Minimnya Akses Kesehatan Jiwa dan Stigma Masyarakat, Perparah Kasus Depresi yang Memicu Bunuh Diri

- Senin, 12 September 2022 | 05:05 WIB
Ilustrasi depresi pemicu kematian atau aksi bunuh diri. (Hasty Words/Pixabay)
Ilustrasi depresi pemicu kematian atau aksi bunuh diri. (Hasty Words/Pixabay)
 
SEMARANG, suaramerdeka.com- Semakin banyaknya ditemui kasus depresi memicu aksi bunuh diri menjadi keprihatinan banyak kalangan.
 
Minimnya akses kesehatan jiwa dan stigma di masyarakat jadi salah satu faktor yang memperparah kondisi jiwa pasien hingga memicu bunuh diri.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setiap tahun 703.000 orang bunuh diri dan masih banyak lagi yang melakukan percobaan bunuh diri.
 
 
drg Vensya Sitohang, M.Epid, Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengatakan, Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang diperingati setiap 10 September sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat.
 
Sangat penting menjaga kesehatan jiwa untuk mencegah pikiran atau tindakan bunuh diri.
 
"Bunuh diri dapat dicegah, oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan yang komprehensif melibatkan berbagai pihak," kata Vensya dalam webinar awam bertemakan Menyalakan Harapan Bagi Individu Depresif Bunuh Diri Melalui Tindakan Kolaboratif yang digelar PT Johnson & Johnson Indonesia.
 
 
Gangguan depresi mayor dengan pikiran hingga perilaku bunuh diri dapat ditangani dengan benar oleh tenaga medis atau tenaga kesehatan jiwa profesional.
 
Keluarga dan pendamping juga turut berperan penting dalam kesembuhan pasien.
 
Sementara itu, Pakar Kesehatan Jiwa dokter Lahargo Kembaren, Sp.KJ menambahkan, depresi adalah gangguan mental serius yang bisa berakibat fatal bagi pengidap maupun keluarganya.
 
 
Depresi sering kali menjadi lebih buruk bila tidak diobati, serta mengakibatkan masalah emosional, perilaku dan kesehatan yang memengaruhi setiap area kehidupan pengidapnya.
 
"Hidup dengan depresi memang berat, tetapi pengobatan dapat membantu untuk meningkatkan kualitas hidup pengidapnya," kata Lahargo.
 
Menurutnya, dengan menemui ahli medis untuk meminta beberapa metode pengobatan membuat kondisi lebih baik.
 
 
Apabila depresi masih tergolong ringan, perawatan diri sendiri mungkin masih bisa membantu.
 
Jika perawatan diri sendiri sudah tidak efektif, pengidapnya mungkin memerlukan konseling psikiater atau obat yang diresepkan dokter.
 
 
Dalam diskusi yang dihadiri lebih dari 340 peserta juga diketahui bahwa kesehatan jiwa berdampak pada kesehatan fisik, sosial, dan ekonomi individu dan masyarakat di seluruh dunia.
 
 
Lebih dari tiga perempat orang yang menderita penyakit jiwa tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah dimana akses untuk perawatan kesehatan jiwa yang berkualitas sangat terbatas.
 
Bahkan lebih dari 75 persen orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan perawatan sama sekali.
 
Dark catatan WHO juga, setiap tindakan bunuh diri adalah tragedi yang mempengaruhi keluarga, komunitas dan seluruh negara dan memiliki efek jangka panjang pada orang-orang yang ditinggalkan.
 
 
Kasus bunuh diri terdapat di seluruh rentang usia dan merupakan penyebab kematian keempat di antara usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019.
 
Bunuh diri tidak hanya terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi merupakan fenomena global di seluruh wilayah dunia.
 
Faktanya, lebih dari 77% kasus bunuh diri global terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019.
 
 
Selama lebih dari 60 tahun, Johnson & Johnson telah berdedikasi untuk meningkatkan tingkat kesembuhan penderita gangguan jiwa.
 
Selama lebih dari setengah abad terakhir, Janssen Pharmaceutical Companies of Johnson & Johnson telah menemukan, mengembangkan, dan meluncurkan banyak perawatan inovatif untuk kondisi yang memengaruhi otak dan sistem saraf pusat.
 
Dan memperluas akses ke perawatan kesehatan mental untuk populasi yang paling rentan dan kurang terlayani di dunia, dimulai di Rwanda.
 
 
Selain itu, Johnson & Johnson mendukung program kesehatan mental yang menyediakan sumber daya untuk mendukung petugas kesehatan garis depan di seluruh dunia. 
  
Devy Yheanne, Communications & Public Affairs Leader of Johnson & Johnson Pharmaceutical Indonesia & Malaysia menjelaskan, sangat penting memberikan edukasi pada masyarakat awam untuk meningkatkan pengetahuan mengenai Gangguan Depresi Mayor (Major Depressive Disorder/MDD) dengan keinginan untuk bunuh diri.
 
Pendidikan dan pengetahuan mengenai kesehatan jiwa sangat diperlukan untuk menghapus stigma negatif yang ada di masyarakat.
 
 
Hal ini penting untuk mendukung kesembuhan pasien dimana banyak penderitanya berusia produktif.
 
Devy menambahkan, data dari White Paper mengungkapkan bahwa Asia Pasifik memiliki tingkat penyakit depresi dan penyakit jiwa yang jauh lebih tinggi daripada bagian lain dunia.
 
Dokumen tersebut menyoroti bahwa orang yang hidup dengan depresi 40 persen kurang produktif daripada individu yang sehat.
 
 
Sedangkan harapan hidup seseorang dengan MDD adalah 20 tahun lebih pendek dari rata-rata.
 
dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ menambahkan, Kemenkes sudah menyusun pedoman penanggulangan bunuh diri untuk mengurangi sepertiga angka kematian akibat bunuh diri pada tahun 2030 (sebagai salah satu indicator SDG).
 
Selain itu kasus bunuh diri pada remaja juga menjadi prioritas untuk dilakukan intervensi dini dan pengenalan faktor risiko bunuh diri pada remaja.

Editor: Modesta Fiska

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X