Covid-19 Masih Eksis, Tetap Jangan Lupakan Hepatitis

- Rabu, 28 Juli 2021 | 17:44 WIB
Tim Vaksinasi memberikan suntik vansin Hepatitis B kepada sejumlah prajurit TNI di Aula Kodim 0707/Wonosobo, Kamis (8/11) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Tim Vaksinasi memberikan suntik vansin Hepatitis B kepada sejumlah prajurit TNI di Aula Kodim 0707/Wonosobo, Kamis (8/11) siang. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
 
BANDUNG, suaramerdeka.com - Kendati masih pandemi Covid-19, masyarakat diminta tak melupakan penyakit lainnya yang juga membutuhkan atensi semacam hepatitis. Penyakit itu bisa dicegah di antaranya dengan gaya hidup sehat dan divaksin.
 
"Hepatitis perlu dipikirkan pula, jangan ke depannya jadi masalah, karena Indonesia termasuk negara endemis," kata Direktur Pemasaran & Litbang Bio Farma, Sri Harsi Teteki secara daring dalam rangka peringatan "World Hepatitis Day 2021 : Hep Can’t Wait", Rabu (28/7).
 
Dia tak menampik bahwa pandemi telah menyebabkan banyak fokus tersita dalam proses pengendaliannya. Hanya saja, hepatitis perlu pula dipahami sehingga masyarakat pun bisa mengambil langkah yang diperlukan.
 
 
Merujuk data, hepatitis menyebabkan kematian 1,1 juta pertahunnya. Prevalensinya adalah 10 persen dari penduduk dunia sehingga sekitar 800 juta jiwa terdiagnosis terpapar dengan 22 persen di antaranya menjalani pengobatan.
 
Di Indonesia, jumlah keseluruhan kasus penyakit peradangan hati itu mencapai 7,1 persen terutama hepatitis B. Rasio ini setara dengan sekitar 18 juta jiwa plus prevalensi pada hepatitis C mencapai 2,5 juta orang.
 
"Namun tak menutup kemungkinan, ketika dieksplor lebih jauh, angkanya bisa lebih besar lagi," kata Kepala Divisi Retail dan Pelayanan BF, dr Mahsun Muhammad.
 
Menurut dia, hepatitis bisa menular mulai dari makanan hingga hubungan seks. Untuk pengobatan, disebutnya, keberhasilannya berbeda-beda karena belum ada proses yang mencapai 100 persen,  di samping biaya terapi tinggi, 
 
 
"Mereka yang akut bisa sembuh tapi juga bisa jadi pengidap, atau sirosis, kerusakan liver. Bahkan selama 30-50 tahun tetap bertahan dengan sirosis tapi tanpa gejala berat yang bisa saja berlanjut jadi kanker hati dengan sel yang sudah menyebar," katanya.
 
Karenanya, Kepala Bagian Operasional Pelayanan BF, dr Erwin Setiawan menambahkan bahwa masyarakat perlu melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjangkit penyakit tersebut.
 
"Bukan apa-apa, banyak yang datang untuk penanganan itu stadiumnya sudah akhir. Muntah darah, sudah sirosis. Tak tertangani dengan baik potensinya bisa jadi kanker. Jadi penyakit ini silent killer," jelasnya.
 
Untuk itu, sebagai bagian dari upaya pencegahan, mereka mengharapkan masyarakat bisa semakin meningkatkan gaya hidup sehat dan menjaga perilaku.
 
Untuk vaksinasi, langkah ini sudah bisa dilakukan semenjak bayi tanpa menutup kesempatan mereka yang sudah dewasa untuk mendapatkan akses tersebut. 
 
"Itu bisa diukur kadar kekebalannya, vaksinasi sendiri bukan untuk diri sendiri tapi mengingatkan bahwa hepatitis itu mampu menularkan," jelas Sri Harsi.dwi
 

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

PAP Smear, Metode Membantu Deteksi Kanker Serviks

Rabu, 22 September 2021 | 07:12 WIB

Anak-anak Juga Bisa Terserang Kanker, Kenali Jenisnya

Selasa, 21 September 2021 | 22:57 WIB

Lima Cara Mudah Tingkatkan Stamina Otak

Selasa, 21 September 2021 | 07:15 WIB

Karies Jadi Momok, Dokter Gigi Didorong Berinovasi

Selasa, 21 September 2021 | 06:55 WIB

Hindari Lima Kesalahan Ini Saat Mencuci Muka

Senin, 20 September 2021 | 09:18 WIB

Tak Hanya Minum Air Hangat, Berikut Tips Atasi Flu

Minggu, 19 September 2021 | 20:07 WIB

Sering Telat Makan? Awas Bahaya Ini Mengintai Anda

Minggu, 19 September 2021 | 10:58 WIB

Ini Tiga Mitos Diet Sesat yang Perlu Kamu Tahu

Sabtu, 18 September 2021 | 10:12 WIB
X