Tes Deteksi Dini TBC Belum Direkomendasikan, WHO Sebut Tingkat Akurasi Belum Bagus

Red
- Rabu, 23 Juni 2021 | 17:22 WIB
Tuberculosis/Foto ISGlobal
Tuberculosis/Foto ISGlobal


JAKARTA, suaramerdeka.com - Tuberkolusis (TBC) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, berdampak besar terhadap pasien serta keluarganya.

Sebagian dari masyarakat kita masih menganggap penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Oleh karena itu, ada banyak tantangan dalam penanggulangan penyakit ini. Salah satunya, hambatan ekonomi yang membuat pasien memilih untuk tidak berobat atau malas kontrol, juga stigma dan diskriminasi yang dialami pasien.

Melihat dampak yang besar dari penyakit ini, apakah ada cara deteksi dini TBC seperti tes rapid yang sekarang diterapkan untuk mendeteksi COVID-19 di era pandemi?

Baca Juga: Kasus Covid-19 Kota Semarang Tembus 2.000, DPRD: Jangan Kesampingkan Penyakit Lain

Kepala Subdit Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Imran Pambudi dalam webinar, Rabu 23 Juni 2021, seperti dikutip dari Antara mengungkapkan, secara teori penyakit TBC bisa disembuhkan, "tapi belum direkomendasikan oleh WHO karena tingkat akurasinya belum bagus."

Indonesia menyumbang dua pertiga kasus TBC global yaitu di peringkat kedelapan negara di dunia. Indonesia ada di posisi kedua setelah India dengan estimasi kasus 845.000 dengan kematian 98.000 per tahun.

Dari estimasi kasus tersebut, sebagian belum diketahui karena tidak ternotifikasi maupun tidak terdeteksi. Pasien yang tidak ternotifikasi adalah mereka yang sudah mengakses layanan kesehatan, namun belum masuk ke dalam sistem catatan pelaporan.

Baca Juga: Lupakan Euforia MotoGP Jerman, Marquez Alihkan Fokus ke Sirkuit Assen Belanda

"Sebagian besar di swasta, maka kita harus tegakkan aturan pelaporan," katanya.

Pada kasus-kasus yang belum terdeteksi, akan ada investigasi bila ada laporan mengenai kasus tuberkolusis. Akan ada kunjungan ke rumah pasien dan anamnesis serta pemeriksaan menyeluruh bila ada gejala-gejala TBC.

Pandemi COVID-19 menjadi tantangan dalam penanggulangan TBC. Menurut studi yang dilakukan oleh Stop TB Partnership bersama dengan Imperial College London, Avenir Health, Johns Hopkins University dan USAID, menunjukkan bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan kemunduran capaian program TBC di seluruh dunia ke tingkatan lima hingga delapan tahun ke belakang.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Manfaat Buah Lemon yang Perlu Diketahui

Sabtu, 25 September 2021 | 22:49 WIB

Ini Manfaat Konsumsi Buah Nanas

Sabtu, 25 September 2021 | 09:54 WIB

Dokter Tirta: Minum Kopi Beri Impact Positif bagi Tubuh

Kamis, 23 September 2021 | 23:47 WIB

Tips Menjaga Kesehatan Mata dari Paparan Sinar Gadget

Kamis, 23 September 2021 | 23:09 WIB

Ini Dia Manfaat Kunyit bagi Kesehatan

Kamis, 23 September 2021 | 22:53 WIB

PAP Smear, Metode Membantu Deteksi Kanker Serviks

Rabu, 22 September 2021 | 07:12 WIB

Anak-anak Juga Bisa Terserang Kanker, Kenali Jenisnya

Selasa, 21 September 2021 | 22:57 WIB

Lima Cara Mudah Tingkatkan Stamina Otak

Selasa, 21 September 2021 | 07:15 WIB
X