• KANAL BERITA

Kaum Millenial Jangan Takut Berkreasi Desain Interior

Foto: Suaramerdeka.com/ Mahendra Bungalan
Foto: Suaramerdeka.com/ Mahendra Bungalan

JAKARTA, suaramerdeka.com - Tak jauh berbeda dengan fashion, desain interior pun terus mengalami rotasi dari masa ke masa. Properti di Indonesia saat ini semakin berkembang, hal ini tak terlepas dari peran desain interior.

Setiap bangunan memiliki suasana yang berbeda tergantung konsep apa yang ingin ditonjolkan. Bisa dibilang generasi milenial yang mengambil jurusan desain interior masa depan yang cerah, tentunya harus memiliki passion di bidang ini.

Para praktisi dan ahli desain interior dari LaSalle College Jakarta meminta para milenial untuk jangan takut berkreasi dalam menciptakan ruang yang nyaman dan out of the box. Sebab dalam belajar interior, tak ada batasan usia.

"Belajar interior itu lintas usia, tidak hanya anak muda bahkan ada juga yang baru mulai di usia 40-an. Biasanya baru menemukan passion desain interior setelah lulus dari bidang yang lain. Jadi tidak ada batasan umur," kata Bayu Prastetyo, Senior Lecturer Program Desain Interior di Lasalle College Jakarta.

Meski desain interior sudah dipakai sejak lama, tapi justru perkembangan sektor properti yang semakin maju di Indonesia, membuat bidang desain interior baru saja dimulai.

Milenial semakin kreatif dalam mengembangkan ruang perkantoran seperti co-working space, apartemen, hingga residensial. "Pasti milenial membutuhkan peran desainer interior. Apalagi saat ini mereka semakin butuh hunian apartemen ataupun residensial," ujarnya.

Dalam menata interior apartemen misalnya, Bayu menyarankan milenial harus mempertimbangkan luasan apartemen. Salah satunya misalnya saat menata apartemen konsep mini studio.

"Jika luasan mini studio paling 20 meter persegi. Milenial harus bijak dalam menentukan dekorasi dan warna. Jangan memaksakan warna-warna yang ramai, nanti justru jadi terlihat sempit. Gunakan warna-warna tanah atau monokromatik yang membuat suasana lebih luas dan netral," jelas Bayu.

Desainer dan pengajar di LaSalle College Jakarta, Iwan Sastrawiguna menjelaskan dalam menata residensial tentu memiliki gairah yang berbeda dengan menata apartemen dan perkantoran. Ujung-ujungnya, desainer memiliki kesukaan sendiri di bidang masing-masing.

"Alhasil karena sudah sering menata residensial misalnya, itu akan terbawa terus dalam menyukai menata desain residensial. Akhirnya terbentuk kesukaan berdasarkan permintaan," ujarnya.

Dalam mengatur desain interior residensial untuk di rumah-rumah mewah tentunya berbeda dengan rumah minimalis dalam bentuk perumahan atau cluster.

Begitu juga untuk mendesain perkantoran. Biasanya dipertimbangkan dalam urusan siapa pegawai yang menghuni perkantoran tersebut. Jika kebanyakam milenial, maka pemilihan warna cat dinding dan dekorasi akan bermain. Misalnya akan dipilih suasana modern minimalis atau klasik.


(Mahendra Bungalan/CN33/SM Network)