• KANAL BERITA

Bukan Stres yang Membunuh Kita, Tapi Reaksi Kita pada Satu Masalah

Foto: mentalfloss.com
Foto: mentalfloss.com

“It is not our stress that kills us, it is our reaction to it.”

Itulah yang pernah dikatakan oleh Dr. Hans Selye. Memang tanpa kita sadari, kita sering sekali bereaksi berlebihan terhadap hal-hal kecil. Kalau kamu menemukan dirimu terlalu marah, sebal atau bersikap defensif pada hal-hal kecil, tenang, ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengelola emosi ini.

Dengar, sebenarnya tidak masalah jika kita merasa emosional terhadap sesuatu dan kadang-kadang ingin bereaksi meledak-ledak. Tapi cara seperti itu tidak bisa mengatasi emosi kita. Biarkan diri kita untuk menemukan apa yang membuat marah, lalu temukan cara-cara yang konstruktif untuk mengekspresikan dan menanganinya agar bertahan dalam jangka panjang.

Marah terhadap sesuatu hal yang sangat mengganggu sebetulnya normal saja. Tapi kalau untuk hal-hal kecil? Stres yang berlebihan tidak pernah membuat situasi menjadi lebih baik, namun sebaliknya. Meski ungkapan marah bisa melepaskan ketegangan saat itu, namun cara ini tidak bisa memecahkan sumber stres yang sebenarnya.

Akibatnya, kebahagiaan kita sering terrenggut gara-gara stres berkepanjangan. Tidak jarang yang bertahan hingga level depresi, sampai berpikir ""Mengapa saya harus bernasib buruk seperti ini?" atau "Ini selalu terjadi pada saya" dan pikiran-pikiran lain yang justru menciptakan lebih banyak stres dan kecemasan dalam hidup mereka.

Untuk mengatasinya, Anda harus ketahui dulu apa pemicunya. Saat kita mengetahui apa pemicu kemarahan, maka kita lebih mudah dalam mengendalikan diri. Kalau kita tidak bisa sepenuhnya menyadari apa pemicu kemarahan kita, mungkin mengingat kejadian minggu lalu dan hal-hal yang mengesalkan akan membantu. Identifikasikan hal-hal yang dirasa paling mengganggu.

Jika Anda dapat menemukan apa yang memicu kemarahan Anda dan memahami situasi di sekitar pemicu tersebut, Anda mungkin dapat mengelola diri sendiri untuk bisa bersikap lebih baik saat sesuatu yang buruk kembali mengganggu. Sangat penting untuk melihat ke belakang, bukan untuk menghukum diri sendiri karena telah berreaksi berlebihan, tetapi untuk belajar dari pengalaman. Tanyakan kepada diri Anda seperti, “Mengapa saya melakukan itu?” dan “Apa yang bisa saya lakukan dengan cara yang berbeda?” 

Ingat, reaksi berlebih kadang terjadi ketika kita fokus pada diri kita sendiri dan emosi kita sendiri. Tak satu pun dari kita berhak atas kehidupan yang sempurna. Dengan meluangkan waktu untuk mengelola ekspektasi kita, kita dapat mengurangi kemungkinan reaksi berlebihan terhadap ketidaksempurnaan.

Dan segera tuntaskan apapun yang mengganggu dan membuat tidak nyaman di masa lalu. Jika tidak, maka bisa dipastikan Anda akan terus bereaksi berlebihan pada hal-hal kecil. Saat hal-hal tidak berjalan sesuai keinginan Anda, Anda akan lebih mudah kehilangan kesabaran.

Untuk itu cobalah untuk mengelola diri Anda dengan kiat-kiat di bawah ini, sehingga Anda dapat secara tepat menanggapi situasi yang muncul dalam hidup Anda, satu per satu.

Luangkan waktu sejenak: Perhatikan perubahan di dalam diri Anda (ketegangan di leher, pipi yang panas, denyut jantung yang tinggi). Tetap bernafas dalam-dalam, lalu dinginkan.

Berpikir rasional: Pikirkan tentang apa yang baru saja terjadi secara rasional dengan membawa diri Anda lebih dekat dengan kebenaran objektif ketimbang pengalaman subjektif Anda. 

Bertindak: Ekspresikan diri Anda dengan pernyataan "Saya", atau hapus diri Anda dari situasi tersebut. Jika Anda masih kesal, temukan cara untuk menyalurkan kembali bagaimana perasaan Anda.


(Fadhil Nugroho Adi/CN41/SM Network)