangju, Korea Selatan.

Kejadian itu terjadi pada Mei 1980.

Youth of May memberikan gambaran yang sangat pedih atas pemberontakan saat itu.

Mulai dari kejamnya pimpinan tentara, hingga brutalnya penembakan terhadap mahasiswa dan rakyat biasa oleh tentaranya sendiri.

Tak hanya memberikan cerita yang menarik, peristiwa pemberontakan Gwangju yang diangkat dalam drama ini juga memnyampaikan rasa empati.

Romantisme yang dihadirkan di sini bukan kisah romansa klise antar dua pemuda.

Tetapi kisah cinta realistis tahun 80an.

Penulis juga menggunakan penggunaan bahasa yang romantis, namun tidak terdengar norak.

Drama ini juga menyajikan color grading yang enak dilihat, hangat, dan tidak perih di mata.

Meskipun latarnya tahun 80an, tetapi cinematography yang ditampilkan terlihat begitu aesthetic. (mg10)

Halaman:

Editor: Nugroho Wahyu Utomo

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Terkini

X