Bioskop Dilarang Beroperasi Selama PPKM, GPBSI: Ekosistem Perfilman Indonesia Akan Jadi Korban

- Rabu, 8 September 2021 | 06:30 WIB
Webinar bertajuk 'Menelisik Minat dan Selera Penonton Muda Indonesia'. (suaramerdeka.com / dok)
Webinar bertajuk 'Menelisik Minat dan Selera Penonton Muda Indonesia'. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com - Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin memohon kepada pengambil kebijakan pelarangan pengoperasian bioskop selama masa PPKM, melibatkan semua pemangku kepentingan terkait.

"Dari hulu sampai hilir," kata Djonny Syafruddin dalam Webinar seri kedua yang digagas panitia Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2021, pada Selasa, 7 September 2021.

Djonny menambahkan, selama pemerintah terus memperpanjang PPKM per level di Jawa-Bali, serta terus mengabaikan pengusaha bioskop, maka ekosistem perfilman Indonesia akan menjadi korbannya.

"Bioskop tidak bisa disamakan dengan bisnis lainnya, atau pasar dan mal misalnya. Perlakuannya lain. Kalau bioskop diperlakukan sama, hancur kita," kata Djonny sembari mengajukan fakta, selama penutupan bioskop, satu bioskop rugi sebesar Rp 150 juta, per bulan.

Baca Juga: Kualifikasi Piala Dunia 2022: Belanda Cukur Turki 6-1, Depay Bikin Hattrick

Apalagi, pemerintah cq Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, telah memperpanjang PPKM hingga 13 September 2021.

"Makanya saya sangat berharap, mulai Selasa, tanggal 14 September bioskop benar-benar dapat beroperasional, meski ada penyesuaian di sana sini. Seperti jumlah penonton yang 50 persen," kata Djonny dalam webinar bertajuk "Menelisik Minat dan Selera Penonton Muda Indonesia".

Selain itu, sebagai pengusaha bioskop Djonny juga meminta dengan sangat Kemendikbud Ristek RI yang membawahkan urusan perfilman, memberikan perlindungan sepantasnya kepada keberlangsungan bioskop di Indonesia.

"Misalnya dengan membangun sistem yang proper kepada keberlangsungan bioskop. Bukan semata langkah aksidental," katanya.

Baca Juga: Festival Literasi dan Lomba Seni Resmi Digelar, Tiga Perpustakaan Sekolah Raih Penghargaan

Masih menurut Djonny, andaikata pada Selasa, tanggal 14 September nanti bioskop benar-benar beroperasional, dia menyangsikan apakah para produser film nasional mau dan berani memutar filmnya.

"Jangan-jangan nanti yang diputar film impor semua. Janganlah seperti. Ayolah sama-sama kita berjuang. Untung bersama. Rugi bersama," katanya.

Menurut Ody Mulya Hidayat, saat ini semua produser film sedang sama- sama wait and see. Apakah mau dan berani melepas filmnya di bioskop, atau memilih memutarnya di medium pemutaran film lainnya. Seperti Over The Top (OTT) misalnya.

Karena dia sangat menyadari, risiko memutar film di bioskop di masa pandemi dan PPKM seperti sekarang, sangat tinggi.

Baca Juga: Santri Ponpes Fadlul Wahid Divaksin

"Karena biaya membuat film tidak murah. Kita tidak mau kecebur. Makanya saling menunggu. Apakah memutar film di bioskop atau OTT, misalnya. Karena masing-masing mempunyai resiko," kata Ody Mulya Hidayat.

Atau kalau mau aman, masih menurut Ody, film diputar di bioskop dulu, baru kemudian digulirkan di OTT.

Karena sepengalamannya, sejumlah film kawan-kawannya sesama produser film mengalami hasil yang menyedihkan saat diputar di bioskop di saat pandemi.

"Meski diputar di masa golden Time, seperti akhir tahun dan lebaran kemarin," katanya.

Hal senada diungkapkan Anggy Umbara. OTT atau medium pemutaran lainnya di TV maupun handphone, dengan cara pay per view sebagaimana galib terjadi dalam siaran langsung dunia olah raga, menjadi alternatif pemutaran film.

Meski dia sangat menyadari, keberadaan bioskop tetap tidak dapat disejajarkan apalagi tergantikan dengan pengalaman menonton film, dengan medium TV atau handphone.***

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X