Kilas Balik Film Pengkhianatan G30S PKI, Amoroso Katamsi: Apa Iya, Saya Mirip Pak Harto?

- Sabtu, 11 September 2021 | 19:39 WIB
Amoroso Katamsi/Courtesy PFN/ Film Pengkhianatan G30SPKI
Amoroso Katamsi/Courtesy PFN/ Film Pengkhianatan G30SPKI

SEMARANG, suaramerdeka.com - Amoroso Katamsi, siapa yang tak kenal dengan pemeran Panglima Kostrad Mayjen TNI Soeharto dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI?

Film propaganda Orde Baru ini menjadi tontonan wajib setiap tahun, yang diputar setiap 30 September di TVRI.

Lalu, bagaimana awal mula Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Amoroso Katamsi, memulai karirnya sebagai aktor, sementara pria kelahiran Jakarta pada 21 Oktober 1938 itu adalah seorang dokter dan psikiater TNI Angkatan Laut?

Persahabatannya dengan sutradara Arifin C Noer membawanya terpilih sebagai pemeran Soeharto.

Saat itu, Arifin memang tengah mencari pemain yang mirip dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam peristiwa sejarah bansa Indonesia itu.

“Kebetulan saya memang satu grup (Teater Kecil, red) dengan Arifin, dan ketika itu dia mengatakan bahwa saya dicadangkan untuk memerankan Pak Harto. Sementara saya tahu bahwa asisten-asistennya Arifin masih terus mencari tokoh yang dipandang lebih mirip dengan Pak Harto.

Proses berjalan, sampai saatnya pembuatan film dimulai, agaknya keputusan akhir dari Arifin, Pak Dipo (Gufran Dwipayana sebagai produser, red.) dan yang lainnya, menetapkan saya sebagai pemeran Pak Harto,” kata Amoroso, seperti dikutip dalam wawancara dengan Majalah Pertiwi di tahun 1989.

Senang dan juga bangga yang dirasakan Amoroso saat itu. Namun, sekaligus menjadi beban karena memerankan orang nomor satu di Indonesia.

“Yang berbeda adalah, karena orang yang saya perankan betul-betul ada, sehingga banyak bahan yang bisa saya pelajari. Kalau dalam peran biasa bahan saya skenario, kemudian saya kembangkan sendiri untuk mencari latar belakang dari skenario itu.

Amoros mengungkapkan banyak mendalami tokoh Soeharto melalu buku-buku Biografi, foto dan film tentang Soeharto di masa itu.

"Dalam perannya menjadi Pak Harto, selain mempelajari skenario, juga banyak bahan yang mesti saya pelajari pula.

Misalnya buku-buku tentang beliau, foto dan film tentang beliau pada masa itu, saya coba simak untuk bisa menopang proses penghayatan saya terhadap Pak Harto yang akan saya perankan,” kata Amoroso, seperti dikutip dari Historia.

Selama 3 bulan berlatih, akhirnya ia mampu mengimajinasikan karakter Soeharto.

Banyak yang menilai Amoroso paling mirip dengan Soeharto. Namun, dirinya tak pernah merasa mirip Soeharto.

Orang lain pun tak pernah mengatakan dirinya mirip Soeharto. Justru saat sudah terpilih untuk memerankan Soeharto, dia masih bertanya-tanya, “Apa ya, saya mirip Pak Harto?”

“Halnya suara, orang juga menilai hampir mirip dan memang dalam film itu suara saya asli,” kata Amoroso seperti dikutip dalam wawancara dengan Panji Masyarakat, 21-30 November 1991.

Memerankan Soeharto mengantarkan Amoroso menjadi nominator pemeran utama terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 1984. Sebelumnya, dia terpilih sebagai pemeran pembantu pria terbaik dalam film Serangan Fajar tahun 1982.

Apa Siapa Orang Film Indonesia mencatat filmografi Amoroso antara lain Darah ibuku (semi dokumenter), Menanti Kelahiran Cinta Abadi (1976), Terminal Cinta, Duo Kribo, Balada Anak Tercinta (1977), Yuyun: Pasien Rumah Sakit Jiwa, Buah Terlarang (1979), Gadis Penakluk (1980), Nyanyian Setan, Calon Arang, Bila Saatnya Tiba (1985), dan Pergaulan (1994).

Tak hanya menjadi seorang aktor, Amoroso memang mumpuni dibanyak hal. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris dewan juri film cerita pada FFI (1990-1992) dan ketua dewan juri sinetron cerita pada Festival Sinetron Indonesia 1995. Dia duduk dalam Dewan Pertimbangan Organisasi Persatuan Perusahaan Film Indonesia (1998-2001).

Karirnya terus menanjak. Dan sejak tahun 1990, dia dipercaya menjabat sebagai direktur utama PFN (Produksi Film Negara).

Amoroso Katamsi meninggal dunia di RSAL Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada 17 April 2018, pukul 01.40 WIB.

Menjalani kehidupan rumah tangga, Amoroso menikahi Pranawengrum, maestro seriosa Indonesia.

Keduanya bertemu saat kuliah di Universitas Gajah Mada: Amoroso jurusan kedokteran, Pranawengrum jurusan fakultas sosial politik.

Mereka mendirikan perkumpulan Wijaya Kusuma yang bergiat dalam drama, musik dan tari.

Selain itu, mereka juga anggota paduan suara Pusat Olah Vokal (POV) pimpinan N. Simanungkalit antara 1963 dan 1966. Amoroso kemudian memilih dunia panggung dan film, sedangkan Pranawengrum tetap setia sebagai penyanyi seriosa.

Mereka dikaruniai tiga anak: Ratna Arumsari, Doddy Keswara, dan Ratna Kusumaningrum alias Aning Katamsi, yang semuanya mewarisi bakat seni dari kedua orang tuanya.

 

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Historia

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X