Gadis 21 Tahun Stroke hingga Koma 2 Tahun, Begadang jadi Kebiasaan, Ahli Medis: Waspadai Kematian Dini

- Selasa, 7 Juni 2022 | 15:44 WIB
Gadis 21 tahun ceritakan oengalamannya mengalami strok dan koma, karena begadang (IG statusfakta) (NurCahyo)
Gadis 21 tahun ceritakan oengalamannya mengalami strok dan koma, karena begadang (IG statusfakta) (NurCahyo)

SUARAMERDEKA.COM - Seorang gadis berusia 21 tahun menceritakan kisahnya mengalami stroke hingga koma selama dua tahun. Video tentang kisahnya tersebut bahkan kini viral di media sosial.

Diawali dari kebiasaanya begadang dan baru tidur pagi setelah shalat subuh yang sudah dijalaninya selama lebih dari satu tahun.

Hal itu makin diperparah dengan pandemi COVID-19. Akibatnya, tubuhnya terus melemah dan membuatnya kesulitan berjalan dan beraktivitas.

Baca Juga: 8 Kesaktian Pemilik Khodam Ular Badarawuhi, Ternyata Jago Memuaskan Pasangan, Cek juga Ciri-Cirinya!

“Guys ini foto aku pas lagi ulang tahun dan di RS, posisinya abis koma, kenapa koma? Karena di pembuluh darah otakku itu ada perdarahan, jadi ada stroke," cerita pengunggah video, dilansir dari Instagram statusfakta.

Begadang dan kurang tidur secara ilmiah telah terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Penelitian dari Warwick Medical School yang diterbitkan dalam European Heart Journal pada 2011 lalu menunjukkan bahwa kurang tidur yang berkepanjangan dan pola tidur yang terganggu dapat memiliki implikasi kesehatan jangka panjang yang serius.
.
Peneliti telah menghubungkan kurang tidur dengan stroke, serangan jantung dan gangguan kardiovaskuler yang sering mengakibatkan kematian dini.

Baca Juga: Jago Berhemat, Cari 5 Zodiak Ini dan Minta Saran Bagaimana Mengatur Keuangan

“Jika Anda tidur kurang dari enam jam per malam dan mengalami gangguan tidur, Anda memiliki peluang 48 persen lebih besar untuk meninggal akibat penyakit jantung dan 15 persen lebih besar kemungkinannya terkena penyakit jantung dan meninggal karena stroke," jelas Profesor Francesco Cappuccio dari University of Warwick Medical School dikutip dari Science Daily.

Profesor Cappuccio dan rekan penulis Dr Michelle Miller, dari University of Warwick, melakukan program penelitian yang menindaklanjuti bukti dari tujuh hingga 25 tahun dari lebih dari 470.000 peserta dari delapan negara termasuk Jepang, AS, Swedia, dan Inggris.
.
Dr Miller menjelaskan tidur pendek terlalu singkat menghasilkan hormon dalam tubuh yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, dan kondisi lain seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol, diabetes dan obesitas.

Halaman:

Editor: Edyna Ratna Nurmaya

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ini Segudang Manfaat Jus Stroberi!

Sabtu, 28 Januari 2023 | 22:34 WIB

RS Kusuma Pastikan Layani Pasien Peserta BPJS!

Kamis, 26 Januari 2023 | 17:29 WIB
X