Stunting Masih Jadi Masalah, Konsumsi Asam Amino Lengkap Jadi Kunci

- Senin, 30 Januari 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi anak bebas stunting. (foto freepik/jcomp)
Ilustrasi anak bebas stunting. (foto freepik/jcomp)

SUARAMERDEKA.COM - Hingga saat ini, stunting masih menjadi masalah bagi bayi dan anak Indonesia.

Kondisi tersebut harus segera dituntaskan karena stunting menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045.

Presiden Joko Widodo juga meminta setiap kepala daerah agar bisa menekan angka stunting di daerah masing-masing, demi menuju Indonesia Zero stunting pada 2030.

Baca Juga: Sinopsis Ikatan Cinta 30 Januari 2023: Lebih Kuat, Reyna Beri Nasehat soal Ibu ke Teman-temannya

Pemerintah menargetkan prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen.

Adapun angka stunting di tahun 2021 sebesar 24,4 persen, sehingga untuk mencapai target tersebut diperlukan penurunan 2,7 persen setiap tahun.

Prof. dr. Damayanti Rusli Sjarif, Ph.D, Sp.A(K) selaku Ketua Satgas stunting Ikatan Dokter anak Indonesia (IDAI) mengaku optimistis Indonesia mampu mencapai target.

Baca Juga: Pelemparan Bus Tim Persis Solo, Gibran Singgung Tragedi Kanjuruhan

Syaratnya, kata Guru Besar Ilmu Kesehatan anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, asal konsisten menjalankan konsep yang terbukti secara ilmiah (scientifically proven).

Hasil penelitian membuktikan zat makanan terpenting untuk mencegah stunting adalah protein.

"Kunci menurunkan stunting adalah mengonsumsi asam amino esensial lengkap dan cukup yang bersumber dari protein hewani. Penelitian lebih jauh mengungkap bahwa pangan sumber protein hewani mengandung asam amino esensial yang lengkap dan bisa didapatkan dari susu, telur, ikan, ayam dan lainnya," ungkap Prof. Damayanti.

Baca Juga: Kerusuhan Berujung Perusakan Kantor, Arema FC Prihatin serta Ungkap Terbuka untuk Berdialog

Tidak semua balita pendek itu diklasifikasikan sebagai stunting, melainkan hanya yang mengalami kekurangan gizi berulang atau kronis.

Banyak hal akan dialami anak jika mengalami kekurangan gizi terus menerus, dimulai dari anak mengalami kenaikan berat badan yang tidak adekuat (memadai) atau dikenal dengan weight faltering.

Contohnya pada bayi berusia 0-3 bulan mengalami kenaikan berat badan kurang 750 gram/bulan, jika tidak dilakukan intervensi segera, lama-kelamaan berat badannya akan berkurang atau underweight.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X