Pameran Tunggal Eyel- Persisten dan Konsisten, Apresiasi Kooky Love Usai 16 Tahun Berkarya

- Selasa, 14 September 2021 | 08:12 WIB
Kooky Love pameran tunggal Eyel-Persisten dan Konsisten di Waroeng Kopi Alam, Singosari, Semarang. (suaramerdeka.com / Jati Prihatnomo)
Kooky Love pameran tunggal Eyel-Persisten dan Konsisten di Waroeng Kopi Alam, Singosari, Semarang. (suaramerdeka.com / Jati Prihatnomo)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Apresiasi adalah proses penilaian atau penghargaan positif yang dilakukan oleh seseorang terhadap sesuatu seperti karya seni.

Hal itu yang menjadi latar belakang digelarnya pameran tunggal Eyel-Persisten dan Konsisten di Waroeng Kopi Alam, Singosari, Semarang, Sabtu 11 September 2021 kemarin.

“16 tahun berkarya di dunia desain grafis dan ilustrasi bagi saya adalah sebuah proses kreatif dan belajar panjang yang tidak pernah berhenti sampai hari ini," kata kata Dina Prasetyawan atau lebih dikenal dengan pseudonym kooky love, baru-baru ini.

"Pameran tunggal ini juga bentuk apresiasi terhadap diri saya sendiri yang sudah melangkah sejauh ini, serta ungkapan terimakasih kepada Tuhan dan kepada orang-orang yang telah mendukung saya, menjadi seniman yang merdeka dengan karya-karyanya,” kata dia.

Baca Juga: Ivan Gunawan Kerja Sama Partner Bakso Aci Bangun Masjid, Berikut Gambar Desainnya

Sebanyak 16 karya desain selama 16 tahun terakhir sejak tahun 2005 sampai dengan 2021 dipamerkan. Proses kurasi karya dibantu oleh Adin Mbuh dari Kolektif Hysteria. Tak hanya menggunakan media paper print, tapi juga diaplikasikan ke dalam media kaos.

“Saya kira ini yang pertama pameran desain dengan aplikasi media kaos,” tuturnya.

Kepada suaramerdeka.com, Dina sedikit bercerita tentang masa kecilnya yang suka menggambar, bahkan cita-citanya adalah menjadi seniman gambar.

“Cita-cita itu tidak pernah saya ganti dengan cita-cita yang lain. Walau sesungguhnya pilihan cita-cita ini pada masa kecil saya bukanlah pilihan yang ideal atau favorit di budaya masyarakat pada saat itu,” ungkapnya.

Baca Juga: Addie MS Rayakan HUT Ke 34 Pernikahannya: Pacaran 5 Tahun bukan Hal Mudah

Keluarganya pun mendukung pilihannya, bahkan kedua orang tuanya selalu bangga menunjukkan karya gambarnya kepada tetangga, kerabat, teman kerja dan tamu yang datang ke rumah.

“Saya menemukan bahwa melukis itu kegiatan yang menyenangkan. Masa kecil saya dipenuhi dengan buku gambar dan buku tulis yang selalu penuh dengan gambar-gambar buatan saya."

"Bapak, ibu dan saudara saya sangat mendukung hobi menggambar saya ini. Bapak dan ibu kurator karya pertama saya. Dukungan mereka jadi semacam suntikan semangat setiap saya berkarya,” kata Dina menceritakan.

Meski bercita-cita ingin menjadi seniman gambar, Dina mengaku sempat berada di persimpangan jalan menuju mimpinya tersebut.

Baca Juga: Tembang Nostalgia - Aku Cinta Dia, Lagu Tambahan sebagai Jagoan

Bekerja di berbagai macam profesi juga sempat dilakukan.

“Setelah lulus kuliah di tahun 2000, saya mengalami tahun-tahun ngeblur antara 2000-2003. Mencoba melamar kerja di sana-sini tapi belum ada panggilan."

"Saya juga pernah mencoba membuat clothing dengan nama brand kooky love bersama teman teater saya tapi belum sempat terwujud."

"Rancangan nama clothing tersebut akhirnya saya pake sebagai pseudonym saya di threadless,” bebernya.

“Juga sempat berpikir jadi penulis, karena saya juga suka menulis. Bahkan cerpen saya berjudul Mimpi Segunung pernah dimuat di Majalah Hai edisi September 1997,” ungkapnya.

“Sampai pada akhirnya, saya menemukan bahwa diri saya telah mencapai cita-cita masa kecil ketika saya mulai menerjuni dunia desain dan ilustrasi ini, terhitung sejak saya mulai bekerja di PT Arindo Garmentama sekitar bulan Juli 2003 sebagai desainer grafis baju anak untuk brand Matahari departement store, Little m, Aerokids, dan Kids Too,” kata Dina menambahkan.

Dua tahun kemudian seorang teman kerja mengenalkannya dengan situs kompetisi desain kaos online yang cukup familiar di kalangan seniman gambar, threadless.

Bergabung sejak Juli 2005, ia telah membuat dan submit karya sebanyak 1.369 desain sampai hari ini.

“Tahun ini adalah tahun ke 16 saya berkiprah di dunia ilustrasi t-shirt. Awal bergabung dengan threadless sangatlah berat, saya harus submit sebanyak 43 desain dalam waktu 1 tahun sampa akhirnya desain yang ke 44 dipilih oleh threadless sebagai juara untuk dicetak. Desain pertama saya adalah 3 House. Pada titik inilah saya menemukan semboyan hidup yang saya pegang sampai sekarang, Never give up, but keep it up! Maybe your next design is your winning design,” terangnya.

Lebih lanjut, Dina menuturkan melalui pameran tunggal ini dirinya ingin menularkan sebuah semangat bahwa melalui menggambar orang bisa hidup sejahtera.

Bagaimana seni bertahan hidup dengan tetap fokus, konsisten dan persisten pada jalur karya seni itu sendiri (ilustrasi t-shirt).

Bagaimana proses berkesenian kita mampu menghidupi kita, bahkan membuat hidup kita jauh lebih sejahtera secara rohani ataupun jasmani.

“Pameran tunggal saya bertajuk Eyel ini sesungguhnya bertujuan untuk membagikan pengalaman berkesenian dan kehidupan nyata sehari-hari yang saya alami selama 16 tahun terakhir ini."

"Ngéyél bagi saya adalah sebuah sikap etos kerja yang tidak mau mengalah/ kalah dengan keadaaan ( nasib, framing, stigma, batasan dan keterbatasan) sampai akhirnya kita bisa meraih apa yang menjadi pencapaian kita dan kita bisa merdeka dalam berkarya. Dan itu saya buktikan sampai sekarang,” pungkasnya.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Puisi Rock - Jalan Berbelok

Minggu, 17 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Mengejar Gelombang

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Terjerembab Kosong

Jumat, 15 Oktober 2021 | 07:51 WIB

Puisi Rock - Tirai Menjemukan

Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:51 WIB

Puisi Rock - Hari Ini Tanpa Judul

Rabu, 13 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Demikian Rerumputan

Selasa, 12 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Siapa?

Senin, 11 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Sebuah Anjuran

Minggu, 10 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Bola Ini

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Abdulrazak Gurnah Dianugerahi Hadiah Nobel Sastra

Sabtu, 9 Oktober 2021 | 06:45 WIB

Puisi Rock - Percikan untuk Rerumputan

Jumat, 8 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Kejenuhan di Hamparan Samudera

Kamis, 7 Oktober 2021 | 07:48 WIB

Puisi Rock - Sesungguhnya Sekarang

Rabu, 6 Oktober 2021 | 07:48 WIB
X