Cegah Stunting, BKKBN Jalin Kerja Sama dengan Danone Indonesia

- Kamis, 8 Juli 2021 | 06:30 WIB
Penandatanganan MoU antara BKKBN dengan Danone terkait penanganan stunting. (suaramerdeka.com / dok)
Penandatanganan MoU antara BKKBN dengan Danone terkait penanganan stunting. (suaramerdeka.com / dok)

JAKARTA, suaramerdeka.com – Target penanggulangan hambatan kesehatan seperti stunting menjadi semakin terbebani di tengah pandemi.

Padahal, pemerintah sedang mencanangkan target penurunan angka balita stunting menjadi 14 persen pada 2024.

BKKBN merupakan badan yang telah ditunjuk oleh Presiden Republik Indonesia sebagai Ketua Pelaksana Program Percepatan Penurunan Stunting pada 25 Januari 2021 lalu.

Penurunan angka stunting tentu bukan menjadi tanggung jawab satu instansi, melainkan dibutuhkan kerja sama multipihak untuk mempercepat upayanya, terlebih di tengah pandemi.

Maka dari itu, BKKBN dan Danone Indonesia menandatangani nota kesepahaman dan melakukan sinergi program strategis kedua pihak untuk mencegah stunting.

Baca Juga: Ruang Fiskal Terbatas, BKKBN Tetap Lakukan Intervensi Penanganan Stunting dengan Tertib 

Kepala BKKBN Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) menuturkan, tantangan yang serius bagi bangsa untuk menciptakan generasi yang unggul, bahwa kesempatan untuk memetik bonus demografi itu tidak lama.

Jadi, kata dia, sekarang Indonesia ketika masuk di dalam Window Opportunity itu dibutuhkan generasi yang unggul, yang sehat dan tidak stunting.

"Itu real betul-betul dibutuhkan dan memang sekarang ini waktunya, karena kalau sekarang ini tidak mendapatkan kualitas SDM yang baik, ketika kemudian kita sudah tersusul dengan kondisi demografi populasi lansia jauh lebih besar, maka permasalahaannya sudah berubah dan tidak bisa lagi dikoreksi apabila ada kekurangan. Maka ini penting sekali dan Bapak Presiden memberi perhatian besar pada kualitas SDM kita“, tutur dokter Hasto.

“Bicara masalah gizi, maka ada hal yang serius, yaitu stunting angka kita masih 27,7 persen, kemudian anemia kekurangan zat besi itu masih sangat dominan padahal anemia ini sangat mudah dikoreksi, tapi kalau kita lihat sekarang ini ibu hamil bisa mencapai 48 persen anemia berdasarkan Riskesdas tahun 2018”, tambah dokter Hasto.

Halaman:

Editor: Andika Primasiwi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lima Cara Mudah Tingkatkan Stamina Otak

Selasa, 21 September 2021 | 07:15 WIB

Karies Jadi Momok, Dokter Gigi Didorong Berinovasi

Selasa, 21 September 2021 | 06:55 WIB

Hindari Lima Kesalahan Ini Saat Mencuci Muka

Senin, 20 September 2021 | 09:18 WIB

Tak Hanya Minum Air Hangat, Berikut Tips Atasi Flu

Minggu, 19 September 2021 | 20:07 WIB

Sering Telat Makan? Awas Bahaya Ini Mengintai Anda

Minggu, 19 September 2021 | 10:58 WIB

Ini Tiga Mitos Diet Sesat yang Perlu Kamu Tahu

Sabtu, 18 September 2021 | 10:12 WIB

Mengenal Penyakit Roscea, Kerap Menyerang Kulit Wajah

Kamis, 16 September 2021 | 10:39 WIB

Kulit Kamu Berminyak? Yuk Simak Tips untuk Merawatnya

Kamis, 16 September 2021 | 09:48 WIB

Masa Pandemi Covid-19, Bertahan dengan Pangan Lokal

Selasa, 14 September 2021 | 21:29 WIB
X